14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

5 Faktor Eksternal yang Paling Pengaruhi Pola Pikir Anak

5 Faktor Eksternal yang Paling Pengaruhi Pola Pikir AnakFiqhislam.com - Tak seperti orang dewasa, anak-anak yang berada pada usia emas yaitu 0-6 tahun memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai informasi ke dalam pikiran bawah sadar mereka. Informasi yang masuk ke pikiran bawah sadar anak akan membentuk perilaku, kebiasaan hingga karakter anak di masa mendatang.

Karena itu penting bagi orang tua untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pikiran bawah sadar anak-anak tersebut dan memastikan informasi yang terserap baik untuk perkembangan dan perilaku anak nantinya. Berikut ini ialah lima faktor eksternal yang paling mempengaruhi pikiran bawah sadar anak-anak menurut pakar manajemen stres dan hypno parenting Kirdi Putra.

Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan kepribadian anak sejak dini. Biasanya, orang tua akan membimbing anak-anak mereka dengan nasihat dan perkataan. Akan tetapi, tak jarang orang tua lupa bahwa anak-anak, khususnya di usia emas, akan lebih banyak meniru langsung perilaku orang tua.

Kirdi mencontohkan, orang tua pasti mengedukasi anak mereka untuk patuh dan menjunjung tinggi kejujuran. Akan tetapi di saat yang sama ada orang tua yang memberikan contoh langsung yang berlawanan dengan nilai tersebut, seperti memasuki jalur yang dilarang atau melanggar lalu lintas ketika mengantar anak mereka ke sekolah dengan kendaraan pribadi.

Perkataan dan perilaku yang berbeda dari orang tua ini dapat memberikan edukasi yang kurang baik bagi anak. Selain dapat menimbulkan kebingungan, anak dapat meniru perilaku kurang baik orang tua yang ia lihat langsung. Pasalnya, di usia emas anak-anak akan terbentuk dari berbagai informasi yang mereka dengar, lihat dan rasakan secara sadar atau pun tidak.

"Cukup bahaya ketika apa yang disampaikan dan dilakukan oleh orang tua berbeda," terang Kirdi saat ditemui dalam peresmian Daycare Unilever di Graha Unilever.

Pendidikan
Ada masa di mana anak-anak tak lagi hanya berinteraksi dengan keluarga, tetapi bertemu dengan banyak orang di luar sana dan mempelajari berbagai nilai. Jika keluarga tidak membekali anak dengan pendidikan yang tepat sebagai pondasi, anak-anak akan menyerap seluruh informasi dan nilai yang ia dapatkan di luar rumah tanpa saringan atau filter.

"Di luar sana ada berbagai macam value, behavior dari banyak manusia. Kalau anak tidak dipersiapkan di keluarga, dia akan menyerap (informasi) suka-suka," ujar Kirdi.

Pemahaman Agama
Kirdi mengatakan tiap agama pada dasarnya mengarah kepada kebaikan. Akan tetapi kesalahan dalam memberikan pemahaman agama pada anak dapat membuat anak tersebut memiliki pemahaman yang berbeda yang kemudian berpengaruh pada pembentukan perilaku dan karakter mereka kelak.

Salah satu contoh kasus yang pernah ditangani Kirdi ialah seorang pria berusia 21 tahun dari keluarga religius yang menjadi gay. Ketika mengulik hingga ke masa kecilnya, Kirdi mendapati bahwa ketika pria tersebut masih kecil, keluarga mereka menanamkan nilai bahwa lawan jenis haram untuk disentuh dan dipandang dengan penyampaian yang kurang tepat. Cara yang keliru dalam menyampaikan pemahaman agama ini membuat pria tersebut kemudian tak mencari lawan jenis sebagai pasangan hidup, tetapi sesama jenis yang sejak kecil tidak dilabeli haram untuk disentuh dan dipandang.

"Bukan agamanya yang salah. Akan tetapi pemahaman agama yang disampaikan dengan cara yang salah bisa menimbulkan pemahaman berbeda. Hati-hati dengan itu," pesan Kirdi.

Media
Kirdi mengatakan seiring dengan berjalannya waktu, akses tak terbatas pada media dapat menjadi hal yang 'menakutkan' bagi perkembangan perilaku anak. Luasnya informasi yang tersedia di media, lanjut Kirdi, perlu didampingi oleh kehadiran orang tua agar informasi yang terserap anak dari media merupakan informasi yang baik untuk pembentukan perilaku dan kepribadian anak ke depannya.

"Challenge bagi anak-anak sekarang menakutkan sekali," ungkap Kirdi.

Lingkungan Sosial
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keragaman suku dan budaya. Oleh karena itu, Kirdi menilai penting bagi orang tua untuk memperkenalkan keragaman tersebut sejak dini kepada anak-anak. Dengan begitu, ketika anak-anak tersebut mulai beranjak dewasa, mereka tidak akan 'canggung' dengan banyaknya perbedaan yang mereka temui di lingkungan pergaulan mereka.

"Ketika anak tidak dibiasakan, akan terjadi disonansi kognitif atau pergulatan batin pada anak (dalam menyikapi keragaman)," kata Kirdi. [yy/republika]