14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Tahap Akhir Pebisnis Pornografi adalah Child Pornography

Tahap Akhir Pebisnis Pornografi adalah Child PornographyFiqhislam.com - Tingkat kekerasan seksual yang melibatkan anak di bawah umur baik sebagai korban maupun pelaku saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Banyak anak-anak yang terjerumus dalam pornografi yang akhirnya menjadi sasaran pebisnis industri pornografi.

Psikolog Anak dari Universitas Indonesia Elli Risman mengatakan, prostitusi online saat ini sudah bergeser dari adult pornography menjadi child pornography.

"Kenapa, karena sensasi yang diberikan kepada anak kecil itu kacau sekali, campur aduk emosi pikiran, itu campur aduk. Sehingga tahap akhir dari pebisnis pornografi adalah child pornography," ujar Eli dalam diskusi 'Save Child on The Ineternet' yang digelar Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Menurut Elli, kebanyakan anak di bawah umur yang menjadi sasaran adalah anak laki-laki di usia 8 tahun. Sebab, pada usia segitu, anak mudah didoktrin dengan pornografi.

"Kemudian anak yang boring, dia bosan dan lonely sehingga dia sangat mudah dijejali dengan internet, disajikan dengan kemudahan dalam berselancar di internet," ungkapnya.

Sehingga, pada tahap sekarang ini, pornografi internet menjadi kian agresif. "Bukan lagi kita yang mencari, tetapi pornografi yang mencari kita," imbuhnya.

Kemudahan mengakses teknologi memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak-anak. Bayangkan saja, hanya dengan modal pulsa Rp 4 ribu, anak-anak bisa mengakses situs-situs pornografi lewat telepon genggam.

"Dan itu anonymous, hanya Allah dan mata kita yang tahu apa yang kita akses. Di situ kita tidak tahu anak kita mengakses apa," lanjutnya.

Orang Tua Abai

Meningkatkan pornografi yang melibatkan anak di bawah umur, menurut Eli, tidak terlepas dari abainya orang tua. Kurangnya pengawasan orang tua menjadikan kasus pornografi ini menjadi semakin marak.

Salah satu abainya orang tua dalam pengawasan adalah memberikan handphone kepada anak-anak. Sementara orang tua tidak tahu bahayanya pengaruh gadget terhadap perkembangan anak-anak.

"Hulunya adalah karena kita abai, anak kita diberi handphone. Jadi semua provider juga harus bertanggung jawab," ujar Elli.

"Berikutnya kenapa ini semua terjadi, ini adalah karena orang tua abai. Tapi di atas semuanya, yang namanya pemerintah dan Kominfo juga harus jihad untuk menutup pornografi yang memangsa anak-anak kita, satu-satunya harta kita. Kalau Cina dan Korsel bisa kenapa kita tidak," jelas Elli. [yy/news.detik]