13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

With and Without Critics

With and Without CriticsDialog Penuh Kritik

“Kamu gambar apa sih, De. Kok kayak gini banget gak jelas?”

“Ini aku gambar rumah, Ma …”

“Rumah kok kayak begini, mana pintu dan jendelanya?”

“Mama, rumahnya bukan dilihat dari depan, tapi dari samping makanya pintu dan jendelanya gak kelihatan.”

“Terus ini apa yang bentuk kecil-kecil ini? Aneh lagi bentuknya.”

“Itu orang-orangnya, Mama. Orangnya kan lagi nunduk jadi kepalanya gak kelihatan.”

“Makanya yang jelas dan rapi kalau gambar. Mama kan jadi nggak ngerti ngeliatnya. Emang orangnya nunduk ngambil apa?”

“Lagi mungut sampah …”

“Ah ada-ada aja kamu, orang mungut sampah saja digambar….”

Dialog Pengembangan Kognitif Dan Motivasi

“Kamu gambar apa, De … ?”

“Ini aku gambar rumah, Ma …”

“Oh rumah ya … Coba kamu ceritakan rumahnya gimana.”

“Ini rumahnya bukan dilihat dari depan, tapi dari samping, pintu dan jendelanya gak kelihatan.”

“Ooo gitu cara melihatnya. Terus ini apa yang bentuk kecil-kecil ini?”

“Itu orang-orangnya, Mama. Orangnya kan lagi nunduk jadi kepalanya gak kelihatan.”

“Emang orangnya nunduk ngambil apa?”

“Lagi mungut sampah …”

“Buang sampahnya di sebelah mana? Bagus bener kamu gambar orang yang rajin jaga kebersihan …”

***

Silakan dirasakan bedanya kedua dialog tadi. Dalam banyak hal, dialog pertama respon atau jawaban anak tidak akan sepanjang itu. Anak yang dikritik umumnya menjadi defense (mempertahankan diri), sehingga ia tidak mau lagi bercerita banyak, diam atau bahkan enggan memperlihatkan hasil karyanya kepada kita karena malas dan kesal dikritik.

Dialog kedua berpeluang mengembangkan kemampuan anak untuk menguraikan pendapatnya dengan lebih detail. Bahkan bila pertanyaan-pertanyaan diajukan dengan baik juga bisa berfungsi sebagai sarana untuk mengajarkan kemampuan analisis, antisipasi dan juga problem solving.

Menutup dengan kesimpulan dan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan adalah cara yang baik untuk membuat anak mempertahankan perilaku yang positif.

Seringkali, orangtua model pertama itu pada awalnya tidak bermaksud untuk mengkritik atau merendahkan hasil karya anaknya. Namun habit atau kebiasaan berkata seperti itu membuat kata-kata kritik otomatis keluar begitu saja.

Bila kita menyadari bahwa cara seperti itu ternyata memberikan dampak yang jauh lebih buruk, maka belajar dan berlatih mengembangkan cara bicara yang lebih mendorong anak mengembangkan dirinya, adalah pilihan yang lebih baik dan masuk akal. [yy/islampos]

Oleh Yeti Widiati, Psikolog