30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Anak Terus Mendebat Balik? Ada Kiat Menyiasatinya

Anak Terus Mendebat Balik? Ada Kiat MenyiasatinyaFiqhislam.com - Anda mungkin pernah atau bahkan sering mengalami ini. Percakapan dengan anak anda yang semula santai tiba-tiba menjadi adu argumen panas.

Anda menjumpai diri anda dalam posisi debat kusir. Bahkan si kecil dengan anda saling menerkam tiap perkataan satu sama lain. Mungkin anda menyadari anak yang anda besarkan dan bakal menjadi pengacara sudah mempraktikkan kemampuannya kepada anda.

'Pengacara cilik' itu kadang bisa mendebat anda ketika ia seharusnya mematuhi anda, berargumen lebih panjang ketika anda mintai tolong sesuatu hal kurang dari semenit, dan menyodorkan bukti-bukti demi mematahkan larangan anda. Dalam dosis kecil ini bisa membuat anda bangga, tapi bila terjadi hampir setiap hari, maka situasi itu bisa memicu frustrasi dan menggangu keluarga.

Jadi bagaimana? Saran dari artikel Parent News satu ini layak disimak. Menurut situs online pengasuhan tersebut, memelajari bagaimana mengendalikan anak anda yang gemar berargumen jangan dianggap kesulitan besar. Anggapan itu justru membuat orangtua kian terbebani dan mudah terpancing sikap anak. Paling tidak dibutuhkan tiga komponen.

1. Kesediaan orangtua untuk mendengar anak sepenuhnya
2. Kesediaan untuk mempertimbangkan ulang aturan pengambilan keputusan yang semula dianggap kurang
3. Ketegasan anda untuk tetap berkata 'tidak' dengan segala konsekuensi ketika anda meyakini sesuatu itu salah dan tidak baik untuk anak anda dan tidak mengubahnya menjadi 'ya' sebagaimanapun si kecil merengek dan merajuk.

Ada banyak tipe anak yang kerap berargumen dan mendebat balik. Beberapa tipe itu terlihat nyata dan sebagian sedikit tersembunyi. Secara garis besar biasanya mereka cenderung melakukan dua hal

Si Pengulang
Anak kadang mengulang permintaan berkali-kali, lagi dan lagi, kadang di waktu yang aneh dan tidak tepat. Ia bisa menangkap peluang ketika orangtua tak sadar dan anda bisa melihat ketika kebiasaan itu tiba. Untuk satu ini, Parents News menyarankan ketegasan, terlebih bila anda tahu persis permintaan si bocah tidak bermanfaat dan tidak baik untuknya.

Dalam keadaan apa pun itu dan disertai argumen apa pun yang menemani permintaanya, jangan lagi mengulang jawaban. Anda cukup katakan satu kali kemudian menahan diri untuk mengatakan yang lain. Anda bisa memilih untuk melakukan aktivitas lain atau mengabaikan anak anda sesaat. Pada titik tertentu anak anda akan menyadari bahwa pengulangan berulangkalipun tak akan mematahkan anda untuk memenuhi keinginannya.

Si Pengeluh
Tipe ini adalah mereka yang sering tidak bahagia dengan keputusan orangtua dan ia memastikan anda tahu tentang itu. Ia mungkin akan menggerutu sepanjang melakukan tugasnya meski juga menyelesaikannya. Satu lagi yang disarankan adalah ketegasan. Akhirnya ia akan memahami ketika jumlah keluhan yang ia lontarkan tidak akan mengubah apa pun, ia akan berhenti. Satu hal lagi, bila keluhan si bocah berkembang menjadi umpatan kasar atau sikap tidak hormat maka waktunya untuk memberi konsekuensi.

Berhadapan dengan anak yang sulit segera mematuhi orangtua tak harus diwarnai dengan adu argumen. Alih-alih gunakan beberapa cara pencegahaan masalah bahkan sebelum dimulai. Mungkin, cara termudah adalah membuat aturan bersama. Anak-anak suka membicarakan banyak hal. Anda bisa menyodorkan pendapat bahwa debat yang baik butuh aturan jelas.

Bertutur dengan bahasa anak tanpa mengurangi ketegasan bisa membuat mereka tertarik untuk duduk bersama. Orangtua bisa menentukan plot di sini. Cara ini tentu saja manjur bila anda sedang tidak beradu argumen dengan mereka.

Beberapa aturan yang bisa didiskusikan bersama anak anda sangat jelas, yakni:

1. Tidak ada jeritan, teriakan dan pemanggilan nama langsung
2. Setiap orang boleh menuntaskan kalimat-kalimatnya
3. Suara harus tetap dalam tingkat normal, tidak meninggi, tidak merengek.
4. Tidak ada sarkasme dan pukulan walau sekecil apa pun
5. Tegaskan kepada si kecil ketika telah mencapai kesepakatan seperti 'Topik ini tak lagi terbuka untuk diskusi."

Cara lain untuk membuyarkan sebuah argumen adalah dengan menyodorkan pilihan. Ketika anak disodori pilihan, kenginannya untuk berargumen cenderung akan mengendur. Tentu mesti anda pahami bahwa ada saat anak tidak suka semua pilihan yang ditawarkan. Pada saat itu--ketika anda memahami betul tak ada opsi lain--orangtua tetap harus tegas tak ada pilihan ketiga.

Juga, perlu disadari orang tua, terlepas dari upaya terbaik yang sudah dilakukan, dalam situasi tertentu tetap ada argumen di mana anak menyerang balik dalam cara kasar dan sangat tidak hormat. Akar sikap itu biasanya karena sekali atau dua kali mereka pernah menyaksikan orang bersikap semcan itu, baik dari keluarga atau di luar rumah.

Kuncinya tentu kesabaran orangtua. Mereka yang tetap konsisten menunjukkan penolakan tegas terhadap sikap mendebat balik secara kasar dan tetap tak terpancing ikut kasar serta berteriak, cenderung tidak menghadapi kata-kata tak sopan terlalu sering.

Bila anda menjumpai anak anda bersikap kasar dan tidak sopan saat mendebat balik dan menyatakan bahwa itu gaya komunikasi keluarga, maka umumkan segara bahwa perilaku itu efektif tak berlaku lagi. Tentu orangtua pun harus sejalan dengan perkataan.

Keluarkan serangkaian konsekuensi yang bakal diterima anak begitu ia membantah dengan kasar. Setiap sanksi harus meningkat dengan keseriusan tingkat keburukan perilaku anak. Anda bisa memulai dengan mengambil beberapa keistimewaan, seperti tak ada lagi video games untuk hari itu, tak boleh menggunakan telepon selama sehari atau konsekuensi lain yang mengingatkan anak bahwa membantah tak akan menguntungkan bagi mereka.

Sangat krusial bagi anak untuk jelas terhadap setiap konsekuensi dan undang-undang apa yang berlaku di rumah terhadap perilaku kasar dan menyerang. Lagi-lagi, undang-undang itu tak hanya berlaku untuk anak, orangtua pun juga pada perahu yang sama

Perhatikan pula, kadang anak cenderung ingin mengetes aturan orangtua. Bisa jadi akan ada pertempuran kecil ke depan. Bila itu terjadi ada tiga tips untuk menghadapinya.

Pertama hentikan percakapan segera ketika anak anda mulai tidak hormat. Menyingkirlah dari mereka dan jangan izinkan diri anda terseret ikut dalam perilaku saling kecam. Begitu titik panas terlampaui dan anda berdua lebih tenang, kembalilah pada kesepakatan semula mengenai konsekuensi.

Beri penalti kepada anak. Ini harus dilakukan terutama kepada anak bertipe pembelajar visual. Hitung uang saku mereka dan bagi, misal menjadi empat bagian. Tempelkan setiap seperempat bagian di papan. Selama sepekan, ambil satu bagian seperempat setiap kali mereka membantah dengan kasar dan tidak hormat. Pada akhir pekan, uang saku mereka ditentukan oleh perilaku mereka. Ia bisa mendapat banyak atau sama sekali tak mendapa apa pun. Cara ini bisa anda terapkan.

Bila anak anda mengeluarkan umpatan dan frasa yang tak senonoh, ingatlah orangtua selalu memiliki porsi dan kesempatan untuk mendidik di saat anak sedang tak emosional. Jelaskan kepada anak anda mengapa frasa tertentu sangat tidak sopan dan melecehkan dan mengapa anda tak mengizinkan mereka menggunakan kata-kata itu. [yy/republika/foto: republika]