5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Waktu Singkat Bersama Keluarga Justru Tantangan

Waktu Singkat Bersama Keluarga Justru TantanganFiqhislam.com - Papa mana? Mama mana? Kerja. Itu yang paling sering kita dengar saat anak-anak perkotaan, terutama Jakarta, ketika ditanya soal orang tuanya pada saat jam kerja.

Kesibukan itu pasti membuat waktu berkumpul bersama keluarga sangat singkat. Bahkan, tak jarang saat orang tua pulang, anak-anak mereka sudah tidur. Berangkat kerja pun, anak-anak belum bangun. Waktu yang tersisa untuk keluarga, tinggal hari libur.

Tapi waktu yang sedikit itu tak harus menjadi kendala bagi anak-anak dan orang tua untuk akrab. Justru hal itu menurut sosiolog Universitas Indonesia Daisy Indira Yasmine menjadi tantangan untuk mengefisienkan saat kebersamaan yang singkat secara berkualitas.

"Waktu berkumpul yang kurang, itu tantangan warga perkotaan apakah keluarga tetap bisa menjadi agen sosialisasi primer bagi anak," kata Daisy di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, bukan durasi kebersamaan yang utama, tetapi yang terpenting adalah kualitas kebersamaan keluarga. Dikatakannya, cara pendekatan orang tua dengan anak juga tak kalah penting. Orang tua harus bisa menjadi teman bagi anak mereka.

"Harus persuasif, orang tua harus bisa menjadi teman, jangan malah anak-anaknya yang dipaksa mengikuti apa yang keluarga mau," katanya.

Dikatakannya, ketidakharmonisan keluarga akan membuat anak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain di lingkungan luar. Selain itu juga akan membuat anak mengalami krisis kepercayaan diri.

Bahkan kemungkinan terburuk bisa menyebabkan seseorang bunuh diri. "Yang paling buruk bila seseorang merasa kesepian karena rasa ikatan sosial dengan keluarga dan orang lain rendah, itu bisa membuat orang itu bunuh diri," katanya.

Derasnya arus informasi juga bisa memicu hubungan anak dan orang tuanya menjauh. "Terpaan teknologi, pulang sekolah, anak buka internet, twiter-an, main facebook," ujarnya.

Meski demikian, menurut Daisy, kemajuan teknologi tidak perlu ditakutkan selama orang tua bisa menanamkan pemahaman yang baik bagi anak, sehingga anak bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk. Dengan begitu, anak bisa memilih apa yang terbaik bagi dirinya berdasarkan penalarannya.

Menurut dia, kebersamaan orang tua dengan anak bisa dibangun dengan mengisi akhir pekan dengan hal-hal yang positif, mudah dan murah. "Akhir pekan yang berkualitas itu tidak harus mahal, tidak harus ke mal, mulailah di rumah membuat acara yang menyenangkan," katanya.

Dikatakannya, meski hanya meluangkan waktu bersama saat Sabtu dan Ahad, bila aktivitas keluarga menyenangkan bagi anak, maka itu akan membantu menguatkan hubungan emosional anak dan orang tua. [yy/metrotvnews/foto idprayoga.com]