fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Si Kecil Mendadak Menolak Dipeluk? Ini 8 Penyebabnya

Si Kecil Mendadak Menolak Dipeluk? Ini 8 Penyebabnya Fiqhislam.com - Mood anak-anak yang berusia balita mudah berubah dengan cepat. Seringkali balita mengambek dan menjauh dari orangtuanya, namun tak lama kemudian ingin dimanjakan.

Saat perubahan mood itu terjadi, orangtua bisa kebingungan terutama jika dia menjadi pemarah dan menolak untuk diajak 'berdamai' dengan berpelukan.

Menurut psikolog perkembangan anak Susanne Ayers Denham, cara yang tepat dalam menghadapi perubahan mood balita ini adalah dengan menunggu emosinya hingga reda, hingga ia berhenti marah dan bersikap angkuh. Selain menunggu, ada beberapa cara lain yang disarankan Denham.

Berikut ini penjelasan penulis buku ' Emotional Development in Young Children' itu mengenai kenapa balita bisa mendadak marah dan tips untuk menghadapinya seperti dijelaskannya pada Baby Center:

1. Mengalami Hari yang Tidak Menyenangkan
Layaknya orang dewasa, balita juga kandangkala menginginkan waktu untuk menyendiri. Meskipun permasalahan yang dialami balita tidak sebesar yang dihadapi orang dewasa, rasa frustasi dan kesepian karena dimusuhi teman bermainnya dapat membuat mereka ingin menyendiri dan menenangkan diri sejenak. Maka dari itulah, jangan heran jika buah hati tidak menginginkan pelukan atatupun perhatian dari orangtuanya.Tanggapi saja ia dengan memberinya waktu untuk menyendiri, dan katakan padanya bahwa Anda ada di sampingnya jika ia sudah merasa lebih baik dan membutuhkan Anda.

2. Baru Saja Reda Pasca Tantrum atau Mengamuk
Saat anak tantrum, orangtua biasanya akan mendisiplinkan mereka dengan memberikan time-out atau tidak memberikan apa yang diinginkan. Kondisi ini biasanya akan membuat balita cenderung marah dan mengambek. Ia merasa terluka dan ingin agar orangtua mereka mengetahuinya, sehingga menolak Anda peluk.

Salah satu penyebab lainnya anak yang baru reda dari tantrum menolak dipeluk adalah karena dia lelah. Marah- marah, berteriak-teriak atau bahkan berguling-guling yang umumnya dilakukan anak saat tantrum tentunya menguras tenaganya.

Seperti halnya orang dewasa yang marah ataupun kecewa ketika bertengkar dengan sahabatnya, dan membutuhkan waktu untuk mengembalikan perasaannya seperti semula, balita juga memerlukan waktu untuk menenangkan dirinya. Berilah ia waktu untuk menenangkan diri dan katakan padanya betapa besar kasih sayang anda terhadapnya.

3. Anak Marah dan Tidak Tahu Bagaimana Mengekspresikannya
Balita memiliki emosi yang kompleks. Mereka dapat mengekspresikan kekesalan, namun tidak dapat mengutarakannya seperti orang dewasa. Buah hati Anda hanya merasa marah, apabila orangtua mereka sibuk bekerja dan meninggalkannya dinas beberapa hari, ataupun ketika perhatian Anda tersita untuk adik kecilnya. Padahal sebetulnya ia hanya merasa rindu. Tanyakan apa yang ia rasakan dengan lembut,dan dengarkan penjelasannya agar ia dapat kembali seperti semula.

4. Menuju tahap Kemandirian.
Ketika balita menginjak usia tiga hingga empat tahun, ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan mainannya ketimbang orangtuanya. Ini menunjukan bahwa ia sedang berada pada tahap di mana ketertarikannya bermain dan belajar lebih besar ketimbang perhatian dari Anda. Ataupun ia sebenarnya hanya mengetes apakah sifat cueknya akan membuat orangtuanya berubah atau malah tetap memerhatikannya.

Tanggapi saja dengan memberikan ciuman atau pelukan Anda pada saat ia akan tidur di malam hari, bukan ketika ia sedang asyik bermain. Dengan demikian ia akan tetap merasakan kasih sayang orangtuanya dan mencari Anda di saat ia membutuhkan.

5. Mengambek Hanya pada Ayah atau Ibunya.
Kadangkala anak-anak hanya mengambek pada ayah atau ibunya. Hal ini merupakan fase normal yang dialami setiap balita, terutama jika salah satu dari orangtuanya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Ataupun ia meniru perilaku cuek Anda terhadap ayahnya, ketika sang ayah pulang setelah seharian bekerja. Jadi, luangkan lebih banyak waktu untuknya dan ubah perilaku Anda jika berada di depannya.

6. Cuek
Jangan heran dan bingung jika sang buah hati tidak mewarisi sikap perhatian dan hangat yang Anda miliki. Daripada sakit hati ataupun mengambek karenanya, lebih baik untuk menerima karakter buah hati Anda dan tetap menunjukan kasih sayang terhadapnya. Meskipun ia tergolong anak yang mandiri, sesekali balita tetap akan membutuhkan pelukan dan kehangatan orangtuanya terutama ketika ia sedang merasa sedih ataupun ketakutan.

7. Mengambek ketika Sakit ataupun Tidak Enak Badan
Jika balita tiba-tiba berubah menjadi sensitif dan mudah marah ketika sedang sakit ataupun tidak enak badan, periksa kondisi anak ataupun jika memang ternyata ia memang demam tinggi ataupun menunjukan gejala-gejala sakit lainnya, segera bawa dan periksakan balita Anda ke dokter spesialia anak.

8. Kemarahan yang Meluap-luap
Beberapa balita mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang berlebihan seperti memukul, menggigit dan juga mendorong apapun yang ia lihat. Atasi hal tersebut dengan cara menjelaskan bahwa Anda tidak menyukai ia melakukan hal kasar seperti itu dan akan menghukumnya jika melakukan kesalahan serupa.

Anda juga dapat meminta maaf jika melakukan kesalahan semisal berbicara keras dan kasar kepadanya serta berjanjilah bahwa Anda tidak akan mengulanginya lagi. Jelaskan pula kepadanya bahwa apa yang ia lakukan itu tidak baik dan dapat membahayakan dirinya dan orang di sekitarnya. Karena sebagai orangtua, seharusnya Anda yang mengatur emosi dan mengerti bagaimana cara untuk mengatasi dan mengembalikan balita seperti semula. [yy/wolipop/foto wolipop.com]