13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Sunat, Cara Gampang Hindari Infeksi Saluran Kemih

Sunat, Cara Gampang Hindari Infeksi Saluran Kemih  Fiqhislam.com - Libur panjang sekolah sebentar lagi datang. Bagi orangtua yang punya anak laki-laki, inilah saatnya menyunatkan 'sang jagoan.' Tak aneh, saat liburan, operator sunat bisa menangani puluhan hingga ratusan pasien khitan dalam sehari.

Tak hanya wajib hukumnya bagi umat Islam, sunat atau khitan bermanfaat juga bagi kesehatan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa khitan menurunkan risiko infeksi saluran kemih, kanker penis, serta menekan risiko pria terjangkit virus perontok kekebalan tubuh (HIV, human immunodeficiency virus). 

"Infeksi saluran kemih bisa terjadi akibat fimosis," kata dokter Santoso, operator sunat Rumah Sunatan Depok, Jawa Barat, seperti ditulis Majalah Tempo terbaru, yang terbit Senin kemarin. Tulisan bertajuk Membebaskan 'Pintu Air' menguak tentang bahaya fimosis. 

Fimosis berasal dari kata Yunani "phimos," yang berarti moncong. Ini adalah  kondisi terjadinya penyempitan atau perlengketan kulup dengan penis. Akibatnya, kepala penis tidak bisa keluar tidak bisa nongol semua. Kondisi ini membuat kotoran hasil pengeluaran kelenjar kulup menumpuk di sekitar kepala penis. Jika terus dibiarkan, kuman atau bakteri yang ngendon di kotoran akan merambat ke saluran kencing. Buntutnya, terjadilah infeksi saluran kencing yang kerap ditandai dengan rasa nyeri saat pipis dan demam.    

Agar kotoran tak memicu infeksi di saluran kemih, maka sunat menjadi penting. Sunat atau khitan alias sirkumsisi adalah tindakan memotong untuk menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup penis (kulup). Sirkumsisi berasal dari bahasa Latin, “circum” yang berati memutar dan “caedere” yang berarti memotong.

Gara-gara fimosis, Santoso pernah menemukan kasus anak yang mengalami kencing berdarah dan hernia. Fimosis biasa dialami anak hingga 3 tahun. Bila setelah usia ini kepala penis tak keluar juga, orang tua perlu waspada. Kasus fimosis memang cenderung meningkat. Penyebabnya, masih misterius. 

"Kini, fimosis saya temukan 6 dari 10 anak yang dikhitan," kata Santoso. Operator Pusat Khitan Paramadina, Jakarta, dokter Lukman Nurdin, juga kerap menangani kasus serupa.  Angkanya, 2 dari 10 anak yang khitan mengalami fimosis. [yy/
tempo.co]

{AF}Teknik Khitan, dari Dorsumsisi, Laser, hingga Klem

Teknik Khitan, dari Dorsumsisi, Laser, hingga KlemTeknik khitan terus berkembang sehingga orang tua bisa memilihkan teknik yang cocok untuk anaknya. Di antara teknik itu, yang cukup diminati pasien adalah klem (clamp) dengan berbagai jenisnya, electric cauter–yang sering disebut orang awam sebagai teknik laser, dan dorsumsisi–penyempurnaan dari teknik klasik tradisional.

Tulisan tentang sunat diungkap majalah Tempo edisi terbaru, yang terbit Senin kemarin, bertajuk Membebaskan 'Saluran Air'. Inilah di antara teknik khitan itu, silakan pilih yang mana untuk jagoan Anda?

1. Klem

Pasien dikhitan dengan alat bantu berupa klem sekali pakai. Klem terbuat dari plastik khusus yang bisa dipilih sesuai dengan ukuran penis. Pisau bedah untuk memotong kulup sekali pakai, tanpa jahitan, tanpa perban, dan pasien dapat beraktivitas seperti biasa pasca-khitan. Bius lokal suntik, perdarahan minimal, dan luka khitan tak ada masalah jika kena air. Klem dipakai dan baru copot setelah luka kering sekitar 3-6 hari setelah khitan. Pencopotan dilakukan dokter saat kontrol.

Menurut dokter Santoso, operator Rumah Sunatan Depok, Jawa Barat, teknik ini cocok untuk anak sampai usia 14 tahun. Anak berkebutuhan khusus, seperti hiperaktif dan autis, bisa ditangani, yang penting ada tenaga untuk menjaga agar si anak tidak banyak gerak. Pasien dengan penis kecil dan obesitas juga tak masalah.

2. Electric Cauter

Operator menggunakan alat khusus dengan gagang dan elemen logam pada ujungnya. Saat dialiri listrik, elemen akan panas dan memerah sehingga siap dipakai untuk memotong kulup. Bius lokal suntik, perdarahan minimal, jahitan minimal–bisa tanpa jahit pada bayi, dan pasien bisa beraktivitas seperti biasa. Cocok untuk semua umur anak. Pada pasien dewasa, jahitan sesuai keperluan.

Anak berkebutuhan khusus, seperti hiperaktif dan autis, tidak masalah, begitu juga pasien dengan penis kecil. Luka khitan tak boleh kena air minimal beberapa hari agar luka cepat kering. Tanpa alat yang menggantung pada penis seperti metode klem, menurut dokter Lukman Nurdin, operator Pusat Khitan Paramadina, Pengadegan Timur Raya, Jakarta, teknik ini tak membuat pasien ribet.

3. Dorsumsisi

Pemotongan kulit dilakukan dengan gunting atau pisau bedah medis, bukan welat atau sembilu dari bambu tajam laiknya teknik klasik. Bius semprot, pendarahan diusahakan seminimal mungkin, jahitan dan perban dibutuhkan. Luka khitan tak boleh kena air beberapa hari.

Pasca-khitan, seperti diungkap Bardo Djumeno, operator sunat di Juru Supit Bogem, Yogyakarta, pasien dipakaikan cawat dari kain mori katun sebagai penyangga penis agar tak banyak bergerak. Cocok untuk anak dan dewasa. Anak dengan penis kecil, hiperaktif, atau autis bisa ditangani. [yy/
tempo.co]{/AF}

.