10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Cegah Gigi Berlubang, Ini Jurusnya

Cegah Gigi Berlubang, Ini JurusnyaFiqhislam.com - Sebelum gigi berlubang, sebaiknya jaga kesehatan gigi dan mulut. Caranya, dengan menggosok gigi setiap hari sehabis makan dan sebelum tidur. "Karies terjadi karena rongga mulut tidak bersih. Awalnya rongga mulut yang asam membuat email gigi menjadi tidak kuat menjadi lemah," katanya.

Selain itu, untuk mencegahnya juga bisa dengan menggunakan flouride. Juga hindari makanan yang lengket, manis, dan yang mengandung sukrosa tinggi. Sebaiknya setelah mengonsumsi makanan tersebut segera minum air putih.

Ini penting karena jika gigi kita sudah berlubang dan dibiarkan begitu saja maka akan menjadi  faktor risiko/pemicu bagi infeksi di bagian tubuh lainnya seperti jantung, ginjal, sendi, pemicu kelahiran dini, dan bayi lahir dengan berat badan rendah. [yy/republika.co.id]

Jangan Remehkan Gigi Berlubang, Ini Bahayanya


Gigi Anda berlubang? Sebaiknya segera pergi ke dokter gigi. “Jika dibiarkan, da lam jangka panjang kondisi itu bisa memicu munculnya penyakit sistemik,” ujar drg Bambang Nursasongko SpKG(K).

Gigi berlubang besar yang tidak dibenahi tak ubahnya menahan borok menahun yang tidak sembuh. Kelak, bukan cuma abses atau nanah gigi saja yang akan menjadi masalah. “Kita harus mewaspadai ancaman fokal infeksi, yaitu infeksi kronis di suatu tempat yang memicu penyakit lain,” kata staf pengajar Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia ini.

Racun dan sisa kotoran maupun mikroba yang memicu infeksi pada gigi dan mulut dapat menyebar ke anggota tubuh lain. Penjalaran infeksi gigi bisa terjadi melalui beberapa cara. “Salah satunya melalui sirkulasi darah (hematogen), yaitu material infektif menyebar melalui sirkulasi darah dan menginfeksi organ lain,” ujar pendiri merangkap Kepala Jakarta Dental Specialist (JADES) ini.

Selain itu, transmisi dapat pula terjadi melalui aliran limfatik atau limfogen. Material infektif menjalar ke kelenjar limfa regional menuju organ tubuh lainnya. Lantas, bisa juga melalui perluasan langsung infeksi dalam jaringan. Material infektif menjalar ke dalam tulang rahang dan jaringan penyambung, kemudian terakumulasi di jaringan dan meluas terus hingga terhenti oleh barrieranatomik.

Penjalaran infeksi gigi penyebarannya juga bisa ke saluran cerna dan pernapasan. Material infektif tertelan dapat menimbulkan tonsilitis, faringitis, dan berbagai kelainan pada lambung. Selain itu, aspirasi material infektif dapat menimbulkan laringitis, trakeitis, bronkitis atau pneumonia. “Setidaknya, ada 41 penyakit yang bisa timbul akibat infeksi gigi,” kata Bambang.

Penyakit yang dimaksud, antara lain, sinusitis maksilaris, meningitis, kerusakan ginjal, dan rhematoid athritis. “Bahkan, infeksi dari gigi yang berlubang bisa menyebabkan kematian,” ujarnya menambahkan.

Untuk mengatasi gigi berlubang, dokter gigi akan mengeluarkan jaringan karies yang rusak. Selanjutnya, ia membersihkan jaringan atau infeksi tersebut. Setelah bersih, barulah diberikan obat. Jika sudah siap, jaringan yang rusak akan diisi kembali atau gigi yang berlubang akan ditambal.

Setelah ditambal, gigi harus selalu dibersihkan. Periksakan gigi paling tidak enam bulan sekali. Bolehkah gigi berlubang dicabut? Bambang mengatakan, sebaiknya gigi berlubang tidak dicabut. Sebab, pencabutan akan merusak struktur gigi. “Jika gigi bawah yang dicabut, maka gigi atas akan turun,” katanya. [yy/republika.co.id]

Gigi Anda Berlubang? Jangan Dicabut


Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Prof Dr Drg Melanie S Djamil, Mbiomed, menekankan,  sebaiknya gigi berlubang tidak dicabut tapi harus ditambal.  Ini untuk menjaga struktur gigi.

Jika gigi berlubang dicabut, lanjut Melanie, akan mengubah struktur gigi yang lainnya. Gigi yang berada di sebelah gigi yang dicabut tesebut akan bergeser memenuhi ruang yang kosong setelah pencabutan. "Jika akar gigi masih baik, pertahankan gigi dalam mulut itu lebih baik daripada dicabut," tegasnya.

Kenyataannya tidak sedikit pasien yang ingin giginya secepatnya dicabut karena tak tahan menahan nyeri gigi. Padahal, walaupun lubang pada gigi sudah mencapai akar, jika masih ada jaringan sehat, pasien tidak perlu mencabut giginya. 

Melanie menambahkan, selain akan merusak struktur gigi, pencabutan gigi juga akan berdampak pada sendi. Jika gigi yang sudah tanggal itu tidak segera diganti, ruang kosong pada gusi lama kelamaan akan mengganggu keseimbangan pengunyahan. Misalnya kita terpaksa mengunyah pada satu sisi. Ini akan berdampak pada kerusakan sendi rahang.

Jika gigi sudah terlanjur berlubang, Melanie berpesan, datang ke dokter gigi, dan pada bagian berlubang usahakan tidak ada sisa makanan yang tersisa di dalam gigi tersebut. Jika ada yang tersisa, sebaiknya congkel dengan air hangat. [yy/republika.co.id]