7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Kenali Ebola Virus dari Afrika

Kenali Ebola Virus dari Afrika

Fiqhislam.com - Beberapa negara Afrika sedang menghadapi masalah besar penyakit virus ebola. Apa sebenarnya virus tersebut dan bagaimana gejalanya?

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan apa sebenarnya virus ebola tersebut dan bagaimana gejalanya, Jumat (01/08/2014).

Istilah penyakit tersebut sebelumnya demam berdarah ebola (Ebola haemorrhagic fever), kemudian berubah menjadi penyakit virus ebola (Ebola Virus Disease/EVD), sesuai dengan ICD-10. Sejak pertama muncul, masalah besar penyakit mematikan tersebut terjadi di Afrika.

"Belum pernah ada masalah berarti pada manusia di luar Afrika, termasuk di Asia dan Indonesia. Namun, perkembangan epidemiologi penyakit ini di dunia terus diamati," tulis Tjandra.

Penyakit ini merupakan salah satu penyakit akibat virus yang paling mematikan bagi manusia. Virus ebola pertama kali muncul tahun 1976 ketika wabah ebola demam hemorrhagic di Zaire dan Sudan. Strain ebola yang pecah di Zaire memiliki salah satu tingkat fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, sekitar 90%. Virus bernama lembah sungai ebola di Republik Demokratik Kongo (dulunya Zaire).

Ada 5 spesies virus ebola, yaitu Bundibugyo, Pantai Gading, Reston, Sudan dan Zare. Spesies Bundibugyo, Sudan, dan Zaire adalah spesies yang dikaitkan dalam wabah besar virus ebola di Afrika yang menyebabkan kematian pada 25-90% kasus klinis.

Virus ebola menulat melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, dan jaringan orang terinfeksi. Penularan virus ebola juga telah terjadi pada hewan liar yang terinfeksi sakit atau mati (simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, kelelawar buah).

Kasus EVD dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat karena berpotensi menyebar dan memiliki angka kematian yang tinggi, yaitu dapat mencapai 90%. Kejadian luar biasa EVD merupakan peristiwa yang jarang terjadi dan EVD menjadi salah satu penyakit yang mendapatkan perhatian khusus dalam IHR (2005).

Periode inkubasi EVD dapat berkisar 2 sampai 21 hari, tetapi umumnya 5-10 hari. Gejala terjadi bervariasi dan sering muncul tiba-tiba. Gejala awal demam tinggi (setidaknya 38.8 C, 101.8 F), sakit kepala parah, sakit perut, lemah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, pendarahan internal dan eksternal. Gejala-gejala awal ini mirip dengan malaria, demam tipus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri lain.

Selanjutnya, gejala yang lebih serius adalah diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, mata merah, distension dan pendarahan arteriola sclerotic, petechia, penyakit ruam dan purpura.

Gejala lain sekunder termasuk hipotensi, hypovolemia dan tachycardia. Pendarahan interior disebabkan oleh reaksi antara virus dan platelet yang memproduksi bahan kimia yang akan dipotong sel ukuran lubang dinding kapiler. Kadang-kadang terjadi pendarahan internal dan eksternal dari lubang, seperti hidung dan mulut, atau dari luka-luka yang sembuh belum sepenuhnya. Ebola virus dapat mempengaruhi tingkat sel darah putih dan platelet dan mengganggu pembekuan darah.

Pada minggu kedua infeksi, demam akan berkurang atau mengalami kegagalan sistemik multi-organ. Tingkat kematian biasanya tinggi, dengan tingkat fatalitas kasus manusia berkisar 50–89%, tergantung spesies atau strain virus. Penyebab kematian, biasanya akibat kegagalan syok organ hypovolemic.

Penguatan pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi intervensi prioritas. Selain itu dilakukan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan diri mencegah penyebaran virus, seperti cuci tangan, cara merawat orang sakit secara aman, pemakaian alat pelindung diri saat bersentuhan dengan benda berpotensi terkontaminasi (darah dan cairan tubuh orang sakit) dan saat melakukan pembersihan lingkungan dan disinfeksi, serta cara pemakaman yang aman.

Berkaitan dengan hal tersebut berlangsung distribusi pedoman pencegahan dan pengendalian EVD bagi tenaga kesehatan, melatih staf dalam penemuan/deteksi kasus, penelusuran kontak dan tindak lanjut, manajemen kasus klinis, pencegahan dan pengendalian infeksi, pengambilan dan pengiriman spesimen, dan cara pemulasaraan jenazah kasus EVD secara aman.

Sementara itu, upaya peningkatan kesadaran masyarakat secara intensif melalui media massa, gerakan sosial dan komunikasi interpersonal, serta melibatkan operator telepon dalam mengirimkan promosi kesehatan melalui pesan singkat.

Situasi tersebut cepat. Jumlah kasus dan kematian, jumlah kontak yang berada di bawah pengawasan medis dan jumlah hasil laboratorium dapat berubah terpengaruh kegiatan surveilans ketat, pelacakan kontak, dan pemeriksaan laboratorium yang sedang berlangsung. [yy/inilah.com]

Jumlah Korban Tewas akibat Ebola 729 Orang

Laporan terkini dari Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dikeluarkan hari Kamis (31/7) selagi para pejabat di Sierra Leone dan Liberia bertindak memberlakukan langkah-langkah tegas baru untuk menghentikan penyebaran virus Ebola.

Presiden Sierra Leone Ernest Bai Koroma mengatakan pemerintah akan mengarantina daerah-daerah di mana penyakit ini ditemukan, membatasi pertemuan umum, memeriksa setiap rumah untuk mencari orang-orang yang tertular dan memeriksa secara seksama para penumpang di bandara utama negara itu.

Di Liberia, Presiden Ellen Johnson Sirleaf mengumumkan penutupan sekolah, pasar-pasar di sepanjang wilayah perbatasan, dan mengatakan semua fasilitas umum akan disterilkan dan dibersihkan dengan klorin agar bebas kuman pada hari Jumat.

Guinea memiliki korban kematian terbesar 339 orang akibat Ebola, disusul Sierra Leone 233 orang, dan Liberia 156 orang. Seorang laki-laki dengan kewarganegaraan ganda, Amerika dan Liberia, meninggal pekan lalu di Nigeria ketika baru tiba dari penerbangan yang singgah di Ghana dan Togo.

WHO mengatakan pihak berwenang Nigeria telah mengidentifikasi 59 orang yang kemungkinan melakukan kontak fisik dengan laki-laki itu sebelum ia meninggal.

Sementara itu, Amerika hari Kamis (31/7) mengeluarkan peringatan perjalanan ke Guinea, Sierra Leone dan Liberia, tiga negara yang paling parah dilanda wabah Ebola.

US Centers for Disease Control and Prevention – CDC atau Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Amerika, menghimbau warga AS untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke negara-negara Afrika Barat karena wabah tersebut, yang mereka sebut "belum pernah terjadi sebelumnya."

Dalam pernyataan hari Kamis, CDC mengatakan telah terjadi aksi-aksi kekerasan terhadap para petugas bantuan di wilayah tersebut, dan infrastruktur kesehatan masyarakat di Liberia kini "sangat kesulitan."

CDC juga mengatakan sedikitnya tiga warga Amerika telah terinfeksi, termasuk dua petugas kesehatan di klinik Ebola. [yy/pikiran-rakyat.com]