13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Happy Hypoxia Syndrome, Gejala Baru Covid-19

Happy Hypoxia Syndrome, Gejala Baru Covid-19

Fiqhislam.com - Batuk, sesak napas, demam, kehilangan indera penciuman, dan perasa, merupakan gejala yang banyak dijumpai dari orang yang terinfeksi Covid-19. Namun, belakangan ditemukan gejala baru yang dinamai happy hypoxia syndrome.

Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM, dr Sumardi mengatakan, happy hypoxia syndrome merupakan kondisi orang yang kadar oksigen dalam tubuhnya rendah. Tapi, terlihat seperti orang normal.

Sumardi menerangkan, normalnya kadar oksigen dalam tubuh seseorang di atas 95 persen. Meski begitu, penurunan kadar oksigen dalam kondisi ini tidak membuat orang kesulitan bernapas dan tidak membuat merasa terengah-engah.

"Kepada orang yang mengalami happy hypoxia ini tampak normal atau biasa-biasa saja. Karenanya, sering dinamakan silent hypoxia, sebab terjadinya perlahan dan lama-lama lemas dan tidak sadar," kata Sumardi, Kamis (3/9).

Da menuturkan, hypoxia terjadi akibat ada penjendalan di saluran pembuluh darah. Disebabkan peradangan atau inflamasi di pembuluh-pembuluh darah, terutama di paru-paru karena kadar oksigen dalam tubuh terus berkurang.

Kepala Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis RSUP Dr. Sardjito tersebut mengatakan, happy hypoxia jika tidak segera ditangani akan mengancam nyawa pasien Covid-19. Sebab, penjendalan tidak hanya akan terjadi di paru-paru.

"Tapi, bisa ke organ-organ lainnya seperti ginjal dan otak yang bisa menyebabkan kematian," ujar Sumardi.

Keberadaan happy hypoxia bisa diketahui dalam pasien Covid-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit. Pemantauan kadar oksigen dalam darahnya, biasanya dilakukan dengan menggunakan alat pulse oximeter.

Untuk pasien yang tidak menunjukkan gejala, terutama yang isolasi di rumah, ia mengimbau selalu monitor kondisi tubuh. Terus waspada bila muncul gejala tiba-tiba lemas, padahal tidak aktivitas atau olah raga yang kurangi energi.

"Kalau tiba-tiba merasa lemas tapi makan dan minum masih biasa harus segera lapor rumah sakit. Lemas ini karena oksigen di organ berkurang, jadi harus cepat ke RS agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat," kata Sumardi. [yy/republika]

 

Happy Hypoxia Syndrome, Gejala Baru Covid-19

Fiqhislam.com - Batuk, sesak napas, demam, kehilangan indera penciuman, dan perasa, merupakan gejala yang banyak dijumpai dari orang yang terinfeksi Covid-19. Namun, belakangan ditemukan gejala baru yang dinamai happy hypoxia syndrome.

Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM, dr Sumardi mengatakan, happy hypoxia syndrome merupakan kondisi orang yang kadar oksigen dalam tubuhnya rendah. Tapi, terlihat seperti orang normal.

Sumardi menerangkan, normalnya kadar oksigen dalam tubuh seseorang di atas 95 persen. Meski begitu, penurunan kadar oksigen dalam kondisi ini tidak membuat orang kesulitan bernapas dan tidak membuat merasa terengah-engah.

"Kepada orang yang mengalami happy hypoxia ini tampak normal atau biasa-biasa saja. Karenanya, sering dinamakan silent hypoxia, sebab terjadinya perlahan dan lama-lama lemas dan tidak sadar," kata Sumardi, Kamis (3/9).

Da menuturkan, hypoxia terjadi akibat ada penjendalan di saluran pembuluh darah. Disebabkan peradangan atau inflamasi di pembuluh-pembuluh darah, terutama di paru-paru karena kadar oksigen dalam tubuh terus berkurang.

Kepala Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis RSUP Dr. Sardjito tersebut mengatakan, happy hypoxia jika tidak segera ditangani akan mengancam nyawa pasien Covid-19. Sebab, penjendalan tidak hanya akan terjadi di paru-paru.

"Tapi, bisa ke organ-organ lainnya seperti ginjal dan otak yang bisa menyebabkan kematian," ujar Sumardi.

Keberadaan happy hypoxia bisa diketahui dalam pasien Covid-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit. Pemantauan kadar oksigen dalam darahnya, biasanya dilakukan dengan menggunakan alat pulse oximeter.

Untuk pasien yang tidak menunjukkan gejala, terutama yang isolasi di rumah, ia mengimbau selalu monitor kondisi tubuh. Terus waspada bila muncul gejala tiba-tiba lemas, padahal tidak aktivitas atau olah raga yang kurangi energi.

"Kalau tiba-tiba merasa lemas tapi makan dan minum masih biasa harus segera lapor rumah sakit. Lemas ini karena oksigen di organ berkurang, jadi harus cepat ke RS agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat," kata Sumardi. [yy/republika]

 

Orang dengan Gejala

Dokter: Happy Hypoxia Covid-19 Terjadi Hanya pada Orang dengan Gejala


Fiqhislam.com - Dokter menyebutkan bahwa gejala happy hipoxia pada Covid-19 terjadi hanya pada orang dengan gejala dan tidak terjadi pada orang yang tidak memiliki gejala sama sekali.

Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dr Erlina Burhan Sp.P dalam webinar tentang kampanye pakai masker di Jakarta, Jumat, 4 September 2020, menjelaskan bahwa gejala happy hypoxia harus segera mendapat pertolongan agar pasien bisa diselamatkan.

Happy hypoxia merupakan keadaan di mana pasien Covid-19 mengalami kekurangan oksigen di dalam darahnya, namun sang pasien tidak merasakan sesak. Hal tersebut berbahaya bagi tubuh karena seseorang merasa baik-baik saja padahal sejatinya sedang kekurangan oksigen.

Namun, Erlina menegaskan bahwa happy hypoxia hanya terjadi pada orang yang terinfeksi Covid-19 dan memiliki gejala lain.

"Happy hypoxia tidak bisa terjadi pada orang yang tanpa gejala. Gejala lainnya ada, seperti demam, flu, yang tidak ada gejalanya cuma sesak," kata Erlina.

Oleh karena itu orang yang terinfeksi Covid-19 dan memiliki gejala lain seperti demam atau flu sebaiknya segera hubungan layanan kesehatan terdekat. Terlebih lagi apabila gejala yang dialami semakin berat sehingga harus segera dirujuk ke rumah sakit dan mendapatkan pertolongan.

Happy hypoxia yang menyebabkan pasien yang terinfeksi Covid-19 tidak merasakan sesak dikarenakan banyaknya infeksi yang terjadi pada tubuh akibat virus SARS CoV 2. Infeksi yang terjadi pada tubuh menghambat sinyal yang dikirimkan ke otak akibat terjadinya inflamasi.

Pada kondisi normal seseorang biasanya memiliki saturasi oksigen antara 95 sampai 100 persen. Dalam keadaan saturasi oksigen normal maka sel darah merah atau hemoglobin dapat mengikat oksigen dengan baik lalu akan menyampaikannya ke seluruh sel pada jaringan tubuh. Namun, saat mengalami hypoxia maka saturasi oksigen mengalami penurunan di bawah level normal.

Penyakit yang terjadi akibat infeksi Covid-19 ini belakangan terjadi di RSUD Margono Soekarjo Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. [yy/tempo]