15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Cairan Disinfektan Bersihkan Benda Mati dari Corona, Bukan untuk Tubuh Manusia

Cairan Disinfektan Bersihkan Benda Mati dari Corona, Bukan untuk Tubuh ManusiaFiqhislam.com - Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, cairan disinfektan hanya melindungi benda mati dari penyebaran virus secara sementara. Namun, cairan disinfektan itu tak untuk disemprotkan ke tubuh manusia.

Sehingga, cara yang lebih tepat untuk memutus rantai corona adalah physical distancing atau jaga jarak diri. 

"Cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda dan pada tubuh atau baju, dan tidak akan melindungi anda dari virus, jika berkontak erat dengan orang sakit. Jadi sifatnya adalah hanya bersifat sementara," kata Wiku dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Senin (29/3/2020).

Ia menjelaskan, cairan disinfektan merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi, guna membunuh mikroorganisme, virus dan bakteri pada objek permukaan benda mati.



"Dalam rangka pencegahan Covid-19, penggunaan cairan desinfektan di area publik, transportasi, pasar, tempat ibadah, sekolah, rumah makan, perlu memperhatikan komposisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging, karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan," kata dia. 

Ia menyebut, setelah barang-barang disemprot cairan disinfektan, sebaiknya langsung dilap menggunakan sarung tangan, sehingga tak menimbulkan iritasi. 

"Penggunaan cairan disinfektan dilakukan spesifik pada lokasi dan benda-benda yaitu lantai, kursi meja, gagang pintu ,tombol lift dan handle eskalator, mesin ATM ,etalase, wastafel dan lain-lain. Setelah menyemprotkan permukaan benda, sebaiknya 1 menit, dilakukan pengelapan permukaan menggunakan sarung tangan," ujarnya. [yy/okezone]

Cairan Disinfektan Bersihkan Benda Mati dari Corona, Bukan untuk Tubuh ManusiaFiqhislam.com - Ketua Tim Pakar Gugus Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, cairan disinfektan hanya melindungi benda mati dari penyebaran virus secara sementara. Namun, cairan disinfektan itu tak untuk disemprotkan ke tubuh manusia.

Sehingga, cara yang lebih tepat untuk memutus rantai corona adalah physical distancing atau jaga jarak diri. 

"Cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda dan pada tubuh atau baju, dan tidak akan melindungi anda dari virus, jika berkontak erat dengan orang sakit. Jadi sifatnya adalah hanya bersifat sementara," kata Wiku dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Senin (29/3/2020).

Ia menjelaskan, cairan disinfektan merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi, guna membunuh mikroorganisme, virus dan bakteri pada objek permukaan benda mati.



"Dalam rangka pencegahan Covid-19, penggunaan cairan desinfektan di area publik, transportasi, pasar, tempat ibadah, sekolah, rumah makan, perlu memperhatikan komposisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging, karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan," kata dia. 

Ia menyebut, setelah barang-barang disemprot cairan disinfektan, sebaiknya langsung dilap menggunakan sarung tangan, sehingga tak menimbulkan iritasi. 

"Penggunaan cairan disinfektan dilakukan spesifik pada lokasi dan benda-benda yaitu lantai, kursi meja, gagang pintu ,tombol lift dan handle eskalator, mesin ATM ,etalase, wastafel dan lain-lain. Setelah menyemprotkan permukaan benda, sebaiknya 1 menit, dilakukan pengelapan permukaan menggunakan sarung tangan," ujarnya. [yy/okezone]

Penyemprotan Disinfektan Bisa Matikan Bakteri Baik

Penyemprotan Disinfektan Bisa Matikan Bakteri Baik


Fiqhislam.com - Guru Besar Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dra Wega Trisunaryanti MS PhD Eng mengingatkan penyemprotan disinfektan berlebihan bisa mematikan bakteri baik yang ada. "Memang sekarang karena kepanikan yang terjadi karena Covid-19, terjadi penyemprotan disinfektan di lingkungan masyarakat. Termasuk di lingkungan rumah saya," ujar Wega saat dihubungi dari Jakarta, Ahad (29/3).

Ia menambahkan bakteri sebenarnya bisa mati jika disemprotkan dengan disinfektan dengan kandungan alkohol 70 persen. Masalahnya, ia tidak tahu apakah disinfektan yang disemprotkan masyarakat tersebut mengandung alkohol atau tidak.

"Kalau disinfektan dengan kandungan alkohol 70 persen, bisa menyebabkan bakteri mati. Tapi masalahnya bakteri baik yang bermanfaat juga ikutan mati," tambah dia,

Misalnya saja, bakteri pembusuk sampah yang berfungsi untuk menguraikan sampah yang ada. Jika bakteri tersebut mati, maka dikhawatirkan sampah-sampah yang ada sulit untuk terurai.

Wega menambahkan bakteri yang ada di alam lebih banyak yang bermanfaat dibandingkan yang jahat. Untuk itu, penyemprotan disinfektan harus dilakukan secara berkala dan tidak berlebihan.

"Kalau saran saya, penyemprotan disinfektan silahkan dilakukan saja. Tapi jangan berlebihan. Ini untuk meredakan kepanikan yang ada di masyarakat, dengan penyemprotan ini maka secara psikologis bisa membuat masyarakat tenang," terang Wega.

Kendati demikian, Wega belum bisa memastikan bahwa penyemprotan disenfektan sepenuhnya bisa mematikan virus Covid-19. Hal itu karena ukurannya yang sangat kecil dibandingkan bakteri dan jangkauannya bisa menyebar lebih jauh.

"Kalau kena disinfektan mungkin bisa. Begitu juga kalau kena sinar ultra violet (UV) bisa mati sebenarnya. Akan tetapi kalau penyemprotan disinfektan kalau tidak menjangkau, juga belum tentu mati virusnya," terang Wega lagi.

Sejumlah pemerintah daerah melakukan penyemprotan disinfektan yang bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 di daerah itu. [yy/republika]