8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Jangan Makan Plasenta, Ini Risikonya

Jangan Makan Plasenta, Ini Risikonya


Fiqhislam.com - Mengkonsumsi plasenta setelah melahirkan telah menjadi semacam sebuah keisengan,  dengan pasangan selebriti Jason Biggs dan Jenny Mollen menjadi yang terakhir melakukannya setelah melahirkan. Kim Kardashian bahkan telah memposting foto di Twitter tentang plasenta yang dikeringkan dan dienkapsulasi.

Pendukung praktek ini, yang disebut placentophagy, mengklaim bahwa makan plasenta dapat membantu mengatasi depresi pascamelahirkan, memperbaiki laktasi dan meningkatkan energi.

Namun, tinjauan baru terhadap berbagai penelitian menemukan bahwa sebenarnya tidak ada manfaat kesehatan untuk makan plasenta. Sebaliknya, tindakan itu membawa risiko bagi ibu dan bayinya yang menyusui, kata periset.

Kajian tersebut, yang dipublikasikan secara online pada bulan Agustus di American Journal of Obstetrics & Gynecology, meneliti penelitian yang ada mengenai placentophagy untuk menentukan apakah praktek tersebut pantas dilakukan. Tim menemukan bahwa beberapa uji klinis yang telah mempelajari placentophagy mendapati praktek tersebut tidak bermanfaat.

"Jangan makan plasenta bayi Anda," kata penulis studi senior Dr. Amos Grünebaum, seorang profesor kebidanan dan ginekologi klinis di Weill Cornell Medical College di New York City. "Tidak ada manfaatnya, dan ada potensi risiko."

Risiko ini meliputi infeksi virus dan bakteri baik untuk bayi menyusui maupun ibu, dan risiko menelan racun dan hormon yang terkumpul di plasenta selama kehamilan, menurut kajian tersebut. Risiko ini hadir bahkan ketika plasenta telah dibekukan-dikeringkan dan dienkapsulasi, atau dipanggang.

Tidak ada standar untuk pemrosesan plasenta untuk konsumsi manusia di AS, dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan untuk menghindari enkapsulasi plasenta karena tidak selalu menghilangkan patogen.

Sedangkan untuk memanggang plasenta, ia harus memenuhi persyaratan panas yang sama dari daging matang lainnya untuk menghilangkan infeksi, kata CDC. "Steak bisa dimasak mentah, sedang atau sudah matang," kata Grünebaum kepada Live Science. "Semakin mentah, semakin besar kemungkinan kontaminasi."

Laporan CDC dari bulan Juni menyoroti risiko tidak memanaskan plasenta ke suhu yang cukup tinggi untuk membunuh bakteri. Dalam laporan tersebut, pejabat CDC menggambarkan sebuah kasus di mana bayi mendapat infeksi dari bakteri yang hadir di kapsul plasenta ibunya.

Setelah menyelidiki kapsul itu, CDC menyebutkan bahwa ketika plasenta dienkapsulasi, tidak dipanaskan pada suhu yang cukup tinggi untuk cukup lama untuk membunuh bakteri. Untuk melakukannya, plasenta perlu dipanaskan sampai 130 derajat Fahrenheit selama lebih dari 2 jam, kata CDC.

Bahkan suhu yang lebih tinggi diperlukan untuk membunuh virus seperti HIV, Zika dan hepatitis, menurut kajian itu.

Tetapi penelitian telah menemukan bahwa bahkan ketika plasenta dimasak cukup lama untuk menghilangkan virus atau bakteri, logam berat dan hormon dapat terakumulasi di plasenta, dan panas tidak akan berpengaruh pada senyawa tersebut, kata kajian tersebut.

Tak satu pun dari studi ini menemukan kadar toksin atau hormon yang berbahaya di plasenta, namun wanita yang mengonsumsi plasenta sering melaporkan sakit kepala, yang dapat disebabkan oleh logam berat yang disebut kadmium yang terbentuk di plasenta mereka, kata para penulis. [yy/tempo]