fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Pastikan Anak Dapat 8 Pemeriksaan Ini Agar Tumbuh Kembangnya Normal

Pastikan Anak Dapat 8 Pemeriksaan Ini Agar Tumbuh Kembangnya NormalFiqhislam.com - Penting bagi orang tua untuk memastikan buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan baik, agar terhindar dari berbagai risiko kesehatan di kemudian hari. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan beberapa pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Berikut 8 pemeriksaan kesehatan anak yang sangat vital dan diperlukan untuk memastikan bahwa anak tumbuh dan berkembang dengan baik, seperti dilansir Foxnews, Senin (4/3/2013):

1. Skrining kelahiran

Begitu bayi lahir, dokter akan melakukan tes untuk mengevaluasi warna bayi, denyut jantung, aktivitas otot dan respons terhadap rangsangan. Tes ini membantu menentukan apakah bayi mengalami depresi, stres atau kurang oksigen setelah kelahiran.

Bayi juga memerlukan serangkaian tes metabolisme lainnya dalam waktu 48 jam setelah lahir, untuk mewaspadai sejumlah gangguan metabolisme dan genetik seperti hipotiroidisme. Dokter juga akan melakukan tes pendengaran untuk mendeteksi ketulian bawaan.

2. Lingkar kepala

Lingkar kepala bayi perlu diukur sejak lahir sampai usianya 2 tahun, untuk mengetahui apakah bayi dapat tumbuh dengan optimal. Jika pertumbuhan bayi melambat, akan tampak dari ukuran lingkar kepala bayi yang kurang banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Perkembangan lingkar kepala bayi yang kurang optimal dapat disebabkan tengkorak bayi yang mengeras terlalu dini, karena infeksi kongenital atau keterlambatan perkembangan. Di sisi lain, pertumbuhan kepala bayi yang cepat bisa menunjukkan kondisi serius seperti hydrocephalus.

3. Perkembangan

Setiap kali melakukan pemeriksaan kesehatan bayi, dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai tonggak perkembangan terpenting bayi dan balita, seperti kontak mata, interaksi sosial dan bermain. Hal ini penting dilakukan, khususnyasaat bayi berusia 18 dan 24 bulan, untuk mengetahui apakah ada gejala autisme.

Sedangkan tes perkembangan juga perlu dilakukan setelah anak berusia setahun hingga balita untuk mengevaluasi perkembangan perilakunya. Penting bagi orang tua untuk tetap memantau perkembangan anak, melalui tes kesehatan rutindi posyandu.

4. Tinggi dan berat badan

Pada setiap kunjungan, tinggi dan berat badan anak juga akan diukur untuk menentukan indeks massa tubuh (BMI-Body Mass Index), yang merupakan cara terbaik untuk mengidentifikasi risiko anak terhadap kelebihan berat badan atau obesitas.

Di sisi lain, BMI juga dapat menunjukkan adanya gangguan makan yang potensial. Dokter biasanya juga akan menanyakan tentang kebiasaan makan dan gerak anak Anda.

5. Hemoglobin

Pada saat anak berusia 1 dan 2 tahun, kadar hemoglobin diuji untuk memastikan tidak kekurangan zat besi. Kurangnya zat besi dapat menyebabkan anemia yang berpengaruh pada ketidakmampuan otak untuk bekerja dengan baik dan anak dapat kehilangan poin kecerdasan (IQ) dari waktu ke waktu.

Anemia juga dapat mempengaruhi aktivitas anak, yang merupakan faktor risiko terbesar untuk kesehatan jantung, otak, sistem kardiovaskular dan bahkan pada pertumbuhannya.

6. Penglihatan

American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar anak-anak untuk mendapatkan tes mata setiap tahun antara usia 3 hingga 6 tahun. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah bayi memiliki tanda-tanda gangguan penglihatan, yang mungkin dapat diperbaiki sejak dini.

Beberapa tes kesehatan mata juga dilakukan untuk mengukur aktivitas listrik otak di pusat penglihatan dan untuk melihat apakah kedua sisi mata memiliki aktivitas yang sama.

7. Lengkung tulang belakang

Anak juga memerlukan tes untuk mengetahui apakah anak berisiko terhadap scoliosis, yaitu kelengkungan tulang belakang yang abnormal. Kondisi ini biasanya muncul antara usia 10 hingga 15 tahun.

Tetapi risikonya telah tampak sejak dini, sehingga anak perlu mendapatkan tes ini segera setelah dirinya mampu menyentuh jari-jari kakinya. Diagnosis yang terlambat dapat membuat kondisinya lebih parah di kemudian hari.

8. Diabetes

Skrining terhadap diabetes tidak perlu dilakukan secara rutin, tetapi dokter akan mengecek apakah anak memiliki risiko terhadap diabetes, terutama jika orang tuanya memiliki diabetes. Jika berat badan tiba-tiba berkurang atau terlalu sering buang air kecil, dokter dapat menguji anak untuk diabetes tipe 1.

Anak-anak dengan diabetes tipe 2 biasanya mengalami penambahan berat badan dengan cepat dan tidak aktif bergerak. Jika muncul tanda-tanda pada kulit sekitar leher dan bawah ketiak bertekstur gelap dan beludru, anak memerlukan skrining terhadap insulin, lipid dan kortison. [yy/health.detik.com]