4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Rajin Dibersihkan dan Nggak Minum Susu Formula, Kenapa Gigi Anak Coklat?

Anak saya berumur 1 tahun 11 bulan. Empat gigi depan atasnya  berwarna coklat  tidak pekat. Sampai sekarang masih minum ASI tanpa sufor (susu formula). Dua kali sehari rutin kami bersihkan gigi-geliginya (pagi dan sebelum tidur). Setiap usai makan yang manis-manis selalu langsung kami bersihkan gigi-geliginya atau minum air putih. Apa penyebab gigi-geliginya berwarna coklat.  Apakah warna coklat tidak pekat tersebut bisa hilang? Apa solusi terbaiknya menurut Dokter? Terimakasih. (Rizky, Balikpapan)

Rajin Dibersihkan dan Nggak Minum Susu Formula, Kenapa Gigi Anak Coklat?Bapak Rizky, Saya belum bisa memastikan jenis pewarnaan anomali kecoklatan keempat gigi-geligi sang Buah Hati yang Bapak keluhkan, karena saya belum melihat/memeriksanya secara langsung. Dan saya belum menerima info kapan mulai disadarinya kondisi anomali warna tersebut. Itulah mengapa, berikut ini akan saya utarakan beberapa kemungkinannya saja, yea..
 
Seperti pernah saya utarakan di artikel lain saya sebelum ini, pewarnaan anomali pada gigi bisa terjadi oleh faktor intrinsik maupun ekstrinsik.
 
- Pewarnaan Intrinsik
 
Pewarnaan intrinsik merupakan penumpukan dan penggabungan bahan-bahan di dalam struktur gigi yang mengakibatkan perubahan warna (diskolorisasi) pada bagian dalam struktur gigi selama fase pembentukan/pertumbuhan struktur enamel maupun dentin sang gigi. Pewarnaan jenis ini relatif sukar dirawat.
 
Ragam perkembangan perubahan warna anomali pada gigi dapat terjadi karena kerusakan pada saat perkembangan intrinsik gigi, diantaranya:
 
1.  Fluorosis endemic.

Secara umum, kadar fluoride yang diperbolehkan adalah 800-1.000 ppm. Akan tetapi pada anak-anak sebaiknya sekitar 200-300 ppm. Masuknya sejumlah flour saat pembentukan gigi menyebabkan kerusakan struktur gigi pada proses mineralisasinya dan mengakibatkan terjadinya hipoplasia/hipomaturasi enamel.

Perkembangan gigi menjadi porus dan akan menyerap warna di dalam rongga mulut. Anomali pewarnaan email bervariasi dari flek putih hingga bercak coklat atau hitam dengan lubang.
 
2.  Obat-obatan sistemik.

Masuknya obat-obatan atau bahan kimia pada saat proses pembentukan gigi dapat       menyebabkan perubahan warna gigi. Efek terberat umumnya diakibatkan oleh konsumsi jenis tetrasiklin.

Infiltrasi tetrasiklin pada struktur material dentin kelak akan terlihat lantaran sifat transluensi lapisan enamel sang gigi. Pemakaian obat antibiotik tetrasiklin yang dikonsumsi semasa dalam kandungan pada usia kehamilan ibu lebih dari empat bulan dimana molekul - molekul tetrasiklin dapat melewati barier plasenta dapat mengenai gigi susu yang sedang berada dalam proses pembentukannya.

Bila mengkonsumsi obat ini selama proses pembentukan struktur gigi, maka akan menyebabkan gigi berubah warna menjadi coklat hingga abu-abu pada seluruh struktur gigi, tergantung jumlah, frekwensi, jenis tetrasiklin, dan umur pasien saat obat dikonsumsi. Saat erupsi gigi berwarna kuning terang. Tetapi ketika diberi cahaya akan berubah menjadi coklat.
 
3.  Kerusakan dalam fase pembentukan gigi.

Kerusakan dalam pembentukan gigi terjadi sebatas lapisan enamel berupa hipoplasia dan hipokalsifikasi. gigi akan tampak kecoklatan.
 
4.  Kelainan darah dan faktor-faktor lain :

- a. kondisi sistemik Erythropoietieccongenital menyebabkan warna merah kecoklatan pada gigi susu akibat proses hancurnya sel darah merah secara luas. Produk kerusakan darah dapat bergabung ke dalam dentin dan mewarnai gigi.
 
- b. suhu tubuh yang tinggi saat pembentukan gigi menyebabkan perubahan warna berbentuk pita pada email.
 
- c. porfiria: suatu penyakit metabolisme yang menyebabkan gigi susu atau permanen berubah menjadi kemerahan atau kecoklatan.
 
- Pewarnaan Ekstrinsik
 
Pewarnaan ekstrinsik adalah suatu perubahan warna yang terjadi dari luar karena agensia yang menyebabkan terjadinya perubahan warna. Umumnya tampak oleh keberadaan stain. Suatu deposit berpigmen pada permukaan gigi yang menimbulkan masalah estetik, tetapi secara prinsip tidak menyebabkan peradangan pada area gusi.

Memberikan nuansa warna yang menempel di atas permukaan gigi akibat pelekatan warna makanan, minuman, ataupun racun material/gas tertentu yang bisa terjadi secara langsung pasca berkontak, maupun perlahan dalam jangka waktu yang panjang. Umumnya hanya bersifat lokal.
 
Beberapa jenis pewarnaan ekstrinsik pada gigi anak-anak di antaranya berwarna hijau, hitam, coklat, dan orange.
 
Warna kehijauan umum terdapat pada biofilm oleh keberadaan membran nasmyth pada anak-anak, dan sering ditemukan pada rahang atas. Gambaran klinisnya berupa garis berwarna kuning muda hingga hijau melingkari sepertiga area leher gigi pada permukaan dekat bibir. Atau dapat pula menutupi setengah permukaan gigi. Penyebabnya adalah kebersihan mulut yang buruk, kromogen, dan proses pendarahan gusi. Permukaan lapisan enamel gigi di bawah area pewarnaan biasanya kasar.
 
Pewarnaan kehitaman biasa terlihat pada permukaan dekat lidah dan antar gigi susu. Gambaran klinisnya berupa garis berwarna coklat tua hingga hitam mengikuti kontur gusi pada sepertiga area dekat gusi tersebut pada mahkota gigi.
 
Pewarnaan kecoklatan pada gigi dapat dihasilkan dari perubahan kimia pada pelikel, penggunaan stannous fluroid, termasuk obat kumur klorheksidin.
 
Pewarnaan warna orange pada gigi biasa dihubungkan dengan kebersihan mulut yang buruk. Biasanya terdapat di sepertiga bagian mahkota dekat gusi di permukaan dekat bibir dan lidah, dan mudah dibersihkan dengan profilaksi, tetapi akan muncul kembali bila kebersihan mulutnya tetap buruk. Apabila kebersihan mulut tetap tidak dijaga maka noda akan muncul kembali dan dapat mengakibatkan timbulnya plak. Bahkan dapat menimbulkan karies jika dibiarkan.
 
Secara umum, diskolorasi gigi dapat dihilangkan antara lain dengan prosedur scalling, pemolesan, maupun pemutihan gigi. Pada saat dilakukan scalling, pewarnaan anomali ekstrinsik akan ikut terbuang. Sementara pewarnaan gigi oleh faktor intrinsik tidak dapat hilang dengan prosedur scalling ataupun pomolesan gigi. Perawatan pemutihan gigi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan pemilihan bahannya disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Bahan pemutihan gigi yang biasa digunakan antara lain adalah sodiumperborat, hidrogen peroksida, dan karbamid peroksida. Tetapi tidak direkomendasikan untuk anak-anak, terlebih bagi sang Buah Hati yang masih berusia batita.
 
Itulah mengapa, apabila kondisi gigi-geligi sang Buah Hati masih vital dan sehat, apabila anomali pewarnaan gigi-geliginya bermuasal dari faktor ekstrinsik, maka tips perawatan sehari-harinya antara lain:

  • Membersihkan gigi-geligi dan rongga mulut setiap usai makan dan minum dengan cara berkumur biasa ataupun dengan bantuan alat-bahan pembersih yang berukuran kecil dan berbahan lembut khusus untuk anak balita, terutama setiap jelang waktu tidur di malam hari, dengan pilihan alat-bahan dan cara yang tepat.  Mengingat prinsip dan target upaya pembersihannya yakni melepaskan semua sisa makanan-minuman dari seluruh permukaan gigi-geligi dan rongga mulut.
  • Penggunaan pasta gigi seyogyanya hanya dilakukan setelah sang Buah Hati telah pandai berkumur dan meludah. Umumnya setelah berusia di atas 2 atau 3 tahun. Ada artikel lama saya terkait hal ini di tribunnews.com pada kolom konsultasi yang sama: tentang bahaya menelan pasta gigi berlebihan pada anak-anak. Silakan Bapak simak dengan cermat, yea.. Sebab dengan atau tanpa pasta gigi, sepanjang menyikat gigi dilakukan secara baik dan benar, hasilnya akan sama.
  • Kegiatan membersihkan lidah dan gusi juga harus dilakukan begitu selesai menyusu dan sebelum tidur malam. Bila tidak dibersihkan, maka bakteri pada lidah semakin lama akan menumpuk. Akibatnya terdapat bercak-bercak putih atau sariawan di lidah. Membersihkan lidah bisa menggunakan sikat gigi anak maupun kain kasa/kain steril yang lembut yang telah dibasahi dengan air matang.
  • Hendaklah mengkonsumsi makanan bergizi yang berkalsium dan berprotein tinggi seperti sayur, ikan, daging, buah-buahan dan susu. Hindari atau batasi anak makan makanan kariogenik di sela waktu makan seperti makanan yang mengandung gula, permen, dan coklat, agar tidak mudah terjadi karies. Dan, andaipun mengkonsumsinya, musti diakhiri dengan proses berkumur atau upaya pembersihan lain yang memungkinkan.
  • Hindari kebiasaan si Kecil mengemut makanannya.
  • Sangatlah baik sekaligus bijak membiasakan anak kontrolkan kesehatan gigi-geligi dan rongga mulutnya ke dokter gigi pilihan keluarga Bapak yang juga disukai si Kecil sejak usianya dini.
  • Tujuannya agar kondisi kesehatan gigi-geligi dan rongga mulutnya senantiasa terawat, dan anak menjadi tidak takut menjalani pemeriksaan rutin maupun pengobatan bila ada masalah dengan giginya. Dianjurkan orangtua mengajak anak ke dokter gigi sejak gigi pertamanya erupsi dan kontrol rutin setiap 6 bulan sekali.

 
Demikianlah Bapak, semoga penjelasan saya bisa Bapak pahami dengan baik. Andai pewarnaan anomali gigi-geligi sang Buah Hati kesayangan ternyata akibat faktor intrinsik, maka mohon rawatkanlah seperlunya sesuai indikasi ke dokter gigi yang dipilih, yea.. Tidak perlu khawatir,

Bapak.. Gigi-geligi ini nantinya akan digantikan oleh gigi permanen, sesuai tahapannya. Yang terpenting adalah bahwa semua faktor yang bisa mengganggu kesehatan semua gigi, rongga mulut, dan kesehatan umumnya diantisipasi sedini mungkin, dan sang Buah Hati tetap sehat serta senantiasa beroleh kasih dan cinta penuh dari Ayah-Bundanya.. demi optimalisasi tumbuh kembangnya. [yy/tribunnews.com]

Konsultasi Drg Anastasia Ririen
Silahkan mengirimkan pertanyaan melalui email: dr_anastasia_ririen@yahoo.com
Semua jawaban akan ditayangkan di www.tribunnews.com.