14 Muharram 1444  |  Jumat 12 Agustus 2022

basmalah.png

Bayi Anda Berkeringat Saat Ketakutan?

Bayi Anda Berkeringat Saat Ketakutan? Fiqhislam.com - Apakah bayi Anda berkeringat saat merasa ketakutan? Jika ya, jangan khawatir, sebab itu justru pertanda baik. Pasalnya, para ilmuwan menemukan bahwa bayi yang berusia 12 bulan dan berkeringat saat menghadapi situasi menakutkan akan menunjukkan sikap yang lebih tenang (kalem) dibandingkan anak lain saat mereka berusia 3 tahun.

Pemantauan keringat ini dilakukan pada kaki bayi untuk mengukur reaksi mereka terhadap suara keras dan rasa takut, termasuk robot mekanik.

Para ilmuwan, seperti dikutip situs Daily Mail edisi 1 Mei 2013, membandingkan hasil tersebut dengan perilaku anak-anak, seperti diungkapkan oleh ibu mereka, saat anak-anak balita itu mencapai usia 3 tahun. Hasilnya, anak-anak yang mempunyai reaksi fisik yang kuat terhadap rasa takut dan marah ternyata cenderung kurang agresif secara fisik maupun verbal, ketika mereka berusia 3 tahun.

Profesor Stefanie van Goozen dari School of Psychology di Cardiff University mengatakan bahwa bayi dengan saraf keringat yang lebih sedikit ternyata lebih cenderung bersikap antisosial saat balita. "Anak-anak yang agresif kemungkinan mempunyai level gairah psikologis yang lebih rendah karena mereka tidak mengalami level gairah emosional yang sama saat merespons situasi menakutkan sehingga mereka kurang agresif dibandingkan teman-temannya," ujar Goozen.

Ditambahkan Goozen, "Karena mereka mempunyai respons rasa takut yang lebih rendah, mereka lebih cenderung berperilaku antisosial." Untuk bersikap agresif, dia melanjutkan, "Anda memerlukan rasa takut yang sedikit, Anda akan tertantang untuk agresif dan Anda tidak khawatir bahwa orang lain bisa bersikap agresif terhadap Anda."

"Banyak orang tidak bersikap agresif karena mereka khawatir konsekuensi dari agresivitas mereka," ujar Goozen. "Antisipasi dari sikap agresif berupa hukuman juga membuat kita berhenti untuk bersikap agresif."

Temuan ini, kata Goozen, menunjukkan, mungkin untuk mengidentifikasi risiko pada anak-anak jauh sebelum masalah perilaku tersebut muncul ke permukaan.

Menanggapi temuan itu, Profesor Adrian Raine, Ketua Department of Criminology di University of Pennsylvania, mengatakan bahwa hasil riset Goozen itu sangat kuat dalam menunjukkan bahwa pengukuran psikologis secara obyektif bisa memprediksi agresivitas di kemudian hari, melebihi metode pengukuran lainnya.

"Jika temuan baru ini bisa direplikasi dan diperluas untuk usia yang lebih tua, mereka berpotensi mempunyai implikasi penting untuk prediksi agresivitas pada masa depan dan perilaku kekerasan," kata Prof Raine. "Temuan ini juga menjanjikan pengukuran biologis dalam pemahaman yang lebih baik sebagai penyebab perilaku agresif tanpa ketakutan." [yy/
tempo.co]