14 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 17 Januari 2022

basmalah.png

BALITA

Bayi yang Lahir dengan Berat Ekstrem Tingkatkan Risiko Autisme

Bayi yang Lahir dengan Berat Ekstrem Tingkatkan Risiko Autisme Fiqhislam.com - Autisme pada anak seringkali dituding akibat kesalahan pola makan, kebiasaan merokok atau konsumsi obat-obatan tertentu yang dilakukan ibu selama masa kehamilan. Namun sebuah studi baru mengungkap jika berat lahir bayi yang ekstrem juga dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme pada anak.

Setelah mengamati data 40.000 anak di Swedia, peneliti menemukan bayi dengan berat lahir lebih besar dari 9,9 pounds atau kurang dari 5,5 pounds lebih cenderung mengidap autisme ketimbang bayi yang berat lahirnya normal.

Bahkan peneliti dapat memastikan secara spesifik jika bayi yang terlahir dengan berat kurang dari rata-rata berisiko autis hingga 63 persen dan bayi yang berat lahirnya di atas rata-rata berisiko sebesar 60 persen.

Namun kaitan antara berat lahir dengan risiko autisme ini terlepas dari apakah si bayi lahir prematur atau lahir melebihi tanggal persalinan normal atau tidak.

Studi yang baru saja dipublikasikan dalam American Journal of Psychiatry ini diyakini sebagai studi pertama yang berhasil menemukan kaitan antara berat lahir dan tingginya risiko autisme. Studi ini juga memastikan hasil temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa bayi yang berat lahirnya rendah lebih cenderung mengidap autisme.

"Kami kira peningkatan risiko ini erat kaitannya dengan pertumbuhan abnormal yang ekstrem pada janin sekaligus memperlihatkan adanya kesalahan selama masa perkembangan si janin, terutama dengan fungsi plasentanya," ungkap ketua tim peneliti Kathryn Abel, seorang profesor dari Center for Women's Mental Health dan Institute of Brain, Behavior and Mental Health di University of Manchester, Inggris.

"Padahal faktor apapun yang dapat mendorong abnormalitas pada perkembangan dan pertumbuhan janin juga cenderung berpengaruh terhadap perkembangan otak si bayi. Risiko itu pun terlihat lebih tinggi pada bayi-bayi yang tumbuh dengan buruk dan terus berada di dalam utero hingga usia kehamilannya mencapai 40 minggu. Bisa jadi hal ini dikarenakan bayi-bayi ini paling lama terpapar kondisi yang tak sehat dalam rahim ibunya," lanjutnya.

Meski studi ini menemukan kaitan antara berat lahir yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dengan risiko autisme, namun peneliti menekankan tidak adanya hubungan sebab-akibat diantara keduanya.

"Untuk itu kini kami perlu meriset lebih banyak lagi tentang pertumbuhan janin, bagaimana plasenta mengendalikan hal itu serta bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan otak si bayi. Satu-satunya kunci jawaban riset ini ada pada kondisi sang ibu dan pertumbuhan janin yang sehat," simpul Abel seperti dilansir WebMD, Selasa (7/5/2013). [yy/health.
detik.com]