<
pustaka.png
basmalah.png

Si Kecil Sering Ngomong Sendiri

Fiqhislam.com - Anak punya teman khayalan? Psikolog anak dari SATU Consulting, Ine Indriani menjelaskan, teman khayalan atau imajiner biasanya dimiliki pada anak usia prasekolah, yaitu sekitar tiga sampai lima tahun. Tandanya, anak terlihat seperti sedang berinteraksi atau berbincang dengan sahabat tak kasat matanya tersebut.

Menurut Ine, lambat laun teman imajiner anak akan berkurang atau bahkan hilang ketika anak masuk usia sekolah. Sebab, kemampuan sosial anak usia sekolah telah berkembang dengan baik.

Anak semakin banyak berinteraksi dengan dunia nyata bersama teman sebayanya. Walaupun, tetap ada sebagian anak usia sekolah yang masih memiliki teman imajiner.

Menurut Ine, teman imajiner ini sifatnya fiktif. Teman khayalan tersebut bisa berupa tokoh atau orang yang anak ciptakan sendiri.
Bisa pula, tokoh favorit di dalam film. Selain itu, tak jarang sahabat khayalan ini berupa objek, seperti hewan, mainan, atau boneka kesayangan.

Meskipun sebagian besar anak tahu bahwa tokoh teman imajinernya fiktif, anak biasanya memperlakukannya seperti nyata. Anak akan menjalin komunikasi, interaksi, berdiskusi, dan memecahkan masalah dengan teman khayalannya.

Lantas bagaimana jika buah hati Anda memiliki teman khayalan? Berikut tipsnya:

1. Berikan kesempatan pada anak untuk berimajinasi dan bermain dengan teman imajinernya. Teman imajiner dapat berdampak positif. Bila orangtua ingin berkenalan lebih dalam tentang teman imajiner anak, orangtua dapat meminta izin kepada anak.

2. Tak ada salahnya ikut bermain dengan teman imajiner anak. Hal ini dapat membangun kedekatan antara orangtua dan anak. Tapi, perhatikan perkembangan kemampuan sosial anak.

Bila anak cenderung lebih memilih bermain dengan teman imajiner, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya kemampuan sosial anak. Maka, hal ini perlu diwaspadai.

3. Waspadai juga kemunculan teman imajiner yang bersamaan dengan peristiwa tertentu, seperti adanya kecemasan pada anak. Misalnya, kelahiran adik baru, pindah rumah, orangtua bercerai, atau kekerasan. Bisa jadi kehadiran teman imajiner tersebut muncul sebagai kompensasi perasaan cemas yang dialami anak akibat peristiwa tersebut.

4. Waspadai pula tema yang muncul saat ia bermain dengan teman imajiner. Bila banyak bertema kekerasan, kesedihan, kemarahan, orangtua perlu waspada terhadap peristiwa yang telah mengganggu emosi anak. [yy/republika.co.id]

 

top