17 Muharram 1444  |  Senin 15 Agustus 2022

basmalah.png

Panaskan Makanan Bayi? Cukup 30 Detik

Panaskan Makanan Bayi? Cukup 30 DetikFiqhislam.com - Membuatkan masakan si kecil, para ibu biasanya sengaja membuat makanan untuk digunakan saat makan pagi, siang dan sore. Karenanya, diperlukan proses penghangatan sebelum disajikan kepada bayi Anda.

Nah, saat Moms memasak untuk si kecil, ada dua cara yang dapat Anda lakukan. Berikut ulasannya, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.

-Menggunakan kompor. Panaskan air dalam panci hingga mulai menguap (bukan mendidih), dan masukkan makanan bayi yang ditempatkan pada wadah anti panas selama 30 detik. Angkat dan tunggu sampai agak dingin, baru berikan kepada bayi. Bila makanan disimpan di dalam kulkas, keluarkan dan letakkan dulu dalam suhu ruang, baru dipanaskan.

-Menggunakan microwave. Pastikan panasnya merata sehingga terhindar dari hot pockets (panas di sebagian tempat saja). Caranya, masukkan satu porsi makanan bayi dalam mangkuk khusus untuk microwave, serta hangatkan selama 5- 30 detik saja. Aduk rata dan cicipi untuk memastikan makanan itu tidak terlalu panas. Baru berikan kepada si kecil.

Cukup 30 Menit Saja!

Memberi makan bayi memang tidak mudah. Namun begitu, untuk menghindari rasa bosan hendaknya memberi makan bayi cukup atau maksimal 30 menit saja – tidak boleh lebih. Ingat, jangan memaksa bayi untuk makan karena bisa membuatnya trauma. Jika dalam jangka waktu 30 menit si kecil susah makan atau tak mau makan, singkirkan dulu makanannya. Moms dapat menawarkan kembali satu atau dua jam kemudian dengan makanan jenis lain.

Daging dan Ikan

Semua jenis daging dan ikan boleh diberikan kepada bayi sejak mulai mendapat MPASI. Ikan air laut seperti tuna, sarden, dan salmon adalah sumber terbaik omega-3. Sebenarnya, hampir semua jenis seafood mengandung asam lemak omega-3.

Ikan mengandung vitamin D dalam jumlah tinggi dan daging juga mengandung kalsium dan zat besi yang semuanya berguna untuk pertumbuhan tulang si kecil.

Sebelum memberikan ikan atau jenis seafood lainnya, perhatikan apakah si kecil alergi atau ada riwayat alergi dalam keluarga. Berikan sedikit dulu lalu amati 3 atau 4 hari jika tidak ada reaksi alergi boleh diteruskan. Bila ada reaksi alergi seperti gatal, ruam, atau diare sebaiknya hentikan dulu.  

Untuk mengolah daging atau ikan dapat ditim atau dikukus agar potongan ikan dan daging dapat dihaluskan bersama buburnya. Makin halus maka makin mudah zat besinya diserap tubuh bayi. Jika ingin dipanggang, pastikan juga daging benar-benar matang, namun tidak kering atau over cooked hingga cita rasanya hilang. Ketika merebus daging, sisa air rebusannya jangan dibuang, tapi bisa diolah atau dimasak lagi dengan tambahan sayuran atau campuran masakan lainnya.

Agar lebih bervariasi, daging dan ikan dapat dicampurkan dengan bahan makanan lain atau sayuran dan diolah/dibuat sendiri menjadi bakso, nugget, dan sebagainya.

Tapi hindari penggunaan daging olahan siap saji dalam bentuk sosis, nugget, bakso, kornet, dan lainnya karena tinggi garam dan mengandung bahan pengawet yang dapat mengganggu kesehatan.

Hindari juga penambahan bumbu instan atau gula dan garam sebelum bayi berusia 1 atau 2 tahun. Berikan daging dan ikan secara bertahap sesuai usia bayi mengingat terlalu banyak asupan protein dapat membebani kerja ginjal. Sebaiknya jangan memberikan daging kambing dan domba karena berefek panas terhadap pencernaan.

Perlu diingat daging adalah media berkembangbiaknya bakteri. Untuk memperkecil risiko kontaminasi bakteri dari daging ke makanan lain, sebaiknya:

•    Gunakan pisau dan talenan berbeda untuk daging dan sayur/buah. 
•    Cuci tangan dengan benar sebelum dan sesudah memegang daging mentah.
•    Cairkan daging beku di lemari pendingin atau chiller, bukan di ruang terbuka.

yy/okezone.com