21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Penyebab Bayi dan Balita Terkena Pneumonia

Penyebab Bayi dan Balita Terkena PneumoniaFiqhislam.com - Ketua Unit Kerja Koordinasi Respiatory Ikatan Dokter Anak Indonesia, Nastiti Kaswandani, menjelaskan beberapa faktor yang menjadi penyebab bayi atau balita terkena pneumonia atau radang paru-paru. "Pneumonia itu bisa dicegah, dengan menghilangkan faktor resikonya," katanya pada acara temu media bertema 'Pneumonia Pembunuh Utama Pada Balita' .

Nastiti menjelaskan ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan bayi dan balita menjadi sasaran empuk penyakit pneumonia. Pertama adalah malnutrisi. Si bayi atau balita bisa saja tak mendapat nutrisi cukup. Ini membuat kekebalan tubuhnya kurang sehingga terinfeksi pneumonia. "Nutrisi terbaik untuk bayi dan balita itu adalah air susu ibu. Jadi mungkin saja bayi itu kurang mendapat ASi," katanya.

Faktor lainnya adalah imunisasi tak lengkap. Nastiti mengatakan penggunaan imunisasi saat ini mendapat tantangan yang cukup parah. Ada beberapa masyarakat yang ogah memberikan imunisasi kepada bayinya karena menganggap imunisasi tak sesuai dengan ajaran agama. "Padahal, pemberian imunisasi itu bisa mengurangi resiko bayi terkena berbagai virus dan bakteri termasuk bakteri penyakit pneumonia," katanya.

Selanjutnya adalah kurangnya vitamin A. Bayi yang lahir terlalu muda dan memiliki berat lahir rendah menjadi salah satu resiko penularan penyakit ini. "Anak-anak prematur rentan sekali pneumonia," katanya.

Faktor lain adalah cuaca dingin. Dari sisi lingkungan juga, bisa saja daerah tempat tinggal si bayi adalah daerah yang tinggi akan bakteri pembawa penyakit pneumonia. Masih karena lingkungan, asap rokok dan asap pabrik juga merupakan salah satu faktor terkenanya bayi penyakit radang paru-paru itu.

Pencegahan yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah dengan memberikan ASI yang cukup untuk si kecil. Nastiti mengatakan pemberian ASI cukup bisa menurunkan jumlah bayi dan balita terkena pneumonia sebanyak 15-23 persen.

Lalu memberikan imunisasi lengkap sebagai salah satu pertahanan untuk menjaga kesehatan bayi agar tetap sehat. Imunisasi bisa menurunkan bayi terkena pneumonia sebanyak 49 persen.

Cara berikutnya, menjauhkan bayi dari asap rokok serta polusi udara Dan terakhir, jauhkan bayi dari orang yang sedang sakit agar si bayi tak terkena infeksi. "Gaya hidup sehat dan menghirup udara segar juga bersih bisa mengurangi terjadinya pneumonia sebanyak 50 persen," kata Nastiti.

Pneumonia, Pembunuh Nomor Satu pada Balita

Menurut Nastiti, pada 2012 sebanyak 1,1 juta balita meninggal karena pneumonia. Jumlah itu merupakan 18 persen kematian balita secara keseluruhan di Indonesia. Urutan penyebab kematian selanjutnya adalah diare sebanyak 600 ribu balita, lalu malaria 500 ribu balita.

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Sigit Priohutomo, mengklaim jumlah kematian balita menurun pada 2014. Namun ia belum bisa memastikan angka tepat penurunan itu.

"Ada penurunan angka kematian bayi dan balita, namun jumlahnya tidak terlalu berbeda. Kematian bayi dan balita karena pneumonia masih tetap tinggi," kata Sigit dalam acara yang sama.

Pneumonia adalah penyakit radang paru-paru. Penderita penyakit ini mengalami kerusakan pada paru-parunya sehingga tak bisa memasok oksigen ke seluruh tubuh. "Jaringan di paru-parunya rusak," katanya. Kurangnya oksigen dalam tubuh paling parah dapat mengakibatkan kematian bagi penderita.

Anak-anak usia dini rentan mengalami penyakit itu. Faktor lingkungan menjadi salah satu alasan manusia, khususnya balita dan bayi, menderita pneumonia. "Sebanyak 99 persen kematian pneumonia terjadi di negara berkembang," kata wanita berkerudung itu.

Sigit mengatakan, di negara maju, penyebab pneumonia adalah virus. "Sedangkan di negara berkembang karena bakteri," katanya pada kesempatan yang sama.

Walau begitu, Sigit mengatakan, penyakit ini bisa dicegah. Caranya, bisa dengan memberikan air susu ibu eksklusif, pemberian imunisasi, dan mengurangi infeksi. Selain itu, mengurangi polusi yang datang dari luar ataupun dalam rumah. "Dari luar rumah bisa berupa polusi, dan dalam rumah dari asap rokok," kata Nastiti. [yy/tempo]