17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
BALITA

Belum Tentu Benar, 6 Rumor Tentang Kesehatan Anak Ini Masih Dipercaya

Belum Tentu Benar, 6 Rumor Tentang Kesehatan Anak Ini Masih DipercayaFiqhislam.com - Semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam urusan kesehatan. Meskipun, dalam keseharian kerap dijumpai berbagai hal yang masih dipercaya terutama karena dianggap sebagai 'warisan' turun-temurun.

Meski begitu, perlu ditilik lagi mana informasi atau hal-hal seputar kesehatan anak yang memang benar adanya atau hanya mitos belaka, seperti dirangkum berikut ini:

1. Mengunyahkan makanan pada anak agar lembut

Dikatakan Prof drg Armasastra Bahar, PhD dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kebiasaan mengunyahkan makanan anak agar lembut sangat tidak tepat. Sebab, banyak bakteri atau virus yang berada di gigi dan mulut ibu dapat berpindah ke anak melalui makanan yang dikunyahkan tersebut.

"Makanan bisa menjadi medium perpindahan virus dan bakteri dari ibu ke anak. Kalau misalnya si ibu ada yang giginya busuk atau abses, lalu mengunyahkan makanan untuk anaknya, nanti kumannya nempel di makanan dan pindah ke anak," tutur Prof Arma.

Senada denga Prof Arma, Prof drg Heriandi Sutadi, SpKGA(K), PhD mengatakan bahwa gigi busuk dapat menyebabkan infeksi menjalar ke seluruh tubuh. Tentunya, infeksi akan sangat berbahaya jika ditularkan ke anak yang data tahan tubuhnya belum sempurna.

2. Kaki dibedong agar tidak bengkok

Meski sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, membedong kaki bayi tidak ada hubungannya dengan lurus bengkoknya kaki bayi, demikian dikatakan dr Aditya Suryansyah SpA(K) dari RSAB Harapan Kita.

Umumnya saat masih bayi kaki memang bengkok, tapi jika setelah tumbuh besar kakinya tetap bengkok maka ini disebabkan adanya kelainan pada tulang.

"Pembedongan sebenarnya tidak berbahaya, hanya saja saat ini hal tersebut tidak wajib dilakukan karena terbukti tidak ada hubungannya dengan kaki bengkok. Pembedongan bayi pada zaman dulu dilakukan sebagai upaya menghangatkan bayi. Maklum, zaman dulu belum banyak tersedia baju hangat untuk bayi," papar dr Adit.

3. Bayi harus mandi setiap hari

"Mandi justru menghilangkan kelembaban di kulit bayi yang halus hingga bisa menyebabkan kering dan iritasi. Apalagi, berendam di air sabun bisa mengiritasi uretra bayi perempuan dan berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih," jelas Andrew Adesman, MD, kepala unit perkembangan dan perilaku anak di Schneider Children's Hospital, New York.

Ia menerangkan, selama Anda menjaga daerah genital, leher, dna lipatan kulit bayi agar selalu kering, Anda bisa memandikan si kecil dua sampai tiga kali seminggu. Saat mandi juga sebaiknya jangan terlalu lama merendam bayi dengan air sabun.

4. Tak masalah memberi anak sedikit dosis obat dewasa

Ketika anak batuk atau pilek, pemberian obat dewasa dalam dosis sangat sedikit sering dianggap sah-sah saja. Padahal, penggunaan obat sudah diatur berdasarkan usia penggunanya. Jika sembarang memberi obat pada anak. Ruam, alergi, diare, peningakatan denyut jantung, dan sulit bernapas bisa timbul akibat pemberian obat yang sembarangan pada anak.

"Sebaiknya beri anak obat yang sesuai dengan usia dan dosisnya. Jangan sekali-sekali mencoba memberi obat orang dewasa, komposisinya sudah pasti berbeda. Jika sakit anak berlanjut lebih baik segera bawa ke RS," tutur dr Marissa Pudjiadi SpA dari RS Premiere Jatinegara.

5. Isap ingus bayi agar hidung tak mampat

"Tidak dianjurkan mengisap ingus menggunakan mulut karena berisiko terkena penyakit. Pada saat pilek dan ingus sulit keluar, orang tua bisa meneteskan cairan salin ke dalam hidung supaya lebih gampang keluar," tutur dr Meta Hanindita yang kini tengah mengambil pendidikan dokter spesialis anak di FK Unair/RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Agar ingus lebih mudah keluar, menurut dr Meta bisa dengan membalurkan balsem pelega pernapasan. Terapi uap pun dapat dibuat sendiri misalnya dengan meneteskan cairan saline ke dalam mangkuk berisi air hangat supaya beruap sehingga bisa terhirup uapnya.

6. Minum kopi bisa cegah kejang pada anak

"Sampai saat ini kabar kejang demam bisa dicegah dengan kopi masih mitos dan belum pernah ada penelitian yang bisa menjelaskan tentang hal tersebut," ujar dr Rifan Fauzie, SpA.

Menurut dr Rifan, hal yang sebaiknya dilakukan ketika anak mengalami kejang demam yakni dengan memberi si kecil obat penurun demam agar suhu tubuh tidak meningkat serta tetap mencukupi kebutuhan air si kecil.

Bahkan, ketika orang tua justru memberikan kopi ketika anak kejang demam, menurut dr Rifan hal itu justru akan membuat kopi yang diberikan tidak akan masuk pencernaan atau ke lambung, tapi akan masuk ke paru-paru. Nantinya kopi ini akan menimbulkan reaksi yang bisa menyebabkan terjadinya peradangan di paru-paru.

yy/health.detik