20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BALITA

Anak Tukang Ngambek, Miliki Kelainan Pada Otak

http://1.bp.blogspot.com/_V4VSCVfX7a0/SbCCKdSJmvI/AAAAAAAAANs/kGSc4ta4cC8/s320/Pemuda+Bethany+Manyar+-+Ayah+dan+Anak.jpg

Tampaknya cerita mitos yang beredar sejak dahulu kala mengenai anak pemarah memiliki struktur otak yang berbeda, ternyata benar adanya.

Nicholas Allen dari Melbourne membenarkan ada hubungan antara ukuran dan struktur beberapa bagian otak dengan cara anak berperilaku. Bagian otak yang terkait dengan reaksi emosional jauh lebih matang pada anak yang seringkali bertengkar dengan orangtuanya. Emosi mereka jauh lebih berkembang dibandingkan otak yang membantu mereka mengatur emosinya.

Ketidakseimbangan ini akan berakhir saat otak manusia selesai berkembang, yaitu pada usia sekitar 20 tahun-an.

Ada juga hal lainnya yang dapat mempengaruhi emosi berlebihan itu. Bisa saja keluarga anak tersebut telah mengembangkan pola interaksi yang buruk, atau anak memang harus lebih banyak diajari mengenai tanggung jawab atau hal-hal lainnya untuk menghormati orang lain. Bisa juga terjadi karena lingkungan. Penelitian lainnya menemukan bahwa keacuhan yang berlebih, siksaaan secara seksual dan fisik dapat mempengaruhi perkembagnan otak.

Para peneliti tidak yakin apakah kondisi biologis mempengaruhi lingkungan sekitar, atau sebaliknya. Mungkin pernyataan yang lebih tepat adalah kedua hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Mitos kuno yang diturunkan lewat cerita mulut ke mulut mengatakan bahwa anak pemarah, memiliki otak yang berbeda. Tampaknya cerita nenek tersebut tepat: anak pemarah benar-benar memiliki kelainan di otaknya.

Sebuah penelitian belum lama ini menemukan bahwa para remaja yang sering bertengkar dengan orang tuanya memiliki struktur otak yang jelas berbeda dengan sebayanya yang lebih kalem.

Para peneliti Australia memetakan struktur otak 137 anak usia pra-remaja, dan kemudian merekam mereka selama pembicaraan "penyelesaian masalah" dengan orang tuanya mengenai hal yang kerap menimbulkan problem, misalnya pekerjaan rumah, waktu tidur atau penggunaan internet dan ponsel.

"Memang benar ada hubungan antara ukuran dan struktur beberapa bagian otak dengan cara si anak berperilaku," kata pemimpin penelitian, Nicholas Allen dari University of Melbourne.

Bagian otak yang terkait dengan reaksi emosional jauh lebih matang pada anak yang sering bertengkar dengan orang tuanya, kata Allen. " Emosi mereka berkembang jauh lebih pesat dibandingkan dengan bagian otak yang membantu mereka mengatur emosinya,"katanya.

Penemuan ini diharapkan dapat membantu orang tua memahami mengapa anak mereka yang tadinya sangat manis berubah menjadi orang asing tukang ngambek.

Ketidakseimbangan ini akan berakhir saat otak manusia selesai berkembang, yakni di usia 20-an. "Banyak orangtua yang merasa lega saat diberi tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang abnormal ataupun penggambaran karakter si anak yang permanen, melainkan perubahan sikapnya yang menjadi tukang ngambek itu lebih dikarenakan perubahan biologis masa remaja," katanya menjelaskan lebih lanjut.

"Namun, ada juga hal lainnya yang dapat mempengaruhi emosi berlebihan itu. Bisa jadi keluarganya telah mengembangkan pola interaksi yang buruk, mungkin si anak memang pemalas, atau si anak memang butuh lebih diajari mengenai tanggung jawab atau cara menghormati orang lain".

Juga, mungkin saja perubahan biologis ini dikarenakan lingkungan rumahnya, kata Allen pada penelitian yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences.

"Kami tidak yakin apakah kondisi biologis mempengaruhi lingkungan sekitar, ataukah sebaliknya, lingkungan sekitar yang mempengaruhi kondisi biologis. Mungkin pernyataan yang paling tepat adalah kedua hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain".

Allen berharap akan dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut seiring dengan penyelidikan yang lebih mendalam yang dilakukan kelompoknya melalui penelitian jangka panjang mengenai para remaja ini dan orang tuanya.

Mereka menganalisis interaksi keluarga tersebut secara dekat, untuk melihat apakah ada kaitan antara kemampuan atau pola asuh orangtua dengan perkembangan emosi dan biologis si anak remaja.
Diberitakan dari - HealtToday Indonesia. (fn/is/kk/suaramedia.com)