20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BALITA

Pantangan Saat Bayi Dipersiapkan Menerima Makanan Baru

http://4.bp.blogspot.com/_k9Xk0WEWy9g/S-Vvs_jJmXI/AAAAAAAAAPk/yFPkC1L-TaQ/s1600/makanan_bayi.jpg

Kebanyakan ibu biasanya masih ragu, makanan apa yang perlu disiapkan untuk memperkenalkan makanan padat untuk bayi. Usia yang disarankan bagi anak untuk disapih dari ASI dan susu formula adalah 4-6 bulan, demikian menurut American Academy of Pediatric. Setelah itu, perlahan-lahan Anda bisa mulai menyediakan makanan baru agar pencernaannya mulai menyesuaikan diri. Anda juga bisa memberikan makanan baru ini sebagai tambahan untuk ASI atau susu formulanya.

Ketika anak mulai disiapkan untuk menerima makanan-makanan baru, ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak mereka konsumsi hingga usianya 1 tahun:

Madu
Madu bisa saja mengandung spora botulisme, salah satu kondisi yang disebabkan akibat keracunan makanan. Saluran usus orang dewasa mungkin cukup kuat untuk mencegah pertumbuhan spora ini, tetapi sistem pencernaan bayi belum mampu melakukannya. Mengonsumsinya bisa menimbulkan racun yang cukup membahayakan.

Selai kacang
Teksturnya yang tebal dan lengket membuat bayi sulit untuk menelannya. Belum waktunya bagi Anda untuk memperkenalkan selai kacang atau olesan lainnya yang bertekstur sama untuk si kecil.

Susu sapi
ASI masih menjadi pilihan terbaik sampai si kecil berusia 1 tahun. Pasalnya, bayi masih belum dapat mencerna protein dalam susu sapi dengan semestinya. Lagi pula, susu sapi tidak mengandung nutrisi yang diperlukan seperti pada ASI. Susu sapi juga mengandung mineral-mineral yang bisa saja merusak ginjalnya yang sedang berkembang.

Makanan lain yang perlu dihindari
Garam (ginjal bayi belum cukup kuat untuk menerimanya), makanan rendah lemak (tidak disarankan untuk anak di bawah usia 2 tahun), jus buah atau jeruk murni, telur mentah, pemanis buatan, hot dog, dan sosis yang tinggi kadar lemak. Begitu pula makanan dengan tambahan bumbu dan rempah-rempah.

Makanan yang bikin tersedak

Makanan sebesar kacang paling aman untuk bayi karena peluang untuk tersedak sangat kecil. Jadi, selalu potong seukuran dadu makanan apa pun yang Anda siapkan untuk bayi, entah itu buah, sayuran, keju, atau daging. Makanan yang kecil, tetapi keras, seperti kacang, popcorn, permen, atau kismis, perlu dihindari agar si kecil tidak tersedak. Bahkan, makanan yang lunak seperti marshmallow atau jelly pun bisa tersangkut di kerongkongannya.

Alergi
Biasanya Anda akan diminta dokter menunggu sampai si kecil berusia 1 tahun atau lebih untuk memperkenalkan makanan padat yang bisa mengandung alergen. Contohnya, makanan yang mengandung kacang. Sebaiknya kenalkan jenis makanan baru secara berangsur-angsur. Tunggu saja sampai beberapa hari untuk memastikan bayi tidak mengalami reaksi negatif dari makanan tersebut. Jika keluarga Anda memang cenderung mengalami alergi, konsultasikan dulu ke dokter mengenai cara memperkenalkan makanan, seperti susu sapi, kacang, gandum, ikan, dan telur.

Tidak makan di mobil
Jangan biarkan anak makan sendiri di dalam mobil, apalagi jika Anda sedang memegang kemudi. Ketika jalanan tidak rata, lonjakan yang ditimbulkan bisa bikin anak tersedak.

Kapan bayi boleh makan?
Dalam beberapa minggu pertama setelah disapih, bayi bisa diberi makan puree (bubur buah), seperti puree wortel, kentang, ubi jalar, pisang, dan pir. Makanan bayi kemasan sebaiknya dibatasi karena sering kali mengandung banyak gula. Yang paling aman memang membuat sendiri makanan untuk si kecil.

Sementara itu, sistem pencernaan yang belum matang membuat bayi tidak boleh diberi makanan padat sebelum waktunya. Di usia 6 bulan, barulah sistem perncernaan itu mulai siap untuk mengolah makanan padat.

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan pokok bayi sejak lahir. Saat bayi beranjak besar, energi yang dibutuhkan tentu semakin banyak. Itulah sebabnya, ia perlu dikenalkan pada makanan padat. Kebutuhan akan makanan tersebut umumnya dimulai ketika bayi berusia 6 bulan.

Karena ketidaktahuan, masih sering kita lihat orangtua yang terlalu cepat memberi makanan padat kepada bayinya. Usia bayi baru menginjak dua bulan pun sudah coba-coba disuapi bubur khusus, bahkan pisang ambon. Alasannya supaya anak cepat besar, kalau bukan dianggap bahwa si bayi sudah tidak cukup dengan ASI. Tindakan ini menurut para ahli justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan.

Belum Sempurna
Yang disebut makanan padat bagi bayi adalah makanan dengan konsistensi lebih padat, bukan makanan keluarga. Misalnya bubur saring, bubur susu, nasi tim, biskuit khusus, termasuk buah-buahan dan sayuran yang dilumatkan.  

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF (badan dunia yang menangani masalah anak-anak) manfaat ASI yang sedemikian banyaknya membuat mereka mengeluarkan pernyataan agar ibu terus memberi ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.

Pernyataan itu sebenarnya tidak semata-mata karena manfaat ASI. Menurut Dr. Saptawati Bardosono, MSc.,Ph.D, badan dunia itu menyadari bahwa enzim pencernaan bayi berusia di bawah 6 bulan, belum siap. Pemberian makanan padat sebelum usia 6 bulan dikhawatirkan akan membuat bayi diare karena proses penyerapannya belum sempurna.

Hal penting lain yang juga perlu dipertimbangkan, bila bayi diberi makanan padat sebelum waktunya, produksi ASI akan menurun. Hal itu selanjutnya dapat mengganggu kedekatan emosi antara bayi dan ibu yang sedang terjalin.

Melihat faktor-faktor tersebut memang ASI teramat baik untuk dijadikan makanan hingga bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, manakala enzim pencernaan sudah matang, barulah bayi boleh dikenalkan pada makanan padat.

Pada usia 6 bulan, dijelaskan, Mary L. Gavin, MD, Steven A. Dowshen, MD, dan Neil Izenberg, MD, dalam buku Fitkids, A Practical Guide to Raising Healthy and Active Children-from Birth to Teens, kepala dan leher bayi juga sudah cukup kuat. Dan itu juga berpengaruh terhadap proses pemberian makanan.

Harus Bertahap
Saat bayi sudah dapat mengontrol kepala dan lehernya, makanan yang disuapkan padanya tidak akan dikeluarkan lagi. Rupanya, sebelum usia tersebut, bila bayi disuapi, secara refleks ia akan mengeluarkan makanan itu.

Tanda lain yang kerap digunakan untuk mulai memberikan makanan padat juga bisa dilihat dari perkembangan bayi tersebut. Saat bayi mulai bisa duduk, menjulurkan kepalanya saat disodori makanan, atau meraih makanan yang sedang Anda santap, bisa menjadi pertanda bahwa bayi siap diberi makanan padat. Namun, para ahli tetap memberikan patokan usia 6 bulan.

Pemberian makanan padat sebaiknya dilakukan secara bertahap. “Tentunya supaya pencernaan bayi tidak kaget,” kata Dr. Saptawati. Kondisi ini sepenuhnya bisa dipahami. Sistem pencernaan yang tadinya hanya dialiri cairan ASI, tiba-tiba kedatangan benda baru yang padat.

Supaya sistem pencernaan bisa mengenali dan beradaptasi dengan baik, tentu saja makanan harus diberikan sedikit demi sedikit. Pengenalan berbagai jenis makanan juga mesti diberikan secara bertahap, misalnya mulai dari bubur susu, bubur biasa, nasi tim, hingga nasi.

Biskuit yang diencerkan dengan susu formula atau ASI juga bisa diikutsertakan. Begitu juga dengan buah-buahan dan sayuran, harus dilumatkan terlebih dahulu. Jika sudah memungkinkan, makanan padat bisa diberikan tiga kali sehari dalam porsi kecil.

Contoh Makanan Padat:
Usia 6 bulan
Bubur susu 1-2 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran dalam jumlah sekitar 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Buah dalam jumlah kecil, sekitar 1-2 sendok makan, dilumatkan.

Usia 7 bulan
Bubur susu 2-3 sendok makan, dua kali per hari.
Sayuran 2-4 sendok makan, dilumatkan.
Buah 2-4 sendok makan, dilumatkan.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang 1 sendok makan, dilumatkan.

Usia 8 bulan
Bubur susu 2-3 sendok makan, dua kali per hari.
Sayuran 6-8 sendok makan, dilumatkan.
Buah 2-4 sendok makan, dihaluskan.
Daging, ikan, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang, nasi, 1-2 sendok makan, dilumatkan.

Usia 9 bulan
Bubur susu 3-4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 2-3 sendok makan, dilumatkan.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dilumatkan.

Usia 10 bulan
Bubur susu 3-4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan atau dicincang kasar.
Ikan, daging, ayam, 1-2 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dilumatkan.

Usia 11 bulan
Bubur susu 4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dihancurkan, dilumatkan, atau dicincang.
Ikan, daging, ayam, 2-4 sendok makan, dilumatkan atau dicincang.
Kentang, nasi, 4-5 sendok makan, dilumatkan atau dicincang.

Usia 12 bulan
Bubur susu 4 sendok makan, dua kali sehari.
Sayuran 3-4 sendok makan, dicincang kasar.
Buah 3-4 sendok makan, dicincang.
Ikan, daging, ayam, 3-4 sendok makan, dicincang.
Kentang, nasi, 2-3 sendok makan, dicincang atau sedikit dihancurkan.

Banyak ibu mengakui, pemberian makan makin mudah jika bayi sudah berusia 1 tahun. Karena, jenis makanan yang dikonsumsi sudah sama dengan makanan keluarga. Tapi, ada hal lain yang mesti Moms perhatikan.

Semakin bertambah usia dan tingkat pertumbuhan, gizi yang diperlukan anak akan semakin lengkap. Selain bahan makanan berkualitas, pemenuhan gizi anak juga harus memerhatikan variasi dan cara pengolahan makanan.

“Tidak ada satu jenis makanan pun yang sempurna, sehingga makin bervariasi makanan akan makin baik. Perhatikan pula kualitas makanan di mana gizinya harus lengkap, dan gunakan bahan makanan segar. Pengolahannya juga harus baik, seperti memasak tidak terlalu matang, tidak dihangatkan, dan tanpa penyedap rasa,” jelas dr Fiastuti Witjaksono SpGK.

Sebagai panduan, dr Fiastuti memaparkan komposisi gizi seimbang dalam satu porsi makanan si kecil, yakni karbohidrat (utamakan karbohidrat kompleks) 50-60 persen, protein 10-25 persen (hewani: nabati = 2 : 1), lemak (SAFA, MUFA, PUFA) 25-40 persen, serta vitamin dan mineral (A,D,E,K,B,C, Ca, dan sebagainya). Namun, dr Fiastuti menegaskan, ada beberapa makanan yang harus dihindari bayi di bawah 1 tahun.

“Beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari anak usia di bawah 1 tahun, yaitu gula, garam, madu, kacang-kacangan, dan susu sapi. Bahkan makanan ini bisa ditunda hingga anak usia 2 tahun,” tambah spesialis gizi RS Cipto Mangunkusumo ini.

Secara naluriah, diimbuhkan dr Fiastuti, anak pada dasarnya belum mengenal rasa makanan sehingga cenderung tidak memilih makanan. Jika terbiasa mengonsumsi makanan yang diberi penambah rasa, mereka akan terbiasa dengan rasa tersebut. Alhasil, si kecil hanya mau makan kalau makanannya berasa.

“Tidak perlu ditambahkan rasa asin atau manis. Toh, makanan alami sudah mengandung gula, nasi atau labu, misalnya. Makin benar orangtua mengajarkan pola makan, maka makin mudah anak menerima makanan karena mereka mudah menyesuaikan dengan pola makan yang diterapkan orangtua,” tukasnya.

Madu sebaiknya tidak diberikan karena mengandung karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Juga kacang-kacangan dan susu sapi yang berisiko menyebabkan alergi pada bayi.

“Kenalkan makanan satu demi satu pada bayi, jangan dicampur. Kemudian, tunggu empat hari untuk memperkenalkan makanan baru lainnya, agar terlihat apakah bayi memiliki reaksi alergi terhadap makanan itu atau tidak,” jelasnya.

fn/k2m/ok/suaramedia.com