12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Si Kecil Pendiam Belum Tentu Bodoh

http://1.bp.blogspot.com/_f19OGcTrRmw/SAhWMb99s5I/AAAAAAAAAKc/EiI6NQwkxzw/s320/anak-ibu.jpg

Suka bercakap-cakap atau ceriwis merupakan salah satu pertanda kecerdasan karena berarti anak mampu menyerap informasi secara verbal, memahami, menarik kesimpulan, dan mengungkapkannya lewat keterampilan berbahasa yang baik.

Seperti dikatakan Ceti Prameswari, MPsi, sejatinya kelancaran anak berbicara dimulai pada usia 2 tahun. Di usia ini ia sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat sederhana, kosakatanya semakin bertambah, dan penguasaannya terus berkembang. Apalagi jika lingkungan memberi stimulasi yang memadai.

Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan anak semakin meningkat. Ia pun menjadi lebih ceriwis. Lebih lanjut, anak jadi ceriwis karena ia merasakan kesenangan saat bereksplorasi dengan lingkungan, baik itu orang baru, hal-hal baru, maupun pengetahuan baru, dan sebagainya.

Selain itu, anak juga banyak bicara dengan tujuan mendapatkan perhatian lingkungan. Dia belajar dari pengalamannya, dengan banyak bicara, orang jadi memerhatikannya karena dianggap menarik atau lucu.

"Yang jelas, anak-anak yang senang bicara dan bercerita biasanya senang berinteraksi dan berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan inginkan kepada orang lain," kata Ceti. Mereka memiliki potensi untuk bergaul dan mengembangkan relasi interpersonal yang lebih luas dibanding dengan anak-anak yang kurang terbuka dan kurang aktif bicara.

Sementara itu, anak perempuan lebih ceriwis? Ah, tidak juga. Sebab, keceriwisan anak tidak ada sangkut pautnya dengan gender, tapi bergantung pada karakter, lingkungan, dan pola asuh. Anak laki-laki ataupun perempuan sama-sama bisa jadi anak ceriwis.

Anak laki-laki bisa ceriwis jika tinggal di lingkungan yang orang-orangnya senang berekspresi secara verbal. Si perempuan boleh jadi menjadi seorang pendiam bila ia dibesarkan di lingkungan yang tidak talkative.

Kepribadian juga berperan dalam menentukan, apakah anak ceriwis atau tidak. Anak dengan kepribadian extrovert (terbuka) umumnya lebih banyak bicara dibandingkan dengan yang introvert (tertutup). "Ini bisa terjadi pada perempuan maupun laki-laki," papar Ceti Prameswari, MPsi, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Hal yang perlu diingat, biarkanlah kepribadian anak berkembang apa adanya. Jadi, jika anak tidak ceriwis, kita tidak perlu memaksakan anak menjadi ceriwis. "Mentang-mentang kita tahu ciri anak cerdas salah satunya adalah ceriwis, maka kita mati-matian mengasah agar anak menjadi ceriwis," tukas Ceti.

Itu jelas tidak benar karena yang terjadi bisa sebaliknya, anak akan semakin tutup mulut. Hal yang mungkin dilakukan adalah memberikan stimulus agar anak yang tadinya sangat pendiam menjadi sedikit terbuka.

Caranya dengan membiasakan agar ia dapat mengungkapkan isi pikirannya secara wajar. Tapi, ingat lho, ini bukan untuk memaksakan ia menjadi anak yang ceriwis atau senang bercakap-cakap. (fn/k2m/suarmedia.com)