pustaka.png.orig
basmalah.png


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Cara Menyenangkan Tingkatkan Nafsu Makan Anak Saat Sakit

http://health.detik.com/images/content/2009/07/21/764/bayi-makanan-(askamum)-depan.jpg

Saat kita jatuh sakit, mungkin sangat malas untuk melakukan aktivitas apapun termasuk untuk soal makan. Kita lebih memilih untuk tiduran di kamar. Bagaimana tidak? mulut kita terasa pahit, makanan apapun yang dimakan rasanya menjadi pahit. Masalahnya kita dituntut agar perut kita terisi makan sebelum minum obat, tapi kita tak nafsu makan, jadi bagaimana sebaiknya?

Yang perlu kamu ketahui adalah makanan sangat berpengaruh besar pada proses penyembuhan. Penelitian membuktikan bahwa orang yang makan teratur dengan gizi yang cukup akan cepat sembuh jika dibanding orang yang tidak makan.

Seperti obat, makanan berpengaruh besar pada proses penyembuhan. Banyak penelitian menunjukkan anak yang sakit akan sembuh lebih cepat bila makan teratur dan cukup gizi. Masalahnya pada saat sakit umumnya nafsu makan menurun drastis. Untuk mengatasinya ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

Hindari makanan yang digoreng atau banyak santan

Mengkonsumsi makanan yang digoreng atau bersantan cenderung menimbulkan sensasi mual dan mau muntah bagi orang sakit. Begitu juga makanan yang terlalu banyak bumbu. Untuk itu upayakan penyajian makanan dengan cara direbus atau sedikit bumbu santan.

Sajikan makanan dengan tampilan yang menarik


Guna mengimbangi penurunan nafsu makan, penyajiannya diusahakan semenarik mungkin. Misalnya dengan mewadahi lauk dengan aneka warna atau gambar yang lucu. Sendok dengan tangkai bendera. Ataupun penyajian telur puyuh seperti tusuk sate.


Sajikan dalam porsi kecil dan sering


Porsi makanan yang diberikan hendaknya dalam jumlah kecil, namun dengan frekuensi pemberian yang lebih sering. Segera berikan makanan apabila anak memintanya walaupun itu bukan waktunya untuk makan.


Ciptakan suasana yang menyenangkan


Sediakan waktu khusus untuk berbagi cerita atau mendongeng pada saat anak sedang makan. Dengan begitu, penderitaan anak akan banyak berkurang.


Perbanyak makanan dengan kandungan energi tinggi


Hasil riset menunjukkan, saat anak sakit terjadi peningkatan kebutuhan energi dan protein. Setiap peningkatan suhu tubuh 1oC diperlukan tambahan energi 13% serta tambahan protein sebesar 10%. Karena itu perbanyaklah pemberian makanan yang banyak kandungan energinya. Seperti sari buah, puding, dsb. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan energi dapat diberikan makanan berprotein tinggi yang berbentuk agak cair, seperti sup telur, soto daging cacah, dsb.


Nafsu makan anak-anak berkurang disebabkan oleh beberapa hal:


Kurangnya variasi makanan yang diolah.

Hal ini bisa ditanggulangi dengan:

1. Mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.


2. Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya dari ketela pohon direbus kemudian dihaluskan, kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula dan garam secukupnya.


3. Tetap diusahakan agar anak selalu makan (makanan utama) 3 kali sehari agar nutrisi yang masuk dalam tubuh anak terjaga, perlu diberitahukan pada pembantu rumah tangga yang menyuapi si anak agar sabar dan telaten.


4. Menambah multivitamin yang sesuai dengan kondisi dan umur anak misalnya selain ASI ditambah dengan susu yang dibutuhkan tubuh si anak (bisa melalui konsultasi gizi dengan dokter si anak).


Masa peralihan pemberian makanan lunak ke padat (umur 2 tahun keatas).

Hal ini bisa diatasi dengan ramuan:

1. Sesendok makan air jeruk nipis diberi gula secukupnya, diminum 2x sehari sesudah makan.


2. Sehelai daun pepaya segar dicuci lalu dilumatkan dengan sedikit garam dan diberi air matang sedikit demi sedikit kira-kira 1/4 gelas, peras airnya kemudian diminum sekaligus.


Sakit perut semacam sakit perut biasa, mencret/diare, cacingan, dll.

CACINGAN:

250 g mentimun dan 500 g tahu di buat sop.    
Segenggam daun pare segar diseduh dengan 1/4 gelas air lalu disaring dan diberi 1 sendok teh madu kemudian diminum sebelum sarapan.
5 wortel yang sudah dikeringkan ditumbuk/parut sampai menjadi bubuk, seduh dengan air secukupnya, minum 2x sehari, 5 g setiap kali minum. 

Bila cacingan kremi: 3 siung bawang putih dikupas, dicuci, kunyah sampai halus, telan dan minum air hangat, lakukan 1-2x sehari atau dengan resep : 1/4 kelapa hijau dan 1 wortel diparut, campur kedua bahan ini dengan bahan segelas air, peras dan saring, dan diminum malam hari sebelum tidur.


Bila cacingan gelang: 60 g jahe segar dicuci lalu dilumatkan dan diberi segelas air, lalu disaring dan diberi 1 sendok makan madu, dan diminum 3x sehari atau dengan resep : 2 sendok biji pepaya dilumatkan lalu diseduh dengan 1/2 gelas air panas, lalu ditambahkan 1 sendok makan madu dan diminum selagi hangat 1x sehari.


Andriyanto, S.H, M.Kes Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menjelaskan bahwa pada saat anak sakit sebaiknya diperhatikan pula asupan makanannya, yang dalam hal ini berbeda dengan anak sehat pada umumnya. Mulai dari tekstur makanan, jenis makanan, jumlah makanan dan juga cara pemberian makanan kepada anak yang sedang sakit ini.

Tekstur Makanan

Alumnus Magister Kesehatan Unair ini memberikan salah satu contoh ketika anak sakit yakni saat suhu tubuh anak meningkat. ”Semakin panas (suhu tubuh, Red) anak, beri makanan dengan tekstur lembut,” tutur dosen Akademi Gizi (Akzi) Surabaya ini. Suhu normal tubuh adalah 37ºC, ketika anak sakit dan suhu tubuh naik 1ºC, maka makanan yang diberikan pun dianjurkan semakin lembut yakni bubur tim, dan apabila suhu anak lebih dari 39ºC maka makanan diolah lebih lembut lagi menjadi bubur. Kemudian apabila suhu kembali naik lebih dari 40ºC makanan dianjurkan berbentuk cair.

Selain itu perlu diperhitungkan pula suhu makanan untuk si kecil. Makanan yang lunak dan hangat lebih disukai oleh bayi/anak yang sedang sakit. Sedangkan bagi bayi/anak yang masih harus menerima ASI hendaknya saat bayi/anak sakit ibu tetap memberikan seperti ketika bayi/anak tidak sakit.

Ada beberapa bentuk makanan yang dapat diberikan pada anak sakit, tergantung pada kemampuan saluran pencernaan makanan dan keadaan penderita, yakni :

a. makanan cair – dapat dibuat dengan susu atau tanpa susu. Sebaiknya makanan cair ini tidak mengandung bumbu yang merangsang, porsi kecil tapi sering, diberikan dengan suhu yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin.

b. Makanan saring – makanan saring diberikan kepada anak dengan infeksi akut saluran pencernaan, tetanus, sukar menelan, KEP (Kekurangan Energi Protein) dengan nafsu makan membaik. Makanan saring ini harus mudah dicerna, rendah serat, tidak menimbulkan gas, tidak mengandung bumbu yang merangsang, porsi kecil tapi sering, suhu makanan tidak terlalu padas dan tidak terlalu dingin.

c. Makanan lunak – diberikan pada anak yang mengalami demam tinggi. Diberikan pada anak dengan suhu meninggi. Sebaiknya harus mudah dicerna, rendah serat, tidak menimbulkan gas, tidak mengandung bumbu yang merangsang, porsi kecil tapi sering, dan tidak digoreng.

Sedikit Tapi Sering

Berikan makanan sedikit tapi sering. Sangat baik diberikan bubur yang diencerkan dengan kaldu ayam atau daging untuk merangsang nafsu makan anak. Selain itu perlu juga diperhatikan beberapa hal seperti jumlah makanan dan macam makanan. Jumlah makanan yang diberikan harus cukup untuk pertumbuhan, aktivitas dan memenuhi berbagai kebutuhan energi selama sakit. Macam makanan dan susunan makanan diperhatikan pada penyakit infeksi disertai demam, karena hal tersebut akan membutuhkan energi yang lebih tinggi untuk mengganti jaringan yang rusak serta meningkatkan kekebalan tubuhnya.

Namun bila bayi mengalami salah satu tanda di bawah ini, bawa bayi yang sakit ke Puskesmas:

  1. Sakit dan menolak untuk minum.
  2. Diare dan sedikit minum.
  3. Diare dan tinja mengeluarkan darah.
  4. Batuk dan susah bernafas.
  5. Frekuensi menyusu berkurang, terutama bila berumur kurang dari 2 bulan.
  6. Demam dan tinggal di daerah malaria.
  7. Bayi keadaannya tambah parah.

Tujuan pemberian makanan pada anak setelah sakit adalah:

  1. Mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
  2. Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat.
  3. Menambah berat badan hingga mencapai normal.

Tandanya seorang anak yang sakit kondisinya membaik adalah nafsu makan anak membaik. Pada bayi yang baru sembuh dari sakit teruskan pemberian ASI semau bayi. Teruskan pemberian MP ASI lebih banyak sampai berat badan bayi kembali ke normal. Sebaiknya bentuk/tekstur makanan yang diberikan pada anak setelah sakit adalah makanan perpindahan menuju ke bentuk makanan biasa

Bila kondisi anak sudah benar-benar membaik, anak dapat diberikan makanan biasa. Pada anak setelah sakit sebaiknya jangan diberikan makanan yang mengurangi nafsu makan seperti kue manis dan kue gurih.

Suaramedia.com