22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Cara Tepat Merawat Bayi Prematur Untuk Kejar Pertumbuhannya

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/17/1224268620X310.jpg

Pada umumnya bayi dilahirkan saat usia kehamilan 40 minggu atau lebih. Tetapi pada beberapa kasus, bayi lahir ketika usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Hal ini dikenal dengan prematuritas atau persalinan prematur. Menurut data WHO setiap 31 detik, seorang bayi prematur meninggal dunia. Lalu, di Indonesia terdapat 400.000 bayi lahir dengan berat badan rendah dan 30% - 40% dari bayi meninggal karena prematur. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan.

Untuk merawat bayi prematur memang dibutuhkan penanganan khusus. Hal itu karena organ-organ tubuh bayi belum berkembang secara maksimal. Sehingga risiko mengalami gangguan kesehatan sangat tinggi.

"Bayi prematur memiliki kondisi khusus yang berbeda dari bayi yang lahir normal. Untuk itu, perawatan harus dilakukan secara detail dan seksama. Hal ini untuk menghindari gangguan kesehatan di kemudian hari dan risiko kematian pada bayi," kata Dr. Gilberto R. Pereira, ahli perinatologi dan profesor emeritus dari University of Pennsylvania, School of Medicine, saat ditemui di Jakarta dalam acara peluncuran Kampanye Peduli Bayi Prematur oleh Wyeth.

Ada tiga langkah yang harus diketahui para orang tua dalam merawat bayi prematur. Hal ini sangat penting dilakukan sebagai cara mengurangi risiko masalah kesehatan dan kematian serta meningkatkan kualitas hidup bayi lahir prematur.

Langkah pertama yaitu 'Pastikan'. Artinya, selalu memastikan suhu tubuh bayi berada di antara 36,5 hingga 37,5 derajat celcius. Hal ini untuk menghindari hipotermia (tubuh kedinginan) atau hipertermia (tubuh kepanasan).


"Untuk hipotermia, cara paling mudah dilakukan adalah memeluk bayi dengan posisi kanguru (kangaroo care). Yaitu, menempelkannya di dada dan biarkan kulit ibu menempel pada kulit bayi. Hal ini bisa membuat suhu bayi kembali naik dan juga berdampak positif bagi kondisi psikologis ibu dan bayi," kata Dr. Pereira.


Langkah kedua adalah 'Disiplin'. Berikan asupan gizi yang lengkap tepat waktu dengan frekuensi 8 hingga 10 kali sehari. Asupan gizi paling baik untuk bayi adalah ASI (air susu ibu).


"Untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi prematur, ASI harus diperas. Nantinya ASI akan diberikan melalui selang, karena pada bayi prematur, kemampuan menghisapnya belum maksimal," kata Dr. Pereira.


Langkah ketiga adalah 'Fokus'. Lakukan pemantauan dan fokus pada frekuensi buang air besar dan kecil bayi prematur. Frekuensinya sekitar 4 hingga 6 kali sehari. Jika kurang atau lebih dari itu sebaiknya langsung periksakan ke dokter. Ada sejumlah hal yang bisa menyebabkan persalinan harus dilakukan sebelum waktunya. Padahal, memiliki bayi prematur sama artinya dengan menghadapi banyak risiko. Mulai infeksi, kebutaan, hingga meninggal dunia. Lalu, bagaimana cara merawat bayi prematur usai dilahirkan?

Orangtua manapun pasti menginginkan persalinan yang lancar dan tak bermasalah. Namun, saat terjadi musibah atau kondisi tertentu yang dialami sang ibu, persalinan kurang bulan, atau pre term, menjadi satu-satunya pilihan yang tak bisa dicegah.

Misalnya, ibu hamil yang terjatuh di kamar mandi hingga ketubannya pecah, atau ibu hamil dengan tekanan darah tinggi hingga mengalami kejang.

“Terkadang kondisi spontan maupun adanya indikasi tertentu menyebabkan kelahiran prematur tak bisa dihindari. Lebih baik dilakukan persalinan pre term, daripada nyawa bayi dan sang ibu melayang!” papar dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A (K), konsultan perinatologi, Divisi Perinatologi FKUI/RSCM dan Brawijaya Women and Cildren Hospital, Jakarta.

Ditegaskan pula oleh dr. Rini Hersetyati, Sp.M, optamologis atau ahli retina dari Klinik Mata Nusantara, Jakarta, bayi prematur terutama dengan berat dibawah 1500 gr dan usia kandungan kurang dari 32 minggu, berisiko mengalami kebutaan yang sering disebut retinopathy of prematurity (ROP).

Kasus inilah yang sempat dialami si kembar Jared-Jayden, yang sempat ramai diberitakan beberapa waktu lalu. Tak hanya kebutaan saja, risiko lain seperti infeksi dan kematian akibat beberapa organ yang belum matang, turut mengancam buah hati yang lahir sebelum waktunya.

Untuk meminimalisasi risiko ini, ada baiknya orangtua dan calon orangtua mengetahui bagaimana cara memperlakukan atau jenis perawatan yang dilakukan untuk bayi prematur, melengkapi penjelasan yang telah dipaparkan di atas.

Makin Muda Makin Berisiko

Rinawati menjelaskan, tak semua bayi prematur berisiko mengalami kebutaan maupun kegagalan organ. Untuk bayi usia kehamilan 35 sampai 36 minggu, dapat dikatakan memiliki karakter mirip dengan bayi cukup bulan. Termasuk kemampuan untuk bertahan hidup dan kematangan organnya.

Sedangkan bayi yang lahir di bawah 35 minggu hingga 28 minggu memiliki kematangan organ yang lebih rendah, dan biasanya juga berat badannya di bawah 2000 gram. Begitu pula bayi di bawah 28 minggu, sehingga dapat dikatakan, semakin cepat usia lahirnya semakin rendah kemampuan survival bayi.

Kondisi ketidakmatangan organ ini tentu saja membawa dampak besar bagi kualitas hidup bayi. Ancaman hipotermia, asfiksia (gagal adaptasi barnafas spontan), dan apnu prematuritas (lupa bernafas), akibat kurang matangnya otak merupakan ancaman paling besar yang dihadapi bayi prematur. Ancaman ini bahkan bisa merenggut nyawa bayi.
Selain itu, risiko hipoglikemi akibat kurang matangnya organ usus juga bisa mengakibatkan bayi kekurangan energi untuk menyempurnakan tubuh dan mengejar ketertinggalan pertumbuhannya.

Inkubator & Metode Kangguru

Demi menghindari risiko kematian bayi prematur, teknologi inkubator pun dibuat untuk meniru suasana dalam rahim ibu. Ini diberlakukan pada bayi prematur di bawah 35 minggu yang membutuhkan suhu stabil antara 36,5 sampai 37,5 derajat Celsius.

Selain itu, bayi juga perlu diberi infus untuk mengurangi risiko hipotermia dan bantuan oksigen untuk membantu menstabilkan pernafasan bayi. Sayangnya, pemberian suplai oksigen pada bayi di bawah 1500 gr atau 32 minggu, menurut Rini, bisa meningkatkan risiko ROP (retinopathy of prematurity).

Namun, pada dasarnya bukan oksigen yang membuat bayi prematur terancam buta, melainkan prematuritas yang juga mengakibatkan gangguan perkembangan retina akibat organ yang belum berkembang sempurna. “Sejak janin usia 4 hingga 40 minggu terjadi perkembangan aktif pada mata. Pada saat lahir idealnya mata mencapai 1/2 ukuran mata orang dewasa,” tukas Rini. Bila tidak matang, pertumbuhan bola mata yang berlangsung di luar rahim dapat mengalami komplikasi dan timbul jaringan parut dalam bola mata. Jaringan parut ini yang perlahan mengakibatkan desakan terhadap syaraf mata.

Lantas, hingga kapan bayi harus berada di dalam inkubator? Rinawati menjelaskan, pada dasarnya bayi prematur butuh mengejar ketertinggalan pertumbuhannya seperti halnya bayi lahir normal.

Maka dari itu, idealnya bayi yang butuh dukungan suhu, oksigen, dan infus, berada di dalam inkubator hingga mampu bertahan hidup atau sampai tanpa perlu bantuan alat itu lagi. Dan ini bisa dikatakan hingga mendekati usia kehamilan normal atau sekitar 36 minggu.

Rinawati juga menerangkan, masih ada metode selain inkubator untuk mempertahankan suhu tubuh bayi, namanya metode kangguru. Caranya, meletakkan bayi skin to skin contact dengan ibu atau ayah.
Selain membantu memberi kehangatan, cara ini juga mampu meningkatkan kemampuan psikomotor bayi dengan rangsangan sensoris ibu-anak. Akan tetapi, cara ini perlu mempertimbangkan kondisi bayi, apakah tidak mengalami gangguan pernafasan.

Masih Dapat Mengejar

Bayi prematur memang memiliki kerentanan terhadap lingkungan luar rahim. Namun, dengan ilmu pengetahuan, dapat dilakukan upaya untuk mengejar ketertinggalan itu. Untuk kasus paru-paru yang belum matang, Rinawati menjelaskan, hal ini masih bisa diintervensi dengan pemberian obat dan oksigen.

Sedangkan untuk pertumbuhan fisik dan kekebalan, ASI ibu sangat tepat diberikan untuk memacu pertumbuhan bayi. ASI memang terbukti mampu menyesuaikan kandungan dengan kebutuhan bayi.
Sayangnya, ASI yang tepat untuk bayi prematur ini hanya bertahan 4 minggu untuk memacu ketertinggalan pertumbuhan. Setelah 4 minggu ASI ini akan menjadi ASI untuk bayi cukup bulan. Nah, untuk bayi prematur yang berusia di bawah 30 minggu tentu tak dapat diberi ASI eksklusif saja hingga di atas 4 minggu. Ketika sudah mencapai 4 minggu usia kelahiran, ASI perlu ditambahkan human milk fortifier (semacam zat tambahan).

Penambahan zat ini akan melengkapi kebutuhan bayi prematur yang masih perlu mendapat asupan kalori lebih tinggi, sekitar 24 kalori per 30 cc ASI. Selain ketertinggalan pertumbuhan fisik, Rinawati juga mengingatkan kemungkinan perkem­bang­an kemampuan anak pre­ma­­tur yang lebih lambat dari anak­ yang lahir cukup bulan. "Kalau anak yang lahir prematur berusia 1 tahun belum bisa berjalan, maklumi saja. Jangan samakan dengan anak usia 1 tahun yang lahir cukup bulan," kata Rinawati menjawab kekhawatiran para orangtua terhadap pekembangan putra-putri yang lahir prematur. Ketertinggalan perkembangan ini umumnya masih dapat dikejar hingga anak usia 2 tahun. "Lewat 2 tahun, anak yang lahir prematur juga akan punya kemampuan yang sama dengan anak lahir cukup bulan seusianya. Kalau tidak, perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak," sarannya.

Sedangkan pada kasus ROP, Rini menjelaskan, pada dasarnya ROP pada stadium 1 sampai 3 akan mengalami perbaikan spontan atau sembuh tanpa intervensi medis. Namun, tak ada salahnya untuk membawa putra putri yang lahir prematur sejak usia 4-6 minggu ke dokter mata atau ahli retina (optamologis) untuk mendapat diagnosa ROP. Penanganan dini ROP dapat mencegah akibat terburuk, berupa kebutaan maupun risiko komplikasi seperti juling, ambliopia (mata malas), dan myopia.

Suaramedia.com

 

Artikel Terkait
  1. Menyelamatkan Bayi Prematur
  2. Salah Satu Penyebab Bayi Lahir Prematur
  3. Bayi Prematur Lebih Sensitif Dengan Rasa Sakit
  4. Selamat dari Lahir Prematur, Gangguan Mental Mengintai