4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Mengapa Kasus Alergi Pada Anak Meningkat?

http://anakbayibalita.files.wordpress.com/2010/02/make-homemade-baby-food-1.jpg

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi tren peningkatan angka penyakit alergi khususnya pada anak. Tahun 2006 terdapat 24,6 persen anak yang menderita eksim, jumlah itu meningkat dari tahun 1990 yang hanya kurang dari 10 persen.

Eksim atau dermatitis atopik merupakan bentuk alergi yang paling sering diderita anak. Pencetusnya antara lain faktor alergi makanan, misalnya susu sapi atau telur.

"Belakangan ini banyak bayi yang diberi susu formula, sehingga alergi pada anak meningkat," kata dr.Zakiudin Munasir Sp.A, Konsultan Alergi-Imunologi Anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Penelitian di Amerika menunjukkan 20 persen anak pernah mengalami alergi makanan. "Pada bayi, sistem pencernaannya belum sempurna sehingga rentan alergi," kata Zaki dalam acara media edukasi mengenai Alergi dan Imunitas di Jakarta.

Untuk Indonesia 5 besar makanan pencetus alergi pada anak adalah kelompok crustae (kepiting, udang), kacang, makanan laut, telur, serta susu sapi. "Sangat penting mengetahui jenis makanan pencetus alergi dan menghindarinya," katanya.

Oleh karena itu, bayi sebaiknya tidak diberikan makanan padat terlalu dini. "Berikan ASI sampai 6 bulan dan ibu menyusui harus mengindari makanan tertentu jika punya alergi," urainya.

Pada usia dini, tanda-tanda alergi biasanya adalah infeksi kulit seperti ruam merah dan gangguan saluran cerna seperti muntah dan diare. Dengan bertambahnya usia, reaksi alergi utama adalah pada sistem pernapasan, seperti asma.

Susu sapi memang diketahui memiliki banyak kandungan protein tinggi dan sangat baik bagi pertumbuhan buah hati Anda.

Namun apakah Anda tahu bahwa protein susu sapi juga dapat mengakibatkan alergi pada bayi?

Dalam sebuah seminar tentang "Apakah Alergi Diturunkan Secara Genetik," di Jakarta, Dr. Zakiudin Munasir yang menjadi narasumber menuturkan, reaksi alergi pada bayi dapat timbul pada saat awal-awal bayi mencoba susu sapi, reaksi alergi pertama kali ini biasanya timbul dengan gejala gangguan pada saluran pencernaan seperti terjadi diare dan muntah.

Masuknya protein asing ke dalam tubuh bayi dengan kondisi saluran pencernaan bayi yang belum sempurna membuat bayi rentan akan alergi yang diakibatkan susu sapi tersebut, tambah Dr Zakiudin.

Dokter spesialis anak bidang imunologi ini menghimbau bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi hingga usia 6 bulan.

Kandungan gizi lengkap pada ASI, seperti protein "Hypo Allergenik", DHA, probiotik dan kolostrum dapat melindungi bayi dari alergi.

Selain susu sapi, pemicu terjadinya alergi pada bayi juga dapat ditimbulkan oleh makanan lain seperti telur, kacang-kacangan dan sebagainya.

Perkembangan pola hidup masyarakat saat ini, serta semakin banyaknya jenis makanan/minuman yang mengandung zat-zat yang dapat merusak kesehatan, serta meningkatnya tingkat polusi juga menjadi faktor terjadinya alergi.

Alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh yang mengalami penyimpangan atau berubah dari normal, sehingga menimbulkan gejala-gejala yang merugikan tubuh. Mulai dari gangguan pernafasan, gangguan kulit, hingga gangguan mata dapat timbul akibat alergi.

Menurut Dr Zaikudin, ada tiga langkah yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya gangguan alergi yakni, menghindari semua yang menjadi pencetus alergi, menjalani pola hidup sehat serta memakai obat sesuai kebutuhan dan anjuran dokter.

Pengobatan alergi biasanya dilakukan dengan memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (digunakan dengan cara diminum, suntikan maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding-dinding sel mast pada tubuh si penderita.

Berdasarkan catatan para ahli, kasus alergi saat ini terus mengalami peningkatan, alergi protein susu sapi pada bayi merupakan kasus yang paling sering ditemui.

Sekitar 2 sampai 7 persen anak-anak usia di bawah dua tahun mengalami alergi protein susu sapi.

Gejala alergi karena protein susu sapi pada anak-anak sangat beraneka ragam, hal ini membuat banyak orangtua sulit mengenali gejala-gejala alergi yang ditimbulkan.

Cara paling mudah untuk mengenali bahwa anak Anda mengalami alergi susu sapi adalah dengan melakukan tes alergi dan melihat penyimpangan dengan anak normal lainnya, contohnya yakni bila anak Anda terus mengalami diare lebih dari satu minggu dan sudah diberi obat, maka sebaiknya harus segera dilakukan pemeriksaan apakah anak Anda mengalami alergi susu atau tidak.

Menghindari protein susu sapi maupun produk-produk turunan susu sapi merupakan salah satu langkah dasar agar bayi Anda tidak mengalami alergi.

Pemberian ASI ekslusif selama enam bulan merupakan yang terbaikĀ  bagi bayi Anda.n tes alergi dan melihat penyimpangan dengan anak normal lainnya, contohnya yakni bila anak Anda terus mengalami diare lebih dari satu minggu dan sudah diberi obat, maka sebaiknya harus segera dilakukan pemeriksaan apakah anak Anda mengalami alergi susu atau tidak.

Menghindari protein susu sapi maupun produk-produk turunan susu sapi merupakan salah satu langkah dasar agar bayi Anda tidak mengalami alergi.

Pemberian ASI ekslusif selama enam bulan merupakan yang terbaikĀ  bagi bayi Anda.

Sementara itu, suatu penelitian baru menyimpulkan, bahwa bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu-ibu yang mengalami stres selama masa kehamilan dapat meningkatkan resiko terkena asma dan gangguan alergi lain.

Para peneliti dari Harvard Medical School mengatakan bahwa stres seperti sebuah alat pengotor bagi wanita hamil yang ketika 'dihirup' dapat mempengaruhi tidak hanya sistim kekebalan tubuhnya tetapi juga mempengaruhi sistim kekebalan tubuh pada bayi yang dikandungnya dan membuat bayi menjadi lebih sensitif terhadap debu dan pemicu alergi lainnya.

"Ada banyak bukti yang mendukung dugaan bahwa kejadian-kejadian negatif yang menyebabkan stres memasuki tubuh dan mengganggu fungsi kekebalan tubuh," kata Dr. Rosalind Wright, seorang assistant professor of medicine di Brigham dan Women's Hospital and Harvard Medical School.

Debu tungau, serbuk sari, jamur dan zat-zat lainnya dalam lingkungan dikenal sebagai pemicu timbulnya asma dan alergi. Tetapi semua itu tidak sepenuhnya menjelaskan peningkatan tingkat penderita asma atau mengapa ada banyak penyakit di bagian dalam kota dan pendapatan jumlah penduduk lebih rendah.

Wright dan tim-nya bertanya-tanya apakah stres bisa berperan dalam hal ini. Dalam penelitian yang melibatkan sekitar 1.000 keluarga, para peneliti mengukur tingkat stres para wanita saat mereka hamil. Mereka juga mengukur berapa banyak debu yang ada di dalam rumah para keluarga tersebut.

Setelah menguji 387 bayi sejauh ini, para peneliti dari Boston menemukan bahwa peningkatan tingkat antibodi terlibat dalam reaksi alergi dalam darah para bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang mengalami tingkat stress yang lebih tinggi bahkan ketika mereka secara relatif terekspos pada tingkat debu yang rendah saat sedang hamil. Penemuan ini menarik bahkan setelah para peneliti menguji beberapa hal seperti apakah para ibu itu merokok, sejarah alergi sang ibu itu sendiri dan faktor-faktor lainnya.

Stres dapat meningkatkan jumlah hormon cortisol dan adrenalin yang dihasilkan oleh tubuh. "Jika sang ibu berada dalam kondisi stres kronik, perubahan hormon cortisol dan adrenalin ini dapat menjadi lebih kuat dan bahkan bisa ditularkan pada bayi," kata Wright. Dan hormon cortisol bisa merubah sistim kekebalan tubuh.

"Jadi jika sekarang ini sang bayi terekspos oleh peningkatan hormon cortisol dari ibunya, hal ini dapat merubah cara berkembangnya sistim kekebalan tubuh mereka dan membuat mereka menjadi lebih mudah terserang asma dan alergi", katanya.

Anak-anak tersebut terus dipantau untuk melihat bagaimana sebenarnya mereka terus mengembangkan asma. Sementara itu, Wright mengatakan para dokter seharusnya berbicara pada para wanita hamil "mengenai pentingnya untuk mencoba mengurangi stres karena dapat mempengaruhi kesehatan mereka sendiri dan bayi mereka."

Suaramedia.com