16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Bayi Pun Bisa Berikan Senyum Palsu

http://i848.photobucket.com/albums/ab42/ardivikers/baby_smile-270x300.jpg

Siapa yang tidak gemas melihat si kecil tersenyum, sambil matanya menatap Anda dengan antusias. "Ibu pulang!" begitu mungkin serunya. Rasa lelah setelah sepanjang hari bekerja (plus capek hati) pun sekejap menghilang, digantikan oleh rasa bahagia yang meluap tiada terkira saat melihat senyuman di wajah si kecil.

Namun, bila Anda amati, senyum bayi sebenarnya mengandung makna yang beragam. Senyumnya tidak hanya menandakan ia senang karena bertemu ibu atau ayahnya, tetapi juga lebih dari sekadar makna berkomunikasi. Senyuman bayi juga menunjukkan suatu perkembangan otaknya.

Dua jenis senyuman

Sejak lahir, bayi mampu memperlihatkan seringainya, namun senyuman ini seringkali hanya sekilas dan spontan saja sifatnya. Seringai tersebut dipicu oleh kobaran neuron di dalam batang otak, namun tidak dipengaruhi oleh suasana hati yang baik. Ada kalanya ketika buah hati Anda sedang terlelap, senyum ini akan keluar dengan sendirinya. Beberapa ilmuwan memperkirakan senyum ini disebabkan oleh sel-sel motorik yang berada di dekat otak dimana kondisi REM (rapid eye movement, dimana otak mengolah data dan ingatan sehingga bayi sering bermimpi atau mengigau) berasal.

Kadang-kadang, sudut bibirnya yang melengkung itu menampakkan seulas senyum palsu, tipe senyuman yang akan Anda tampilkan ketika sedang difoto atau ketika menerima pemberian dari orang lain. Senyuman yang tulus karena perasaan senang biasanya datang langsung dari sistem lembik (pusat emosi otak) dan mempengaruhi otot-otot mata yang disebut orbicularis oculi (ketika mata menyipit dan pipi mengembang). Anda tidak dapat memaksa otot-otot ini untuk bekerja, sehingga hanya perasaan yang benar-benar sajalah yang dapat membuat wajah Anda berseri-seri.

Dalam empat hingga 10 minggu kehidupannya, sistem lembik dan jaringan motor bayi telah cukup matang untuk menampilkan senyuman emosionalnya yang pertama kali. Bahkan si kecil bisa memberikan isyarat dari suara dan sentuhannya, lebih dari sekadar ekspresi wajah yang bahagia.

Terjadi bonding

Komunikasi antara orangtua dan anak tidak hanya terjadi dalam satu arah, ketika orangtua merawat bayi, tetapi juga ketika terjadi interaksi dua arah. Itulah yang terjadi ketika si kecil mulai menampilkan senyumnya yang asli. Terjadi suatu perlekatan (bonding) antara Anda dan bayi Anda.

Hanya saja, para ahli psikologi juga memperkirakan, bayi-bayi yang lebih besar pun masih sering menunjukkan senyum palsunya pada orangtua. Orang asing, khususnya, hanya kebagian senyum palsu ini. Jadi bila Anda sedang menggoda bayi teman Anda, dan ia tersenyum, jangan ge-er dulu. Mungkin ia hanya berbasa-basi pada Anda.

Sedangkan senyuman pada bayi usia 0-3 bulan tujuannya agar ia bisa cepat bersosialisasi dalam lingkungan yang baru baginya. Perasaan nyaman, hangat dan menyenangkan ia sampaikan lewat senyumnya. Ungkapan ini awal mula bayi mengerti dan merespon sesuatu yang ia lihat dan rasakan

Lakukan. Selain mengagumi kejutan yang ia berikan, jangan lupa Anda balas senyum mesranya agar bayi Anda mengerti Anda menerima senyumnya.


Tahukah Anda?

  • Jika bayi Anda tersenyum, hal itu adalah hadiah hebat bagi sang ibu. Karena senyum mesra bayi Anda berdampak positif sebagai pembangkit energi. Selain itu senyum bayi juga bisa mengaktifkan salah satu bagian otak ibu yang disebut reward center. Bagian ini membuka ikatan batin ibu-anak lebih terasah.

  • Saat bayi Anda tersenyum, tanggapilah dengan kontak mata dan balas tersenyum pula. Karena jika tidak ada kontak mata terutama dengan Anda, senyumnya bisa langsung hilang.

Senyuman seorang bayi ternyata tidak hanya akan menghangatkan dan meluluhkan hati sang ibu. Ekspresi bahagia bayi juga dapat menimbulkan efek luar biasa pada otak seorang ibu yang mungkin dapat dianalogikan sebagai ekstasi pembangkit energi.

Seperti yang dilaporkan Jurnal Pediatrics edisi Juli 2008,  senyum seorang bayi dapat mengaktifkan salah satu bagian dalam otak yang disebut "reward center" . Temuan yang didasarkan pada riset pencitraan otak ini dinilai penting karena akan membuka jalan dalam memahami dan menganalisa ikatan batin yang unik antara seorang ibu dengan bayinya.

“Hubungan antara ibu dan bayi sangat penting bagi perkembangan anak-anak,” ungkap Dr. Lane Strathearn, dari Human Neuroimaging Laboratory di Baylor College of Medicine, Houston, AS.

“Untuk alasan apapun, pada beberapa kasus, hubungan ini tidak terjalin secara normal. Kelalaian dan kekerasan dapat menimbulkan konsekuensi, dengan dampak yang mengenaskan pada pertumbuhan anak-anak,” jelas Strathearn

Strathearn dan rekannya menggunakan metode magnetic resonance imaging (MRI) untuk memindai otak sekitar 28 ibu yang baru pertamakali melahirkan. Para ibu diinstruksikan melihat foto-foto bayi mereka dan bayi orang lain yang berusia 5 hingga 10 bulan  .

Pada beberapa foto, bayi tampak tersenyum atau bahagia. Pada foto lain, ada pula yang berwajah sedang sedih dan ekspresi biasa atau netral.

Lewat metode pencitraan ini, peneliti menemukan adanya aktivasi pada daerah penting pada otak yang berkaitan dengan "reward" selain juga peningkatan neurotransmitter dopamine ketika para ibu melihat foto bayi mereka yang tersenyum.  

Kata peneliti, aktivasi ini menandakan adanya peningkatan aliran darah ke salah satu bagian otak tersebut. Area atau daerah otak ini diyakni telah terstimulasi oleh bayangan-bayangan dari bayi mereka yang kemudian larut dalam pikiran, gerak, perilaku dan emosi.

“Ini merupakan bagian otak yang juga dapat diaktifkan dalam penelitian lain berkaitan dengan kecanduan obat-obatan,” papar Strathearn.

“Melihat senyuman bayi mereka sendiri seperti halnya natural high,” tambahnya.

Kekuatan dari reaksi ibu akan tergantung dari ekspresi wajah bayi mereka. Aktivasi yang paling kuat, lanjut Strathearn, adalah saat melihat wajah bayi tersenyum. Sedangkan dari gambar dengan ekspresi sedih atau netral, dampaknya tidak begitu kuat.  

“Kami juga mengharapkan suatu reaksi berbeda dengan wajah yang sedih,” jelas peneliti.

Faktanya, tim peneliti menemukan sedikit perbedaan dalam reaksi otak ibu tehadap wajah bayi mereka yang sedang menangis dibandingkan dengan wajah dari anak yang tak dikenal.

Secara keseluruhan, para ibu memberi respon yang lebih kuat pada wajah anak-anak mereka ketimbang wajah anak yang tak dikenal.

Dengan memahami bagaimana seorang ibu memberi respon secara unik pada bayi mereka ketika terseyum atau menangis, kata Strathearn, mungkin akan menjadi tahap awal dalam memahami dasar-dasar ikatan antara ibu dan bayi berkaitan dengan ilmu syaraf.

Suaramedia.com