15 Syawal 1443  |  Selasa 17 Mei 2022

basmalah.png

Ajari Berenang Buat IQ Bayi Lebih Tinggi

http://4.bp.blogspot.com/_TCx-cU0PAJI/SHzWOCwZpVI/AAAAAAAABZQ/eQWp1TD3sFc/s320/bayi3.jpg

Mengajari bayi berenang? Enggak salah, nih? ternyata tidak. Justru Anda perlu mengajarkan si kecil berenang sejak usianya masih beberapa bulan. Olahraga ini ternyata dapat membantu bayi mengembangkan ketrampilan fisiknya secara impresif dalam hidupnya kelak. Menurut sebuah penelitian dari University of Science and Technology di Norwegia, bayi yang bisa berenang ternyata memiliki keseimbangan yang lebih baik, dan mampu menggapai obyek-obyek di sekitarnya lebih mudah daripada bayi yang bukan perenang.

Hal ini terlihat ketika Profesor Hermundur Sigmundsson dari NTNU dan Profesor Brian Hopkins dari Lancaster University membandingkan 19 bayi perenang dan 19 bayi lain yang tidak mengikuti latihan renang. Satu-satunya hal yang membedakan dua kelompok ini adalah bahwa kelompok pertama berenang. Sedangkan faktor-faktor lain seperti latar belakang pendidikan orangtua dan status ekonominya sama.

Bayi perenang tersebut berlatih renang selama dua jam seminggu, diawali sejak usia 2 atau 3 bulan, hingga sekitar 7 bulan. Dalam suatu sesi latihan, pelatih membantu bayi melakukan gerakan jungkir-balik di atas matras yang mengapung, menyelam di bawah air, melompat dari pinggir kolam renang, dan menyeimbangkan diri di tangan orangtuanya sambil berusaha meraih obyek-obyek yang mengapung.

Ketika usia mereka beranjak 5 tahun, kedua grup itu diuji dengan sejumlah latihan seperti keseimbangan (berdiri dengan satu kaki), lompat tali, dan menangkap bantal. Perbedaan mereka ternyata sangat mengejutkan.

"Kami melihat sangat jelas bahwa bayi perenang mampu melakukan latihan tersebut dengan baik, bila dikaitkan dengan keseimbangan dan kemampuan meraih benda-benda," ujar Profesor Sigmundsson.


Sigmundsson mengungkapkan bahwa tercengang dengan apa yang dapat dilakukan instruktur renang terhadap bayi-bayi tersebut.

"Instruktur bisa membawa bayi-bayi berumur 3 bulan untuk melakukan posisi seimbang, berdiri dengan telapak kaki rata. Bayi-bayi itu mengunci sendi-sendinya, sangat menyenangkan melihatnya," lanjut Sigmundsson.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Child: Care Health and Development edisi Mei 2010 tersebut, menurutnya, mampu memperlihatkan bahwa latihan tertentu yang diterapkan pada anak-anak bisa mempengaruhi kemampuannya kelak. "Studi kami menunjukkan bahwa kita tidak boleh meremehkan aspek pembelajaran," katanya.

Sejak bayi sebenarnya seorang anak sudah dapat diajarkan berenang, sebab saat di dalam kandungan, seorang bayi telah terbiasa berada di dalam cairan selama 9 bulan. Dalam cairan ketuban, seorang bayi akan merasa nyaman dan hangat. Karena itu sejak lahir, si kecil telah memiliki kemampuan instingtif untuk bergerak di bawah air dan tidak takut saat berada di dalam air.

Pada usia sekitar empat bulan, seorang bayi telah punya ‘reflek menyelam’ mencegahnya menelan air saat berada di dalam air. Itu sebabnya, di usia ini si kecil akan sangat mudah untuk dilatih berenang. Tapi setelah otaknya berfungsi dengan baik, reflek ini akan berangsur menghilang, sehingga mau tak mau ia harus kembali belajar menahan napas di dalam air.

Untuk memulai belajar berenang, sebaiknya orangtua memperkenalkan si kecil lebih dulu dengan bermain di bak kamar mandi atau di kolam plastik. Pastikan air yang digunakan cukup hangat, yaitu minimal 33 derajat celcius, sehingga ia tidak kedinginan. Kolam renang kecil ini, akan membantunya memperkenalkan sensasi berada di dalam air. Merasakan bagaimana tubuhnya berada di air, sebelum ia diperkenalkan dengan kolam renang sungguhan.

Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistis IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tidak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional dan sosialnya pun lebih baik.
Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa, karena bayi tak pernah memiliki faktor X semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.

Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam, karena pada usia tersebut, ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. “Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan,” jelas Dr. Karel Staa dari RS Pondok Indah.
Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut, bayi tak bisa berenang lagi, loh…Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisir atau acak-acakan. Soalnya, dengan adanya gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang

MANFAAT BERENANG

* Menghilangkan rasa takut pada air
Banyak anak tak mau belajar renang karena takut air. Jika aktivitas renang dikenalkan sejak bayi, hal itu tak akan terjadi.

* Sarana bermain
Bermain tak harus selalu di kamar atau di taman. Kolam renang bisa juga menjadi sarana bermain yang menyenangkan.

* Menyehatkan badan dan merangsang gerakan motorik
Dengan bermain air, otot-otot bayi berkembang, persendiannya tumbuh secara optimal, pertumbuhan badannya meningkat, dan tubuh pun jadi lentur. Dengan kata lain, semua komponen tubuhnya akan terlatih melalui renang karena seluruh anggota tubuh mulai dari kaki, tangan, hingga kepala digerakkan walaupun belum dengan teknik yang sempurna. Bayi jadi terlatih dan daya tahan tubuhnya pun lebih terjaga.

* Mengasah kemandirian, keberanian, dan percaya diri
Berenang mendorong bayi tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini tercermin saat bayi tak lagi takut menjelajah bersama orang tua di kolam yang besar.

* Kemampuan sosial
Berenang bersama-sama di kolam akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan meningkatkan kemampuannya beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang lain.

* Meningkatkan IQ
Keuntungan lainnya, gerakan anggota badan si kecil saat berenang pun, diduga dapat merangsang pertumbuhan syaraf-syaraf tepi. Sehingga syaraf otaknya menjadi lebih aktif dan diharapkan mampu meningkatkan kepintarannya.

Jadi jangan lupa untuk menemani si kecil saat berenang, karena kedekatan yang terjalin erat antara orangtua dan anak adalah yang terpenting bagi perkembangannya. Keakraban antara orangtua dan anak, sangat berharga saat ia dewasa kelak.

PERHATIKAN KEBERSIHAN AIR

Nah, kini ayah & bunda semakin mantap, kan, mengajak si kecil berenang?Tapi berenangnya di rumah saja, ya…kalau usia si kecil masih di bawah 6 bulan, agar bisa mengontrol kebersihan dan suhu airnya. Jangan lupa, di usia ini enzim pencernaan bayi belum matang. Jadi, kalau ia secara tak sengaja menelan air yang tak bersih kala berenang, bisa mengakibatkan mencret, muntah, dan sebagainya.
Bukan berarti di rumah harus ada kolam renang, loh…Toh, banyak benda yang bisa dijadikan sebagai pengganti kolam renang seperti bak mandi, ember besar, bathtub, dan lainnya. Nah, biasakan bayi bermain di situ. “Sebenarnya, ketika bayi tengah mandi atau bermain air merupakan salah satu cara mengenali atau menghayati air pada anak,” tutur Dr. Karel.

Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas barulah bawa ia ke kolam renang terbuka atau umum. “Tapi ada hal-hal yang harus diperhatikan apabila mau membawa bayi berenang di kolam renang umum, misalnya pilih waktu yang tepat, yaitu ketika kolam renang masih dalam keadaan bersih, biasanya di waktu pagi. “Suhunya juga harus disesuaikan, sebaiknya jangan lebih dari 31 atau 32 derajat celcius.” Khusus untuk bayi usia satu bulan pertama, suhunya 34-35 derajat celcius.

Kebersihan lain yang harus diperhatikan ialah kaporitnya, “jangan terlalu jenuh, karena kaporit bisa mengakibatkan iritasi kulit, mata, dan lainnya.” Ukuran kaporit yang ditetapkan untuk anak adalah 6-8 ppm. Hati-hati, lo, Bu-Pak, jika bayi sudah merasa trauma karena matanya perih, selanjutnya akan jadi kendala.

PERIKSA DULU KONDISI BAYI

Sebelum mengajak si kecil, Ibu-Bapak perlu memeriksakan kondisi fisiknya ke dokter. Pasalnya, ada beberapa bayi yang tak boleh melakukan aktivitas renang semisal bayi yang memiliki kelainan, seperti kelainan jantung bawaan.

Sementara bayi prematur atau memiliki berat badan rendah ketika lahir, menurut Dr. Karel, bukan pantangan untuk diajak berenang. “Bayi prematur, kan , lahirnya kurang bulan tapi dengan berjalan waktu ia akan mengejar ketinggalannya sehingga beratnya akan bertambah.” Jadi, meski waktu lahir ia sempat tertinggal di belakang, namun pada titik tertentu ia akan bisa mengejar. Begitu pula bayi yang memiliki berat badan rendah.

Hal lain yang harus diperhatikan ialah:
* Satu jam sebelum berenang, bayi harus sudah makan atau minum. Jangan ajak bayi berenang dalam keadaaan kekenyangan atau begitu makan langsung diajak berenang. Jangan pula mengajaknya berenang dalam keadaan lapar karena dikhawatirkan ia akan minum air kolam.
* Lama berenang paling efektif adalah setengah jam karena bayi perlu dijaga daya tahan tubuhnya atau dijaga agar tak bosan karena kelamaan.
* Orang tua juga perlu mempelajari pertolongan pertama, sehingga bila terjadi sesuatu yang tak dikehendaki bisa segera memberikan pertolongan pertama karena sudah tahu caranya.

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR RENANG

Untuk mulai mengajari bayi berenang, kata dokter spesialis kesehatan olahraga dari RS Pondok Indah, Jakarta ini, bayi mesti melalui tahap pengenalan air.
* Lakukan latihan awal dengan menggunakan kolam plastik sebelum masuk ke kolam sungguhan. Basahi tubuhnya seperti ketika memandikan agar tak timbul fobia air. Bawa serta mainan tahan air seperti mainan bebek atau ikan, agar ia merasakan main di kolam sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan ragu untuk melibatkannya agar mau bermain-main, seperti menciprat-cipratkan air. Ini akan memancingnya untuk tersenyum dan tertawa, sekaligus menstimulasi kemampuan motoriknya.
* Jika si kecil sudah akrab dengan air, ajaklah ia untuk masuk ke kolam renang sungguhan. Namun, sebelumnya ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan, antara lain:

- Kedalaman kolam

Jangan bawa bayi ke kolam renang yang tidak memiliki bagian khusus untuk anak. Pilihlah area yang tingkat kedalamannya hanya sebatas pinggangnya. Selain menghindari hal-hal yang tak diinginkan, semisal tenggelam, kolam yang terlalu dalam juga dikhawatirkan membuat si kecil merasa tak nyaman yang malah mengakibatkannya jadi takut air. Untuk mengenalkan tingkat kedalaman
yang berbeda, lakukanlah secara bertahap, dari yang paling dangkal.

- Suhu air
Air kolam renang sebaiknya jangan terlalu dingin atau terlalu panas. Usahakan yang bersuhu kurang lebih sama dengan suhu badan. Air yang terlalu dingin maupun panas bisa menyebabkan si kecil sakit.

- Kejernihan air
Usahakan air kolam renang jernih dan tak keruh, sehingga kalaupun terminum tidak mengakibatkan apa-apa. Sedapat mungkin hindari kolam renang yang airnya mengandung kaporit karena justru akan berdampak buruk pada mata dan kulitnya.

- Lantai kolam
Perhatikan kebersihan lantai kolam. Hindari yang permukaannya licin karena bisa mengakibatkannya gampang terpeleset.

* Sebagai langkah awal, seperti yang dilakukan di kolam karet, lakukan pengenalan air secara bertahap dimulai dengan membasuh seluruh tubuhnya. Lalu dalam posisi duduk gerakkan kaki silih berganti dan gerakkan tangannya seperti mencipratkan air. Jangan lupa, tetap bawa serta mainan air kesayangannya agar si kecil tak cepat bosan berada di kolam.

* Tahap berikutnya, gunakan pelampung yang berbentuk ban yang mampu menahan tubuhnya atau yang dilingkarkan pada pergelangan tangan. Fungsi pelampung ini selain sebagai alat pengaman, juga bisa membantu bayi berlatih “mengapung”. Sambil menggunakan pelampung, bawa ia menyusuri pinggir kolam. Tapi ingat, jangan sesekali melepaskan pegangan maupun pengawasan Anda dari si kecil.

* Secara bertahap penggunaan pelampung sebaiknya dihentikan agar bayi tak tergantung pada alat tersebut. Sebagai pengganti pelampung, ayah/ibu bisa memegangi badan si kecil dan ajak untuk menikmati acara jalan-jalan di dalam kolam. Jika ia sudah terbiasa dengan air yang ada di sekelilingnya, secara bertahap pula ajak ia berenang di kolam yang lebih dalam.

* Agar bayi lebih termotivasi bereksplorasi di air, ajak anak-anak yang lain. Dengan proses belajar yang menyenangkan di antara banyak teman, tentu bayi akan lebih bersemangat. Secara tidak langsung, dengan banyaknya teman yang ikut berlatih, dalam diri bayi akan tumbuh keyakinan bahwa berenang itu sungguh menyenangkan.

* Pengawasan dan pendampingan orang tua memang jelas-jelas harus dilakukan. Ini penting karena tak sedikit bayi yang nyaris tenggelam atau tersedak akibat mulut atau hidungnya kemasukan air. Jika mengalami hal tak menyenangkan seperti itu bukan tidak mungkin bayi jadi enggan berenang. Sementara jika bayi memang sulit diajari berenang karena takut air, amat disarankan agar orang tua tidak memaksakan kehendak. Mungkin dia butuh waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan air. Yang penting, jalani proses belajar berenang dengan suasana bermain yang menyenangkan.

HARUS AMAN

Yang penting diperhatikan, ketika berenang bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orang tua harus mendampinginya. Ini syarat mutlak, lo. “Jika orang tua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respon dari orang tua,” tutur Dr. Karel.

Disamping, dengan orang tua mendampingi juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antar manusia. “Ini merupakan salah satu keunggulan berenang.” Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orang tua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus menerus dengan anak? Kan , enggak. “Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak.” Itulah mengapa, kedua orang tua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air.

Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan. “Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai.” Bukankah saat berenang, semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja.

USIA TEPAT BERLATIH RENANG

Usia 4-6 bulan adalah saat tepat bagi bayi untuk mengenal kolam renang. Selain insting refleks akuatiknya (kemampuan untuk segera menarik napas sebelum menyentuh air) belum hilang, juga saat pas untuk melatih koordinasi gerakan otot-otot tubuhnya. Ia juga sudah punya naluri mengapung, selain sudah mampu mengatur napas. Yang penting, jangan paksa si kecil berenang. Meski secara alami sudah mahir menahan napas dalam air, umumnya ia akan terus menelan air. Juga, batasi waktunya hingga 10 menit saja, biar ia tidak sakit atau keracunan air (akibat terlalu banyak air atau kurang pembuangan cairan tubuh).

Begitu usianya menginjak 6-18 bulan bolehlah waktu berlatihnya ditambah jadi 15 menit. Kalau ia sudah lebih pintar, Anda dapat saja melonggarkan waktu berlatihnya jadi 30 menit. Lalu, pada usia 6-10 bulan, bayi-bayi yang sudah mengenal air dengan baik sudah bisa belajar menahan napas dalam air. Dengan latihan rutin, pada usia 12 bulan biasanya ia sudah bisa dilepas selama beberapa detik untuk berenang dari ayah menuju ke ibu, atau sebaliknya.

Setiap anak pasti senang bermain air. Nah, mengapa kesenangan ini tak dimanfaatkan untuk mengajarinya berenang? Manfaatnya banyak, loh.

Sesepuh renang di Indonesia, M.F. Siregar, dalam satu kesempatan wawancara pernah mengeluh. Betapa sulit mencari atlet renang yang berbakat, apalagi yang bisa berprestasi tinggi. Salah satunya disebabkan banyak anak yang tak diperkenalkan dengan olahraga ini sejak dini.

Menurut dr. Karel Staa, Sp.A dari RS Pondok Indah Jakarta, tak semua orang tua mempunyai keberanian memperkenalkan olahraga renang kepada anaknya. "Sebagian besar orang tua memang mengkhawatirkan anaknya bakal tenggelam," tuturnya.

Lantaran itu, tak sedikit orang tua yang baru mengajari si anak berenang atau memasukkannya ke kursus renang setelah ia mulai besar. Tentunya ini bukan suatu kesalahan. Bagaimanapun, tak ada kata terlambat untuk seseorang mulai belajar. Hanya saja, bila sejak dini si kecil sudah diajarkan berenang, maka manfaatnya tentu akan lebih terasa.

Susan Meredith, dalam bukunya Teach Your Child To Swim, mengatakan, berenang bagi batita bukan sekadar olahraga, tapi juga membantu anak mengembangkan ketrampilan motoriknya menjadi kuat dan lebih cepat. Di samping tentunya untuk kesehatan dan kebugaran, sehingga anak tak gampang terkena penyakit.

Keuntungan lain, seperti dikatakan Karel, berenang dapat melatih kepercayaan diri dan mengembangkan inteligensi si anak. Bahkan, berenang juga bisa dijadikan ajang stimulasi psikologis karena terjadi interaksi keluarga yang melibatkan ayah, ibu dan anak, bermain bersama-sama di dalam air. "Bila di dalam satu keluarga terjadi hubungan interaksi yang terus-menerus, nantinya hubungan emosional antar anggota keluarga akan menjadi baik," paparnya.

Lantas, kapan tepatnya si kecil diajari berenang? Menurut Karel, sejak bayi pun sudah bisa diajarkan berenang. "Lepas usia tiga bulan, jika kepalanya sudah tegak dan dinyatakan sehat baik secara motorik, pernafasan, pencernaan maupun jantung, bayi sudah bisa mulai diajarkan berenang," kata dokter yang mantan atlet renang dan pemegang rekor nasional 200 meter gaya dada pada 1960-1962 ini.

Tapi karena di Indonesia belumlah umum mengajari bayi berenang, maka Karel menganjurkan untuk mengajari si kecil kala usianya masih hitungan balita. "Tak usah khawatir anak akan tenggelam," ujarnya. Karel menjamin, kemungkinan tenggelam sangat kecil bila orang tua sudah menyiapkan anak-anaknya belajar berenang dengan benar dan aman.

MENGENAL AIR

Sebagai tahap awal, anjur Karel, kenalkan dulu si kecil pada air untuk ia menyesuaikan dirinya dengan air. Anda dapat melakukannya di rumah lewat bak mandi berbentuk bathtub atau "kolam renang" mini dari plastik yang dapat dipompa.

Karel tak menganjurkan Anda mengajak si kecil ke kolam renang publik kendati di sana ada kolam mini untuk anak-anak. Karena pada tahap awal ini, unsur suasana yang cukup intim dan privacy antara Anda dan si kecil sangat diperlukan. "Kalau pertama-tama sudah diajak ke kolam renang publik, maka suasananya yang biasanya hingar-bingar dan bercampur-baur dengan anak-anak lain, malah akan merusak pelajaran paling dasar tapi malah penting ini," katanya mengingatkan.

Jadi yang paling baik adalah mengajari si kecil berenang di rumah. Isi kolam plastik atau bathtub dengan air setinggi kurang lebih 30 centimeter atau setinggi dengkul anak. Sehingga, bila si kecil dalam posisi duduk, permukaan air berada sebatas dadanya. Dan biasanya, pada tahap awal ini, si kecil akan duduk sambil tangannya menyibak-nyibakkan air. Oh ya, jangan lupa pengaturan suhu airnya, yang harus disesuaikan dengan suhu tubuh. Jadi gunakanlah air hangat.

Pada tahap pengenalan ini, prinsipnya anak harus senang dulu dengan air dan menganggap air adalah kawannya. Anda dapat membawa serta mainan-mainan aneka warna yang dapat mengapung air, agar si kecil betah berlama-lama di air.

Latihan pengenalan terhadap air ini dapat dilakukan setiap hari sebelum si kecil dimandikan agar menjadi kebiasaan. Dapat dilakukan kurang lebih 15-20 menit.

MULAI MENGAPUNG

Bila si kecil tampak sudah akrab dengan air, barulah Anda dapat mengajaknya ke kolam renang publik. Karena setelah bermain-main dengan air di rumah, diharapkan rasa percaya dirinya sudah tumbuh. Ia telah menganggap air sebagai sahabatnya. Disamping, "Motoriknya juga sudah semakin bagus. Enzim-enzim di tubuhnya juga sudah matang, nature. Sehingga bermain air tak lagi gampang menyebabkan penyakit," terang Karel.

Pada tahapan ini Anda dapat mulai mengajarinya gerakan mengapung di permukaan air. Dalam posisi tubuh si kecil telentang, letakkan telapak tangan Anda di bagian tengkuk dan bokongnya sehingga posisi tubuhnya sejajar dengan air. Kemudian giring si kecil dalam gerakan maju-mundur. Begitu pula saat si kecil dalam posisi tengkurap. Tapi ingat, tinggi tubuhnya harus sejajar dengan permukaan air. Caranya dengan menyangga bagian dada, perut dan pinggul si kecil. Usahakan agar kepalanya selalu menyembul di permukaan air.

Jika si kecil sudah mahir mengapung, Anda dapat melanjutkan "pelajaran" ke tahap berikutnya, yakni mengajarkan dasar-dasar gerakan renang seperti meluncur atau menggerak-gerakkan kaki dengan menggunakan alat bantu. Misalnya pelampung yang dililitkan di lengan, ban plastik yang dililitkan di pinggang, ataupun papan renang. "Biasanya, sebelum usia 3 tahun, dengan penanganan yang baik, anak-anak sudah dapat melakukan gerakan mengapung dengan baik tanpa alat bantu," terang Karel.

Selanjutnya, Anda juga perlu mengajari si kecil latihan bawah air. Pegang si kecil dalam posisi menggendong agar ia merasa aman dalam dekapan Anda. Kemudian, perlahan-lahan anak dibawa tenggelam dengan jalan menekuk lutut Anda. Sambil Anda menghitung dengan jelas di telinganya, "Satu, dua, tiga, masuk!" Pertahankan posisi si kecil dalam gendongan Anda, lalu perlahan-lahan muncul kembali di permukaan. Lakukan beberapa kali untuk melatihnya berada di bawah air.

Latihan ini, menurut Karel, sangat berguna untuk menambah rasa percaya diri anak dalam menghadapi air di kolam. Disamping ia jadi menguasai seluruh dasar-dasar renang. "Tapi latihannya enggak usah sering-sering dan perlu dijaga agar si kecil tak tersedak atau menelan air," kata Karel.

GAYA FAVORIT

Nah, sekarang si kecil sudah siap untuk mulai diajarkan gaya-gaya berenang. "Biasanya yang paling sering diajarkan adalah gaya yang menjadi favorit orang tuanya. Tak apa-apa," ujar Karel.

Tapi Anda dianjurkan untuk tak tergesa-gesa mengajarkan berbagai gaya berenang kepada si kecil. "Biasanya orang tua kalau melihat anaknya sudah pandai meluncur, riang bermain di air, itu berarti anaknya sudah siap menerima pelajaran. Padahal tidak demikian," tulis Susan Meredith.
Pelatih renang pada bayi dan anak-anak di Inggris ini mengingatkan, nyaman di air berbeda dengan aman. Tergesa-gesa mengajarkan berbagai gaya berenang, malah bisa tak aman dan tak produktif. Bukan saja tak akan membuat anak menjadi perenang yang lebih baik, juga tak membuatnya tahan terhadap air.

Anak-anak yang sudah mendapat latihan dasar-dasar renang, menurut Susan, sebenarnya juga mempunyai risiko yang lebih jika berada di dalam air, dibandingkan anak-anak yang belum berlatih sama sekali. Anak-anak ini cenderung mempunyai perasaan bahwa mereka merasa nyaman dan aman dengan air. Juga karena orang tuanya sering mempunyai kesan bahwa anaknya sudah aman karena biasa berada di air.

Masih menurut Susan, ada perbedaan penting antara bisa berenang dan bisa aman di dalam air. Anak-anak kecil, seberapapun gaya berenang yang dikuasainya, tetap tak akan pernah aman tanpa pengawasan orang tuanya.

Kendati demikian tak berarti Anda lantas harus ragu-ragu atau membatalkan sama sekali mengajari si kecil berenang. "Percayalah, rasa percaya diri anak jauh lebih besar dari orang tuanya. Anak-anak lebih tak mudah panik. Mereka pun tak mudah kapok sehingga proses belajarnya lebih cepat. Mereka belum sampai pada rasio-rasio ketakutan. Jiwa mereka adalah bermain. Jadi tantangan baru dianggapnya sebagai enjoyment, tak menakutkan tapi menggembirakan," tulisnya.

TAK MEMAKSA

Yang penting diingat, pesan Karel, pada saat anak mulai belajar berenang baik ketika berada di kolam renang mini dibawah pengawasan orang tua maupun di kolam renang besar dalam gendongan orang tua, tahapan yang paling penting ialah membantu anak untuk mendapatkan rasa percaya diri dan nyaman di dalam air. "Karena ini merupakan langkah awal dalam latihan keamanan di dalam air," katanya.

Selain itu, dalam mengajarkan berenang pada anak, sifatnya harus bermain dan berolahraga. "Anak harus enjoy melakukannya," tukas Karel. Karena itu Anda diminta tak memaksa anak. Apalagi sebenarnya tak sulit mengajari anak mencintai air, karena pada dasarnya mereka senang bermain.

Jika anak sampai membenci air, menurut Susan, pasti ia punya trauma atau masa lalu yang tak menyenangkan dengan air. Anda harus mencari tahu dulu penyebabnya, baru kemudian dicari penanganannya, mungkin dengan melibatkan ahli psikologi anak. Tapi biasanya, dengan kesabaran dan ketelatenan orang tua, anak-anak dapat belajar mencintai air.

Nah, apakah sekarang Anda sudah siap untuk mengajari si kecil berenang? Jangan tunda lagi. Siapa tahu kelak negara kita punya juara olimpiade renang, yang salah satunya mungkin putra atau putri Anda tercinta.

* Sebelum berenang, balurkan cairan khusus di kulit tubuh si kecil agar sinar matahari tak merusak kulitnya yang masih peka. Cairan ini juga berfungsi melindungi kulit anak dari kemungkinan iritasi yang diakibatkan oleh obat/cairan yang kerap digunakan di kolam renang seperti kaporit.

* Untuk perlindungan kulit muka yang sangat sensitif sekaligus perlindungan mata akibat air di kolam renang, gunakan kacamata khusus untuk berenang. Pada beberapa toko olahraga terkemuka, tersedia kacamata renang untuk balita. Namun yang penting usahakan bagian muka dan kepala anak selalu berada di atas air.

* Hindari melontarkan kata-kata yang tak mendukung selama Anda mengajari si kecil berenang. Tunjukkan selalu sikap riang dan wajah penuh senyum, sehingga si kecil dapat menikmati berenangnya.

* Bila si kecil mengalami "kecelakaan" seperti tersedak air atau tergelincir, ingatlah untuk tak menunjukkan sikap panik. Lakukan tindakan dengan segera, tapi dengan sikap tetap riang.

* Selalu beri pujian setiap kali anak mampu melakukan tahapan berenang yang diajarkan kepadanya. Sebaliknya, jangan mengejek atau mengatakan ia bodoh kala ia gagal, tapi berilah kata-kata yang membuatnya makin bersemangat untuk terus belajar.

* Jangan lepaskan si kecil sedetik pun dari pengawasan Anda. Baik kala ia berenang di rumah, di kolam renang umum, maupun di tempat kursus.

* Usai berenang, segera mandikan si kecil. Bila berenang di kolam renang umum yang mengandung kaporit, guyur ia dengan air cukup banyak untuk menghilangkan kaporit tersebut menempel terlalu lama di kulit. Gunakan sabun dan sampo khusus untuk anak. Setelah itu, keringkan tubuhnya dan baluri tubuhnya dengan lotion pelembut.

* Hentikan kegiatan berenang untuk sementara kala si kecil sakit, kendati ia hanya batuk pilek. Begitu pula jika ia terkena ruam kulit dan diare.

fn/km/ci/tn/Suaramedia.com