16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Bayi Prematur Lebih Sensitif Dengan Rasa Sakit

http://3.bp.blogspot.com/_ppFmj_nnLwI/SghxEtR-DVI/AAAAAAAAAKg/gcQLET5HdwQ/s320/prematur.jpg

Kelahiran seorang anak merupakan saat yang dinantikan banyak orangtua. Namun, jika anak lahir prematur karena berbagai penyebab, para orangtua hendaknya mewaspadai proses tumbuh kembang sang buah hati. Hal ini disebabkan, kelahiran prematur bisa menyebabkan perburukan permanen pada daya sensor anak. Hasil studi di Inggris terhadap 43 anak usia 11 tahun yang lahir 14 minggu lebih awal menunjukkan, daya sensor anak-anak itu terhadap suhu udara berkurang.

Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Pain, kelahiran prematur kemungkinan juga memengaruhi persepsi tentang rasa sakit. Para investigator dari The University College London menyatakan, sistem saraf pemicu rasa takut yang biasanya mudah diserang berubah pada tahap sangat awal perkembangan.

Bayi prematur lebih sensitif pada rasa sakit sehingga mereka merasa sakit lebih akut dibanding pada bayi yang lahir normal. Para ahli menduga hal ini disebabkan perawatan intensif yang mereka terima di rumah sakit.

Pemberian makanan lewat selang, suntikan, dan tes darah yang harus dijalani bayi prematur membuat mereka lebih sensitif pada rasa sakit. Untuk itu, para ahli menyarankan bayi-bayi yang berada di ruang perawatan intensif mendapatkan obat pereda nyeri yang lebih baik.

Sejumlah peneliti dari University College London membuat riset untuk memonitor aktivitas otak bayi-bayi prematur yang sudah dirawat selama 40 hari ketika mereka menjalani tes darah rutin.

Pengukuran aktivitas otak menggunakan electroencephalogram (EEG) menunjukkan bayi prematur memiliki aktivitas otak lebih kuat dibanding bayi yang sehat pada usia yang sama ketika mereka harus disuntik dan diambil darah. Dengan kata lain, bayi yang lahir prematur lebih sensitif pada rasa sakit.

Ketika kedua kelompok bayi mendapat sentuhan lembut di bagian kaki, keduanya menunjukkan aktivitas otak yang sama. Hal itu menunjukkan sensitivitas bayi prematur lebih pada rasa sakit dibanding pada sentuhan biasa.

"Hasil studi kami menunjukkan kelahiran prematur dan perawatan intensif di rumah sakit berpengaruh pada proses otak dalam merasakan sakit atau nyeri," kata Dr Rebeccah Slater, ketua peneliti.

Bayi prematur pada umumnya harus mendapat perawatan intensif dalam waktu lama. Karena itu, para peneliti menyarankan petugas kesehatan dan dokter memerhatikan kualitas manajemen rasa sakit. "Dokter dan perawat harus memastikan agar rasa sakit yang dialami bayi tetap minimum," kata Slater.

Bayi prematur yang dirawat secara intensif terpapar berulang kali mengalami prosedur yang menyakitkan, di antaranya pemeriksaan darah, yang kemungkinan jadi pemicu perubahan sistem saraf itu.

Temuan tersebut penting seiring meningkatnya jumlah bayi yang dilahirkan secara prematur di seluruh dunia. Semua pihak terkait juga harus mengupayakan perbaikan kualitas hidup sebagus upaya menyelamatkan jiwa serta menghindari prosedur menyakitkan yang tidak perlu bagi para bayi yang lahir terlalu muda itu.

Risiko lebih tinggi

Menurut Prof Neil Marlow, peneliti, sebagaimana diberitakan dalam situs BBC, bayi yang lahir terlalu dini memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidakmampuan dan serangan penyakit dibandingkan anak-anak yang lahir cukup bulan atau tak prematur.

Studi EPICure telah mendata anak-anak yang lahir pada akhir tahun 1995. Temuan terakhir telah memperlihatkan, anak-anak tersebut kurang sensitif terhadap suhu panas dan dingin.

Hal ini dijumpai pada seseorang yang juga menjalani operasi saat melahirkan bayi. Sebab, trauma hebat pada masa-masa awal kehidupannya memengaruhi tingkat kepekaan bayi terhadap suhu udara.

Karena urat saraf yang mentransmisikan suhu badan ataupun rasa sakit adalah sama, anak-anak yang lahir prematur juga memiliki sensitivitas lebih rendah terhadap rasa sakit.

Meski perburukan itu tidak menimbulkan dampak terhadap keselamatan jiwa anak-anak itu, temuan tersebut diharapkan bisa mengubah cara yang akan mereka jalani dalam hidup.

Marlow menambahkan, penting bagi dokter untuk memahami tidak hanya bagaimana melakukan intervensi pada tahap paling awal perkembangan bayi memengaruhi fungsi sensor tubuh pada kehidupan selanjutnya. Dokter juga harus mengetahui bagaimana meminimalkan prosedur medis yang menyakitkan bagi bayi prematur.

”Dengan meningkatnya angka kelahiran prematur, studi ini akan membantu dokter meminimalkan prosedur menyakitkan bagi bayi prematur,” kata juru bicara Donasi bagi Bayi yang Butuh Pemeliharaan Khusus, Bliss.

Para peneliti percaya kepekaan bayi prematur ini khusus untuk rasa sakit. Bayi prematur kadang-kadang dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan, dan harus menjalani berbagai tes diagnostik yang berbeda. Dr Slater menulis bahwa bayi prematur membutuhkan penghilang rasa sakit yang lebih baik.

SuaraMedia.com


Artikel Terkait