pustaka.png.orig
basmalah.png


11 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 21 Juni 2021

Saat Acara Potong Rambut Tak Lagi Jadi Momok

http://i3.photobucket.com/albums/y78/irmayoga/TN_DSC_2019.jpg

Pernahkah merasa kerepotan saat memotong rambut si kecil? Entah dia tak mau duduk diam atau malah menangis. Duh, bingung deh! Nah, kali ini kami sengaja mengobrol dengan Ardhanari MPsi yang sehari-hari "bergaul akrab" dengan anak-anak. Bagaimana opininya?. Dunia anak-anak bukanlah hal baru dan asing bagi saya.

Dulu semasa duduk di bangku kuliah, saya mempelajari teori psikologi perkembangan anak. Sekarang saya aktif bekerja di sebuah sekolah swasta. Jadi, bergaul dengan para bocah sudah menjadi santapan sehari-hari.

Nah, pagi itu saya merasa ada sedikit yang berbeda dari penampilan salah seorang murid TK di sekolah. Tampaknya ia baru potong rambut. Jika biasanya rambut si gadis cilik terurai hingga ke bahu, kini ia tampil ala "Dora", tokoh kartun favorit anak-anak.

Hmm, sebenarnya terlihat lucu sih, sebab potongan rambut pendek sebatas telinga dan berponi itu makin menonjolkan wajahnya yang bulat. Tapi, jika diteliti kok poninya terlihat kurang rapi ya! Usut punya usut, ternyata sang Bunda yang memangkas sendiri rambut buah hatinya.

"Hari Minggu kemarin saya yang potong Bu! Susahnya minta ampun. Padahal papanya sudah ikut turun tangan, dibujuk-bujuk tetap nggak mau, malah nangis segala. Gimana saya nggak gemas, poninya sudah panjang menutupi mata, kan mengganggu," keluhnya.

Gunting atau Pangkas?

Wah...wah, meski terdengar sepele, urusan gunting-menggunting rambut bisa merepotkan orangtua ya! Lalu mengapa tak sedikit anak-anak yang sangat "keberatan" dengan kegiatan ini?

Mungkin sebagai orangtua kita lupa bahwa cara berpikir anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ingatlah bahwa pola pikir mereka masih bersifat konkrit. Jadi, mendengar kata "gunting" rambut bisa terdengar menakutkan. Mereka membayangkan saat menggunting kertas lipat (origami) dan tidak dapat kembali ke bentuk semula, belum lagi kalau cara memotongnya salah, tidak rapi atau tak sengaja guntingnya melukai tangan.

Bagi anak yang baru akan mengalami potong rambut pertama, ada baiknya kita mencoba menggunakan istilah pangkas rambut. Kalau mereka menanyakan arti dari pangkas, kita bisa menjelaskan bahwa rambut setiap orang makin lama akan semakin panjang terus, karena rambut itu bisa tumbuh seperti pohon yang semakin tinggi. Nah, agar rambut terlihat selalu rapi, maka perlu dipangkas. Memangkasnya dengan bantuan gunting, toh nantinya rambut kita bisa tumbuh lagi. Selama dipangkas, harus duduk diam, karena kalau tidak, bisa menyulitkan pemangkas rambutnya.

Moms, hal yang patut diingat, jangan pernah menakuti anak bahwa kupingnya bisa tergunting apabila ia tidak duduk diam. Ini hanya akan membuat anak semakin menganggap kegiatan memangkas rambut itu menakutkan.

"Habis anaknya enggak bisa tenang, bergerak terus! Kapan selesainya," begitulah alasan yang terucap.

Menjadi orangtua memang harus ekstra sabar bukan? Mengambil jalan pintas agar si kecil mau menurut dengan menakut-nakuti atau membohongi adalah cara yang salah.

Menakut-nakuti hanya akan membuat anak Anda menjadi seorang penakut untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu ditakuti. Membohongi akan membuat si anak lama-kelamaan menyadari bahwa Anda tidak dapat dipercaya dan kelak ia tidak mau mendengar nasihat atau permintaan Anda sama sekali. Bahkan tak hanya berlaku untuk masalah memangkas rambut saja, bukan tak mungkin ia juga memberontak untuk hal lainnya. Saya yakin setiap orangtua tak mau kejadian ini terjadi.

Mom& Kiddie//nsa/Okezone.com