fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Gejala Alergi Pada Anak Dan Cara Pencegahannya

http://www.kidsallergies.co.uk/images/8459.jpg

Alergi merupakan salah satu penyakit anak-anak yang paling umum. Gangguan alergi ini, kemungkinan ‘diwariskan’ dari orangtua atau dari kerabat terdekat. Para ilmuwan percaya bahwa alergi disebabkan oleh kombinasi antara faktor keturunan dan lingkungan. Tidak mengherankan bila pertama kali anak-anak mengalami alergi terhadap sesuatu yang berada di lingkungan rumah, seperti: hewan piaraan, debu, makanan tertentu, kutu, atau jamur. Anak-anak bisa juga mengalami allergen musiman (zat yang memicu reaksi alergi) seperti serbuk bunga dan bisa menjadi alergi itu sendiri.

Alergi pada masa kanak-kanak umumnya adalah asma, hay fever (alergi yang disebabkan allergen tertentu, misalnya serbuk bunga), biduran, dermatitis kontak, dan alergi makanan.

Jika bayi atau anak Anda menderita alergi makanan, tenang saja, itu bukan salah Anda. Langkah-langkah berikut dapat membantu si kecil dari kemungkinan menderita alergi makanan:

1.    Beri dia ASI

Jika mungkin, berikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan. ASI dapat melindunginya dari alergi makanan.

2.    Jangan perkenalkan makanan padat terlalu dini

Coba tunggu sampai 6 bulan sebelum memberi si kecil makanan padat.

3.    Hindari makanan yang sering menyebabkan alergi
Jangan berikan susu sapi kepada si kecil sampai ia ulang tahun pertama. Perkenalkan telur saat ia berusia 2 tahun. Jangan berikan kacang-kacangan atau ikan sampai ia berusia 3 tahun.

4.    Jaga makanan selama kehamilan

Hindari makanan yang menyebabkan alergi selama Anda hamil. Coba hindari konsumsi kacang, terutama jika Anda punya riwayat alergi dalam keluarga.

Tips di atas untuk mengatasi alergi pada anak yang diakibatkan makanan. Nah, berikut penjelasan mengenai alergi yang disebabkan oleh hewan yang bernama kucing. Walaupun kucing bisa membuat orang jadi menggaruk-garuk dan bersin, kecintaan terhadap si meong ini mengalahkan segalanya. Diakui, kucing adalah hewan peliharaan yang paling banyak menyebabkan alergi dibandingkan hewan peliharaan lain.

Penelitian terakhir menunjukkan, bulu kucing menyimpan semacam toksin penyebab meningkatnya risiko eksema salah satu jenis alergi yang banyak diderita anak-anak. Selain bulu, kotoran kucing yang sudah kering juga menjadi tempat berkembang biak paling nyaman bagi toksoplasma.


Walau begitu, jangan serta-merta membuang hewan peliharaan dari rumah. Apalagi menjauhkan binatang-binatang lucu ini dari anak-anak. Sebab, berteman dengan anjing dan kucing pada masa kanak-kanak bisa membantu membentuk pertahanan mereka pada kasus alergi.


Supaya kita bisa tetap nyaman tinggal serumah dengan si meong, ikuti saran berikut ini:


- Mandikan kucing seminggu sekali

Cara ini dapat mengurangi hampir 90 persen alergen di udara yang dibawa oleh kucing.

- Hindari karpet dan mebel berlapis bahan

Pel lantai berulang kali dan lengkapi penyedot debu dengan filter berefisiensi tinggi.

- Gunakan filter partikel udara efisiensi tinggi (HEPA) guna mengurangi alergen kucing yang terdapat dalam debu. Pembersih udara jenis ini membersihkan udara dari sebagian partikel debu yang masuk melalui filter.


- Jagalah agar kucing selalu berada di luar rumah

Apabila kucingnya memang kucing luar rumah, sedapat mungkin biarkan dia tinggal di luar dan jangan biarkan masuk ke ruang tidur dan ruangan lain yang sering Anda tempati.

- Tambahkan ventilasi

Hal ini akan membantu menurunkan tingkat alergen.

Apabila Anda atau orang di rumah mengidap asma yang pemicunya alergi terhadap kucing, sebaiknya carikan kucing tersebut tempat tinggal baru. Paparan berkelanjutan terhadap alergen kucing dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan, bahkan setelah tidak terpapar lagi.


Ada banyak alergi yang susah ditemukan penyebabnya karena banyaknya faktor pencetus alergi. Studi terbaru menunjukkan, karbohidrat dalam daging yang disebut aplha-gal diduga juga menjadi biang keladi timbulnya reaksi alergi yang selama ini masih tanda tanya, yakni anaphylaxis.

Reaksi anaphylaxis muncul setelah tubuh terpajar alergen, misalnya makanan, minuman, obat, atau udara. Saat serangan alergi ini muncul, penderita akan merasakan sesak napas, jantung berdebar-debar, bahkan pingsan.


Dalam penelitian untuk mencari penyebab anaphylaxis, sejumlah peneliti melibatkan 60 orang di Australia dan Amerika Serikat yang mengalami reaksi alergi berulang atau anaphylaxis.


Hasil tes alergi menemukan 25 orang memiliki respon pada alpha-gal. Respon positif dianggap memiliki kadar imunoglobulin E (IgE) lebih tinggi dari 1.0 unit per milimeter, atau diatas standar. Pada orang yang alergi, produksi IgE dalam tubuhnya biasanya sangat berlebihan.


Namun hasil tes itu tidak mengidentifikasi alergen lain yang mungkin juga menyebabkan anaphylaxis pada 25 pasien tersebut atau 35 pasien lain.


"Hasil studi ini menunjukkan bukan hanya IgE pada karbohidrat yang punya implikasi klinis pada reaksi alergi makanan atau anaphylaxis, tetapi juga kehadiran antibodi yang mungkin berbeda pada orang tergantung daerah tinggalnya," kata Dr.Scott P.Comins, ketua peneliti.

SuaraMedia News


'

Artikel Terkait