15 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 18 Januari 2022

basmalah.png

BALITA

Menjaga Anak Balita dari Pneumonia

http://2.bp.blogspot.com/_s9PRoB8BI8w/SrsVGoNOdeI/AAAAAAAAABE/OCYIPCxYql4/S170/baby-jilbab.jpgPolusi udara memang membahayakan kesehatan. Bagi anak-anak, paparan polusi udara ini merupakan salah satu faktor risiko timbulnya penyakit pneumonia atau peradangan jaringan paru-paru. Penyebabnya adalah infeksi kuman. Ketika paru-paru terinfeksi, organ itu tidak bisa menjalankan fungsinya, yakni mendapatkan oksigen bagi tubuh.

Setiap tahun, pneumonia membunuh sekitar 1,8 juta anak di bawah umur lima tahun atau sekitar 20 persen dari total kematian anak balita di dunia. Indonesia, sesuai dengan laporan UNICEF dan WHO pada 2006, berada di peringkat keenam dunia. Berdasarkan survei di 10 provinsi yang dilakukan oleh Subdit ISPA Kementerian Kesehatan RI dalam Riset Kesehatan Dasar 2007, 15,5 persen penyebab kematian anak balita adalah pneumonia.

Menurut Dr Darmawan B.S., SpA(K), Ketua Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, selain paparan polusi, pneumonia bisa menyerang bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau prematur, tidak diberi air susu ibu (ASI) eksklusif, tak diberi imunisasi dengan lengkap, kekurangan vitamin A, dan mengalami gizi buruk.

Darmawan menjelaskan, gejala pneumonia tahap awal biasanya didahului gejala selesma (demam, batuk, dan pilek) serta disertai nyeri kepala dan hilangnya nafsu makan.

Pneumonia tahap lanjut ditandai oleh napas cepat, hidung kembang-kempis, hingga kesulitan bernapas. "Pada tahap berat, ditandai bernapas dengan disertai tarikan dinding dada," kata dia.

Sementara itu, pada kasus sangat berat, ditandai oleh penurunan suhu tubuh, kejang, penurunan kesadaran, tak bisa makan, hingga kulit anak tampak membiru.

Dr I Boediman, SpA(K), staf Divisi Respirologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menambahkan, jika menemukan anak dengan gejala susah napas, demam, dan mengalami gangguan makan, segera bawa anak itu ke rumah sakit. Bagi anak yang kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen, ia perlu dirawat dengan bantuan asupan oksigen.

Selain itu, diperlukan asupan gizi guna meningkatkan sistem pertahanan tubuh anak. "Terutama vitamin A dan zinc (seng)," kata Boediman. Gizi yang baik berguna mencegah serangan pneumonia atau mempercepat penyembuhan.

Langkah pencegahan juga harus dilakukan melalui imunisasi. Imunisasi DPT dan campak memberikan kekebalan terhadap penyakit yang meningkatkan risiko anak terkena pneumonia. Sedangkan imunisasi Hib dan pneumokokus memberikan kekebalan terhadap penetrasi kuman penyebab pneumonia.

Faktor lingkungan juga harus diperhatikan. "Anak harus dijauhkan dari paparan asap rokok, asap dapur, dan polusi udara," kata Boediman. Rumah harus diberi ventilasi yang baik, kebersihannya dijaga, dan jangan batuk atau bersin sembarangan. Pasalnya, penularan pneumonia rentan melalui percikan batuk atau bersin. Sebaiknya menutup mulut saat batuk atau bersin, mencuci tangan setelah batuk/bersin, dan menggunakan masker pelindung.


Mencegah Anak Balita dari Pneumonia

- Berilah bayi ASI eksklusif hingga berumur enam bulan.

- Berilah bayi gizi yang cukup dan seimbang. Kecukupan gizi meningkatkan sistem pertahanan tubuh.

- Imunisasi. Imunisasi yang penting berkaitan dengan pneumonia antara lain imunisasi DPT, campak, pneumokokus, dan Hib.

- Lingkungan bebas asap. Jauhkan anak dari paparan asap rokok; asap dapur, terutama dari pembakaran kayu dan sejenisnya; serta polusi udara.

- Etiket batuk. Penularan pneumonia banyak berasal dari percikan batuk atau bersin pasien pneumonia. Sebaiknya menutup mulut saat batuk atau bersin. Selain itu, mencuci tangan setelah batuk/bersin untuk menghindari tersebarnya kuman.


Nur Rochmi | Kompas.com