10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Ancaman Serius Antibiotik, Ginjal Anak Bisa Rusak Hingga Tuli

http://1.bp.blogspot.com/_ClDMLqZyqVQ/TKRhjT1GDhI/AAAAAAAAABI/ZsgOOYy4myE/s1600/anak+nyaman+dokter.jpgPeresepan obat-obatan pembunuh kuman atau antibiotik pada bayi sebelum mencapai usia enam bulan ternyata dapat mengundang risiko. Sebuah penelitian di AS menyebutkan, bayi yang mendapat antibiotik berisiko 70 persen lebih tinggi menderita asma pada masa kecilnya.

Para peneliti di Universitas Yale mengindikasikan, bayi menghadapi peningkatan risiko asma hingga 40 persen bila mendapat resep antiobiotik untuk sekali pengobatan di bulan-bulan awal kelahirannya. Risiko akan naik menjadi 70 persen bila mereka mendapat resep kedua untuk mengobati infeksi yang sulit disembuhkan.

Kajian para ilmuwan ini adalah serangkaian temuan terbaru dalam ilmu obat-obatan yang berkaitan dengan asma pada anak-anak. Para ahli terbagi pendapatnya mengenai dampak antibiotik ini. Ada yang meragukan apakah memang antibiotik menjadi penyebab, ataukah bayi yang dilibatkan dalam studi sudah memiliki bakat mengidap asma.

Meski demikian, dalam laporan terbaru yang bakal dimuat American Journal of Epidemiology, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan tersebut memang kuat. Bahkan setelah memperhitungkan faktor lainnya seperti riwayat asma dalam keluarga.

Dalam risetnya, para ilmuwan di Universitas Yale memantau 1.400 anak untuk melihat apakah peresepan antiobiotik pada usia dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada usia enam tahun.

Anak-anak yang dilibatkan adalah  mereka yang diberi resep antibiotik sebelum usia enam bulan untuk masalah infeksi di luar infeksi bagian dada yang identik dengan gejala asma. Peserta juga termasuk anak-anak yang dilahirkan dari orangtua yang tidak memiliki riwayat asma.

Hasilnya, menunjukkan peningkatan besar risiko terserang asma pada anak-anak yang diberi antibiotik sebelum usia mereka enam bulan meskipun anak tersebut tak punya riwayat asma.

"Menggunakan antibiotik, khususnya dalam spektrum yang luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus anak. Hal itu menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan buruknya respons alergi," papar Dr Kari Risnes, pemimpin penelitian.

Risnes mengharapkan hasil penelitian ini menjadi motivasi khusus bagi dokter agar menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, terutama pada anak-anak berisiko rendah.

Lepas dari akibatkan asma pada bayi, penggunaan obat antibiotik untuk mengobati infeksi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Para ahli memperingatkan dokter dan suster untuk lebih berhati-hati dalam memberikan antibiotik dosis tinggi pada bayi.

Pemberian yang sangat hati-hati ini berkaitan dengan masalah keselamatan dan kesehatan si bayi nantinya.
Penggunaan obat antibiotik dengan tidak benar pada usia muda berisiko menyebabkan kerusakan ginjal atau kehilangan pendengaran.

Pemberian antibiotik yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat mempengaruhi efektivitas dan toksisitas dari obat itu sendiri.

Pedoman baru yang dikeluarkan Badan Nasional Keselamatan Pasien (NPSA) Inggris menyarankan bahwa staf kesehatan tidak boleh terganggu saat menyiapkan dan mengelola pemberian antibiotik. Selain itu ketika obat resep dokter sudah diberikan, maka dokter harus melakukan pemantauan selama 24 jam untuk menghindari kekeliruan.

Jika pengobatan diberikan melalui infus, maka obat harus diberikan secara berkala dan kadar obat dalam darah harus dipantau secara konsisten.

Pedoman ini diterapkan untuk menghindari terjadinya kerusakan atau efek keracunan akibat dosis obat yang berlebihan, serta meminimalkan efek samping jangka pendek yang mungkin muncul dari antibiotik tersebut.

"Pedoman ini untuk memastikan standar tinggi dalam pemberian resep dan pengawasan penggunaan obat antibiotik yang kuat pada bayi atau usia muda," ujar Jenny Mooney dari NSPA, seperti diberitakan dari Telegraph.

Antibiotik yang diberikan harus aman bagi bayi yang sedang sakit agar reaksi merugikan yang mungkin timbul dapat diminimalisir. Karenanya orangtua juga harus diberitahu mengenai kemungkinan risiko dari setiap perawatan yang diberikan pada bayinya.

"Karena daya tahan tubuh bayi belum terbentuk secara sempurna sehingga setiap tindakan yang diambil harus dipikirkan mengenai risikonya," katanya.

Seperti dikutip dari Irishhealth, antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Namun antibiotik tidak akan efektif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus.

Jika seseorang mengalami sakit tenggorokan atau flu yang disebabkan oleh virus, maka pengobatan dengan antibiotik hanya sedikit atau tidak memiliki peran sama sekali. Karena sebenarnya penyakit yang disebabkan oleh virus bisa hilang dengan sendirinya jika memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Jadi jika dokter memberikan antibiotik untuk sakit flu itu suatu kekeliruan.

Beberapa antibiotik hanya efektif terhadap bakteri tertentu saja, sebagai contoh antibiotik penisilin bisa diresepkan untuk sakit tenggorokan akibat bakteri streptokokus. Meresepkan antibiotik tergantung dari letak dan tipe dari infeksi yang muncul.

Bakteri memiliki kemampuan untuk mengalami resistensi atau kebal terhadap antibiotik, sehingga penggunaan antibiotik tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun antibiotik akan memiliki potensi yang efektif jika digunakan secara tepat.

Beberapa antibiotik ada yang menimbulkan efek samping seperti mual, muntah atau diare akibat perubahan keseimbangan bakteri di dalam usus. Namun jika efek samping yang ditimbulkan lebih dari itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui apakah antibiotik yang dikonsumsi harus diganti atau tidak.

fn/km/dt/suaramedia.com