fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Lima Potensi Prestasi dalam Tumbuh Kembang Anak

Lima Potensi Prestasi dalam Tumbuh Kembang Anak

Fiqhislam.com - Dalam memenuhi aspek tumbuh kembang anak, yakni kognitif, fisik, emosi, sosial dan bahasa, dibutuhkan nutrisi maupun stimulasi yang lengkap. Psikolog Anak & Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi. menjelaskan bagaimana kelima aspek tumbuh kembang ini mempengaruhi lima potensi prestasi anak yang dibutuhkan untuk menjadi generasi maju.

“Selain nutrisi yang lengkap, stimulasi juga penting untuk mengasah potensi prestasi pada anak terutama dengan adanya berbagai tantangan saat ini,” kata Anna dalam peluncuran SGM Eksplor Pro-gress Maxx dengan IronC, beberapa waktu lalu.

Terdapat lima potensi prestasi anak, seperti tumbuh tinggi, berpikir cepat, tangguh, percaya diri, dan aktif bersosialisasi untuk dapat menjadi anak generasi maju. Pada kondisi seperti sekarang, orang tua dan anak harus menyesuaikan diri. Mendukung potensi prestasi anak pun semakin penting di masa yang tidak menentu.

Anna menjelaskan ketika seorang anak tumbuh tinggi, artinya fisiknya tumbuh berkembang sesuai usia. Dalam kartu sehat keluarga juga tersedia grafik pemantau pertumbuhan berat, tinggi badan maupun lingkar kepla anak yang dapat menjadi acuan. Maka prestasi yang optimal adalah pertumbuhan anak yang terus berada di garis hijau yang disarankan.

Berikutnya, pencapaian optimal potensi berpikir cepat yaitu anak bisa cepat memahami, kritis, tidak gampang terlena dengan hoaks, bisa menilai informasi, kreatif banyak ide, bicaranya juga lancar. Percaya diri yang optimal juga bukan berarti mau tampil terus menerus, tapi memang percaya pada dirinya, punya keyaminan terhadap kemampuan dirinya.

Kemudian potensi aktif bersosialisasi anak yaitu mereka punya banyak keterampilan sosial, mampu bekerjasama dan berbagi empati serta tolong menolong. Itu semua relevan karena dibutuhkan dan menjadi dasar tumbuh kembang anak.

Akan tetapi di masa pandemi Covid-19, bisa dibilang yang paling relevan adalah potensi prestasi tangguh. Menjadi anak yang tangguh bukan dari sekadar fisik, tapi juga kondisi psikologis yang mampu menghadapi stress.

Misalnya saat anak tidak bisa membuka kotak makan, dia akan mencoba lagi karena potensi tangguhnya sampai berhasil mengatasi masalah. “Jadi secara keseluruhan dorongan potensi dibutuhkan anak dan jadi fondasi bagi tumbuh kembang di tahun-tahun berikutnya,” tambah Anna.

Poin yang perlu diingat juga adalah terkait kesetaraan. Sebab jangan sampai anak bertumbuh tinggi, tapi belum lancar bicara di usia dua tahun, di mana anak biasanya sudah menguasai satu sampai dua kata. Tidak ada potensi terlalu tinggi atau rendah dan tidak terlambat, melainkan terus berkembang dari usia satu tahun sampai tahun berikutnya.

Apabila potensi itu tidak tercapai, anak bisa digambarkan tidak lincah, luwes, seimbang, kaku dan mudah capek secara fisik. Kemudian, canggung, tidak berpikir cepat, mudah teralih oleh yang sedang dibicarakan, pelupa hingga mudah tertipu dengan pikiran cenderung tertutup.

Potensi kepercayaan diri yang tidak tercapai juga menyebabkan anak tidak kerap cemas, ragu-ragu dan banyak masalah. Selain itu, minder, sulit komunikasi, berteman sehingga sulit mendapat peluang, mencari kerjaan dan banyak kegagalan. Sebaliknya,

jika potensi itu tercapai, anak cenderung bisa memotivasi diri untuk terus bangkit menyelesaikan masalah. Kekurangan nutrisi cukup, seperti halnya zat besi dan vitamin C juga dapat mengganggu tumbuh kembang anak. [yy/republika]