8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Bayi Sebaiknya Tidak Diperkenalkan Gula dan Garam

Bayi Sebaiknya Tidak Diperkenalkan Gula dan GaramFiqhislam.com - Makanan pendamping ASI atau MPASI untuk bayi usia 6 bulan hingga satu tahun sebaiknya tidak diberi tambahan gula dan garam.

Alasannya, rasa manis dan asin dari dua bumbu tersebut memanipulasi rasa asli makanan sehingga bayi tidak sempat mengenalnya. 

“Bayi akan belajar mengenal rasa asli makanan. Dan rasa asli makanan itu enak sekali dibandingkan dengan makanan yang sudah ditambahkan gula dan garam,” kata pakar gizi medik Profesor Saptawati Bardosono, saat peluncuran Nestle Cerelac Risenutri di Jakarta, Kamis, 31 Oktober 2019.

Tambahan gula dan garam pada MPASI akan membuat bayi terbiasa dengan rasa yang telah dimanipulasi. Jadi ketika ia diberi makanan lain dengan rasa aslinya, dia akan menolak karena merasa hambar. Ini juga memicu anak melakukan gerakan tutup mulut alias menolak makanan dan memilih makanan atau picky eater. 



Prof Tati, sapaan Saptawati, mengatakan anak boleh diperkenalkan dengan rasa gula dan garam setelah usianya satu tahun atau lebih. “Sebaiknya nggak diberi sampai dia mendapatkan makanan orang dewasa. Itu karena makanannya dimasak bareng dan masakan keluarga biasanya sudah diberi bumbu macam-macam,” kata dia.

Selain gula dan garam, Prof Tati juga mengatakan bayi belum boleh diberi madu karena kandungan gulanya begitu tinggi. Rasa gula yang begitu manis pada madu dapat mengalahkan semua rasa makanan. Dikhawatirkan, ketika bayi diberi makanan lain, dia akan menilak karena sudah mengenal rasa manisnya madu.

“Konsentrasi gulanya juga tinggi sekali sehingga tidak bisa diserap dengan baik karena usus bayi belum sempurna. Akibatnya, bayi bisa mengalami diare,” ujar Prof Tati. [yy/tempo]

Bayi Sebaiknya Tidak Diperkenalkan Gula dan GaramFiqhislam.com - Makanan pendamping ASI atau MPASI untuk bayi usia 6 bulan hingga satu tahun sebaiknya tidak diberi tambahan gula dan garam.

Alasannya, rasa manis dan asin dari dua bumbu tersebut memanipulasi rasa asli makanan sehingga bayi tidak sempat mengenalnya. 

“Bayi akan belajar mengenal rasa asli makanan. Dan rasa asli makanan itu enak sekali dibandingkan dengan makanan yang sudah ditambahkan gula dan garam,” kata pakar gizi medik Profesor Saptawati Bardosono, saat peluncuran Nestle Cerelac Risenutri di Jakarta, Kamis, 31 Oktober 2019.

Tambahan gula dan garam pada MPASI akan membuat bayi terbiasa dengan rasa yang telah dimanipulasi. Jadi ketika ia diberi makanan lain dengan rasa aslinya, dia akan menolak karena merasa hambar. Ini juga memicu anak melakukan gerakan tutup mulut alias menolak makanan dan memilih makanan atau picky eater. 



Prof Tati, sapaan Saptawati, mengatakan anak boleh diperkenalkan dengan rasa gula dan garam setelah usianya satu tahun atau lebih. “Sebaiknya nggak diberi sampai dia mendapatkan makanan orang dewasa. Itu karena makanannya dimasak bareng dan masakan keluarga biasanya sudah diberi bumbu macam-macam,” kata dia.

Selain gula dan garam, Prof Tati juga mengatakan bayi belum boleh diberi madu karena kandungan gulanya begitu tinggi. Rasa gula yang begitu manis pada madu dapat mengalahkan semua rasa makanan. Dikhawatirkan, ketika bayi diberi makanan lain, dia akan menilak karena sudah mengenal rasa manisnya madu.

“Konsentrasi gulanya juga tinggi sekali sehingga tidak bisa diserap dengan baik karena usus bayi belum sempurna. Akibatnya, bayi bisa mengalami diare,” ujar Prof Tati. [yy/tempo]

Anak Susah Makan Harus Diberi Perhatian Khusus

Anak Susah Makan Harus Diberi Perhatian Khusus


Fiqhislam.com - Ahli Gizi dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Rahmania, S.Gz, M.P.H menyebutkan bahwa bagi orang tua yang memiliki buah hati yang susah makan harus diberi perhatian khusus. Tujuannya agar kebutuhan gizi anak tercukupi dan terhindar dari kekerdilan (stunting).

"Anak susah makan itu harus diberikan perhatian penuh dengan beberapa pendekatan agar gizi yang dibutuhkan anak bisa terpenuhi. Dengan gizi terpenuhi maka bisa mencegah atau terhindar dari kekerdilan. Kekerdilan sendiri adalah ketika anak di usia 0 – 5 tahun gagal tumbuh maksimal atau kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusia nya," ujarnya di Pontianak, Selasa (5/11).

Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang bisa dilakukan seperti variasi untuk makanan anak, sayur dicampur dengan bahan makanan lainnya. Bentuk dan warna makanan yang menarik dan termasuk alat makan untuk menghidangkan makanan anak juga harus menarik agar buah hati ikut tertarik untuk makan.

"Perlu diperhatikan juga dan selama ini kita tidak memperhatikan bahwa anak itu banyak meniru orang tua. Sehingga orang tua juga harus memberikan contoh yang baik. Buah hati akan ikut makan orang tua misalnya seperti waktu makan bersama," papar dia.

Secara umum ia menilai pola makan yang sehat merupakan satu kunci yang dapat mencegah kekerdilan pada anak.

"Untuk mencegah kekerdilan pola makan yang sehat satu di antara solusinya. Umumnya untuk masyarakat luas Indonesia punya pedoman yang namanya piring makanku dan tumpeng gizi. Di situ diberikan contoh secara visual, dalam sehari seberapa banyak yang harus dikonsumsi, juga persentase satu zat gizi terhadap yang lain," jelas dia.

Fenomena di lapangan jelas dia, banyak ibu muda yang percaya ilmu atau informasi yang dibagikan di media sosial. Kadang informasi tersebut tidak disertai penelitian.

"Akan tetapi karena dibagikan oleh akun yang terkenal banyak percaya. Jadi pola yang diterapkan juga memang kurang tepat," kata dia.

Ia menambahkan kasus kekerdilan tidak semestinya soal mapan atau tidaknya orang tua si anak. Kadang juga kepada persoalan pola asuh. Jika orang tua yang mapan sibuk dengan pekerjaannya dan si anak dijaga nenek atau menggunakan jasa asisten rumah tangga atau lainnya.

"Belum lagi ada anak suka ngemil dan karena ngemil ia kenyang. Ia ngemil tadi dari sisi kebutuhan gizi tidak mencukupi. Orang tua menyuruh makan yang sehat ia sudah kenyang. Nah, itu yang perlu juga diperhatikan," jelas dia.

Ia menyebutkan bahwa saat ini di Kalbar dalam kasus kekerdilan berada posisi tiga besar di Indonesia. “Kalbar berada di urutan ketiga paling tinggi di Indonesia. Dari 10 anak ada sekitar 3 - 4 orang mengalami kekerdilan di Kalbar. Hal itu menandakan Kalbar cukup parah. Rantai dan perilaku yang menyebabkannya sudah saatnya kita putus,” kata dia. [yy/republika]