13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Di Usia 15 Bulan, Anak Sudah Bisa Belajar tentang Kerja Keras

Di Usia 15 Bulan, Anak Sudah Bisa Belajar tentang Kerja Keras


Fiqhislam.com - Di usia 15 bulan ternyata anak sudah bisa belajar tentang nilai kerja keras, lho. Setidaknya ini adalah kata sebuah penelitian.

Adalah para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang melakukan penelitian ini. Kata peneliti, bayi yang menyaksikan perjuangan keras orang dewasa untuk mencapai tujuan, kelak akan lebih giat menyelesaikan tugas mereka sendiri, dibandingkan bayi yang melihat orang dewasa berhasil melakukan sesuatu dengan mudah.

Memang sih, ini baru sebatas penelitian di laboratorium, Bun. Periset sendiri juga belum mempelajari berapa lama efeknya bertahan. Tapi senggaknya temuan ini bisa menjadi panduan bagi orang tua untuk menanamkan nilai usaha pada anak sejak dini.

"Tidak ada yang bisa Anda pelajari dari sebuah studi laboratorium untuk secara langsung mengasuh anak, tapi setidaknya ini menunjukkan kepada anak bahwa Anda bekerja keras untuk mencapai tujuan," Laura Schulz, seorang profesor sains kognitif di MIT, dikutip dari Science Daily.

Dalam eksperimennya, Schulz membiarkan bayi-bayi berusia 15 bulan untuk menonton orang dewasa melakukan dua tugas. Pertama, mengeluarkan katak mainan dari wadah dan mengeluarkan gantungan kunci dari sebuah carabiner.

Separuh bayi yang terlibat dalam penelitian melihat orang dewasa menyelesaikan tugas itu dalam 30 detik. Sementara separuh lainnya melihat perjuangan orang dewasa yang selama 30 detik belum berhasil melakukan tugasnya.

Selanjutnya bayi mendapatkan mainan musik yang memiliki tombol. Tombol itu seolah-olah merupakan cara untuk memainkan musiknya. Padahal bukan itu tombolnya, melainkan tombol fungsional yang ada di bagian bawah mainan. Sebelum memberikan mainan tersebut, para peneliti memutar musiknya lebih dahulu, lalu mematikannya, baru memberikannya pada bayi-bayi.

Apa yang terjadi setelah dua menit? Peneliti mencatat bayi beberapa kali mencoba menekan tombol yang mereka duga bisa menghasilkan suara musik. Bayi yang sebelumnya melihat usaha keras orang dewasa menyelesaikan tugasnya cenderung menekan tombol itu dua kali atau lebih. Bayi yang tidak melihat usaha keras juga menekan tombol setidaknya dua kali, namun sebelumnya mereka minta bantuan atau melempar mainannya lebih dulu.

"Perbedaan sebenarnya di sini adalah berapa kali mereka menekan tombol sebelum mereka meminta bantuan," ucap Julia Leonard, yang juga terlibat dalam penelitian.

Temuan lainnya, interaksi langsung dengan bayi juga membuat perbedaan, lho. Jadi ketika disebutkan nama bayi yang turut serta dalam eksperimen, maka bayi yang bersangkutan terlihat berusaha lebih keras.

"Apa yang kami temukan konsisten dengan banyak penelitian lainnya, di mana isyarat pedagogis itu bisa jadi penguat. Efeknya tidak lenyap, tapi menjadi jauh lebih lemah tanpa isyarat itu," sambung Schulz.

Kiley Hamlin, seorang profesor psikologi di University of British Columbia yang tidak terlibat dalam penelitian itu mengambil dua kesimpulan. Pertama, bayi belajar ketekunan secara umum dan bukan cara terbaik menyelesaikan tugas secara khusus. Kedua, kegigihan orang dewasa mempengaruhi bayi, setidaknya dalam jangka pendek. Demikian dikutip dari situs Massachusetts Institute of Technology. [yy/haibunda]

 

Tags: Balita