5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Pro & Kontra Pemakaian Empeng Pada Bayi

Pro & Kontra Pemakaian Empeng Pada Bayi Fiqhislam.com - Empeng masih jadi andalan beberapa ibu untuk membuat bayi tenang. Padahal tidak semua bayi membutuhkan empeng. Sebelum Anda memutuskan untuk memberi bayi empeng, kenali dulu pro dan kontranya.

Dalam bukunya 'Anak Sehat: 100 Solusi dr. Tiwi', dr. Tiwi menjelaskan bayi sebaiknya hanya menyusu ASI dan tidak memakai empeng. Namun khusus bagi bayi prematur dan dengan gangguan perkembangan, empeng bisa digunakan.

Berikut ini pro dan kontra pemakaian empeng seperti dipaparkan dokter lulusan Universitas Airlangga itu:


{AF}

Pro
- Empeng dapat membantu bayi prematur untuk melewati transisi dari pemberian minum lewat tube ke minum lewat botol. Empeng juga dapat membantu menimbulkan refleks isap yang biasanya kurang optimal pada bayi prematur.

- Empeng untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan seperti PDD (Pervasive Developmental Disorder atau kasus autisme) kadang-kadang dibutuhkan untuk membantunya 'menyimak' sesuatu. Anak dengan gangguan perkembangan biasanya mengalami masalah dalam memproses rangsangan yang diterima melalui panca indra. Memberi empeng pada mereka yang memerlukan rangsangan lebih sering berguna, terutama bila mereka sedang dalam proses belajar suatu hal. Kegiatan ini dapat diganti bertahap dengan memberi rangsan lain yang berkonsentrasi di daerah mulut, seperti minum dengan sedotan atau makan buah atau wortel.
{/AF}

{AF}

Kontra
- Bagi bayi ASI, empeng dapat membuat bayi menjadi bingung puting. Anak jadi sulit menyusu dengan benar jika diberikan empeng terlalu dini.

- Memakai empeng terlalu lama akan mengakibatkan masalah pada susunan gigi dan gusi si kecil.

- Pemakaian empeng meningkatkan kemampuan infeksi telinga tengah pada anak, karena gerakan menghisap empeng mengurangi fungsi saluran eustasius untuk bekerja secara normal, yaitu menjaga telinga tengah terbuka dan bersih.

Bagaimana jika si kecil menggunakan empeng? Ini penjelasan dr. Tiwi dalam buku yang diterbitkan oleh Erlangga Group itu:

- Jangan memberikan empeng setiap mulut bayi terbuka.
- Coba alternatif lain untuk menenangkan tangisan bayi.
- Coba tidurkan si kecil tanpa memakai empengnya.
- Hindarkan pemakaian empeng saat refleks mengisap sudah hilang, biasanya antara usia 6-10 bulan.
- Beri bayi kegiatan yang berkonsentrasi di mulut, seperti minum jus buah yang kental dengan sedotan atau makan makanan keras seperti wortel atau apel untuk digigit-gigit. Kegiatan ini baik untuk latihan mengunyah.
{/AF}

wolipop.com