19 Muharram 1444  |  Rabu 17 Agustus 2022

basmalah.png

Umrah, Haji, dan Tasamuh

Umrah, Haji, dan Tasamuh

Fiqhislam.com - Ibadah haji dan umrah, selain merupakan rukun Islam yang kelima, juga merupakan satu-satunya ibadah yang berdimensi internasional, umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tempat yang sama. Demikian dikatakan KH Luqman Abdullah Fatah, pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Malang, Jawa Timur, di sela-sela pelaksanaan ibadah umrah di Makkah pada 3-10 Maret 2010. Tak kurang dari 600 jamaah dari berbagai daerah di Indonesia turut serta dalam rangkaian umrah yang diselenggarakan PT Basmah Aryo Tour ini.

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Luqman ini, sejak melepas pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram sampai berakhir, itu semua mengandung makna. Begitu pakaian ihram dikenakan, kita tanggalkan semua atribut dunia dan hanya memakai pakaian putih tak berjahit.

“Kita siap mati menghadap Allah dan meninggalkan semua yang kita miliki di dunia. Artinya, peneguhan semangat tauhid dengan hanya mengagungkan Allah. Tidak ada kelebihan satu orang dengan yang lain, baik warna kulit, pangkat atau hartanya,” ujar Gus Luqman yang juga pembimbing jamaah Basmah AryoTour.

Terkait dimensi internasional ibadah umrah dan haji, Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa, yang juga turut dalam perjalanan umrah besar tersebut mengatakan, perjalanan haji dan umrah mengandung 7 hikmah yang bisa disingkat T-7. Pertama, tauhid, artinya orientasi ibadah ini hanya kepada Allah. Kedua, tawakal, yaitu penanaman kembali sikap pasrah kepada Allah.

Ketiga, tasamuh, yakni setelah umat Islam naik haji atau umrah, sifat toleransi kepada sesama akan bertambah. Keempat, tadabbur, kita harus merenung apa yang ada di dalam diri kita.  Kelima, taubat, kita harus bertaubat dari seluruh kesalahan. Keenam, taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah. Ketujuh, ta`awun. “Ta’awun artinya bekerjasama atau saling menolong dalam kebaikan dan takwa, bukan dalam dosa dan permusuhan,” ujar Menteri Sosial pada era Pemerintahan Gus Dur itu.

Tentang hikmah tasamuh dalam ibadah umrah dan haji, Gubernur Lampung, Drs H Sjachroedin ZP. SH, yang juga turut berumrah bersama sejumlah staf pemda, mengatakan bahwa di tempat suci itu berkumpul orang-orang dari berbagai negara dengan mazhab berbeda-beda. Mereka pun, misalnya, melakukan shalat yang terkadang dengan cara yang tidak sama. “Meskipun berbeda madzhab, tapi pada dasarnya kita masih satu bendera dan kiblat, yakni laa ilaha illallah,” ujar Komjen Pol (Pur) Sjachroedin, yang pernah menjabat Deputi Kapolri ini.

Orang nomor satu di Provinsi Lampung ini juga menjelaskan ihwal ibadah thawaf. Umat Islam itu, kata dia, dalam thawaf seolah-olah berjanji bahwa hidup ini penuh dengan putaran. Namun, sesungguhnya perputaran hidup itu hanya kepada Allah. Jadi, tawaf itu berputar seperti gerakan roda yang memiliki sumbu.

“Dalam hidup kita ini sumbunya hanya kepada Allah Swt. Karena itu, yang kita ucapkan ketika berangkat dari Miqat dengan pakaian ihram adalah lafadz labaik allahumma labaik… Ya Allah, aku memenuhi panggilanmu. Jadi, orientasinya hanya kepada Allah,” katanya, menjelaskan.

Harus Tawakkal
Mantan Sekretaris Presiden/Kepala Rumah Tangga Presiden, H Kemal Munawar, dalam kesempatan yang sama juga menjelaskan tentang hikmah yang terkandung dalam gerakan Sai. Menurutnya, Sai menirukan dan mengulang kembali apa yang dilakukan Siti Hajar. Saat itu, Siti Hajar dan Ismail ditinggal Nabi Ibrahim sendirian di padang pasir yang tidak tersedia apa-apa. Namun, dia tetap tawakkal kepada Allah. “Artinya, asal kita beriman kepada Allah, kita ini ada yang mengurus. Buktinya, dengan Siti Hajar yang berlari dari Safa dan Marwah ternyata kemudian keluar air zam-zam yang terus melimpah hingga sekarang,” paparnya.

H Kemal menambahkan, pada musim haji, sekitar 3 juta orang setiap hari menggunakan air zam-zam, meminum, untuk berwudhu dan kepentingan lain. Jika rata-rata 10 liter per orang per hari, maka tak kurang dari 30 juta liter yang diambil. Namun realitanya, air zam-zam itu tak pernah habis, meski jarang turun hujan di sekitar Makkah. Artinya, kita harus yakin dan tawakkal kepada Allah.

CMM.or.id