14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Ironi di Jabal Tsur

Ironi di Jabal Tsur“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada temannya: ”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.

Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS At-taubah [9]: 40)

Hari itu, kaum kafir menduga Rasulullah SAW dan ajarannya bakal “habis”. Sebagian telah berangkat ke Madinah, tinggal dia dan sabahatnya, Abu Bakar, yang tersisa. Keduanya merupakan most wanted saat itu, dan tekad kaum kafir Quraisy hanya satu: Membunuhnya.

Jabal Tsur diyakini bakal menjadi ladang pembantaian bersejarah bagi pria yang dianggap mengganggu karena menyebarkan ajaran tauhid itu. Keduanya ditengarai lari ke atas bukit curam itu. Makin mudah bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup atau menghabisinya dengan satu ayunan pedang.

Namun, seperti ditegaskan Allah dalam ayat itu, Dia berkehendak lain. Seekor laba-laba membuat sarang dengan begitu cepat di mulut gua. Sepasang merpati sigap membuat sarang di tempat yang tidak jauh berbeda.

Kaum kafir terkecoh. Tak mungkin keduanya berada di sana, jika mulut gua tertutup sarang laba-laba. Rasul dan Abu Bakar pun selamat.

Namun, mereka belum cepat-cepat keluar dari gua begitu kaum kafir meninggalkan mereka. Tiga malam mereka habiskan waktu di gua pengap itu.

Abu Bakar berkorban dengan caranya. Saat tubuh letih dan lemah, ia mempersilakan Rasulullah SAW tidur di pangkuannya. Terdengar desis ular keluar dari sebuah lubang. Abu Bakar menghalaunya dengan jari kaki sehingga terpatuk ular berbisa. Tubuh Abu Bakar menggigil karena sengatan bisa. Hingga keringat dingin bercucuran dari dagunya dan menetes di pipi Rasulullah SAW yang tengah terlelap tidur.

Di sinilah, pegorbanan lain dilakukan Asma binti Abu Bakar RA. Dia sembunyi-sembunyi menyelinap ke atas bukit untuk menyuplai makanan dengan risiko diketahui kaum kafir dan dihabisi.

Maka, inilah Jabal Tsur yang menjadi bukti dari pengorbanan seorang Muslim demi membela dan menyebarkan ajaran Islam. Tidak peduli, meski nyawa menjadi taruhannya. Bukit terjal yang memiliki tiga puncak yang bersambungan ini berada 7 km dari Masjidil Haram ke arah Thaif. Ke sanalah, kami menuju.

Berangkat dini hari pukul 02.30 waktu Arab Saudi, saya bersama sembilan teman wartawan dari Jakarta memulai perjalanan ke Jabal Tsur. Tulisan “Mad Carok” di batu besar menuju pintu masuk menyambut kami. Ah, ini pasti ulah iseng jamaah kita.

Sepuluh menit pertama, saya melewati dengan napas tersengal-sengal. Jalan terus menanjak. Persiapan saya sangat kurang untuk memulai pendakian itu: Hanya sempat tidur 1,5 jam sebelum berangkat.

Di seperlima jarak menuju puncaknya, saya menyerah. Saya gagal mengatur ritme napas. Kepala berkunang-kunang dan muntah hebat. Sempat berpikir untuk menyudahi misi kunjungan kami ke Jabal Tsur itu, tapi saya malu pada Rasulullah. Jangankan untuk berjuang seperti beliau, menapak tilas sebagian kecil saja fragmen hidupnya, saya tak mampu.

Dua orang teman dari TV One dan kantor berita Antara menyemangati langkah saya. “Muntahkan saja semua, kami menunggu,” ujar mereka. Sepuluh menit berhenti, kami kembali meneruskan perjalanan.

Kali ini, saya menemukan cara mengatur napas. Tarik dari hidung, embuskan melalui mulut. Jangan terlalu terburu-buru melangkah, dan pilih pijakan yang tak terlalu tinggi. Sukses. Satu jam kemudian, kami telah berada di puncaknya.

Puluhan jamaah Turki telah berada di sana. Sebagian telah lanjut usia. Ya, stamina mereka memang luar biasa. Kami bergabung untuk shalat Tahajud di pelataran datar yang telah ditutup karpet seadanya. Juga shalat Subuh berjamaah.

Bagaimana Gua Tsur yang bersejarah itu? Luasnya tak seberapa, pintu masuknya hanya cukup untuk satu orang dan setengah membungkuk untuk memasukinya. Di dalam goa, kita tak bisa berdiri. Saya duduk di bagian datar gua itu, tempat dulu Abu Bakar duduk dan Rasulullah merebahkan kepala di pangkuannya.

Keluar dari sisi lain gua, saya disambut hal yang sungguh merusak pemandangan: Penjual minuman yang tendanya menutupi mulut gua. Terpal biru yang menutupnya sungguh kumal.

Namun, saya tak begitu kaget. Saat berkunjung ke Jabal Rahmah beberapa hari setelah tiba di Makkah, saya sudah cukup terkaget-kaget dengan 15 menit pendakian saya berakhir dengan pemandangan puncak bukit yang ganjil: Tugu peringatan pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa dan barisan pedagang tasbih yang menggelar dagangannya di bawah tugu itu!

Menurut saya, dalam soal pelestarian objek-objek bersejarah, pemerintah Makkah agak teledor. Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan Jabal Nur, dipenuhi aksi vandalisme; coretan di sana-sini. Sampah bertebaran dan menghiasi cekungan sepanjang bukit.

Puluhan pria –rata-rata berasal dari India– dengan sekop pura-pura meratakan batu dan ujung-ujungnya meminta uang satu riyal dari jamaah. Mirip oknum yang pura-pura mengerjakan perbaikan jalan rusak di pinggiran Jakarta dan meminta uang dari pengguna jalan.

Banyak tempat bersejarah juga berubah dari kondisi aslinya. Masjid Jin, misalnya, bangunan hasil renovasi tak lagi sama dengan bentuk aslinya. Dinding ditutup keramik dan ornamen arsitektur modern tampil di sana-sini. Di masjid itu, susah saya menemukan “penjiwaan” saat utusan jin mendatangi Rasulullah dan melakukan bai”at serta bersyahadat.

Sekarang di Jabal Tsur, tempat yang sungguh penting dalam sejarah penyebaran dienullah, kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Bayangkan, mulut gua dipersandingkan dengan tenda kumal seadanya pedagang minuman yang melayani pembeli dengan lupa tersenyum pula. Ironis sekali. Sayang sungguh sayang.

mch/yto/jurnalhaji.com

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada temannya: ”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.