15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Sejarah Haji Dan Umrah (2/5)

Sejarah Haji Dan Umrah (2/5)


Fiqhislam.com - Ibrahim membawa Ismail ke suatu bukit di sebelah timur Makkah, tempat yang sekarang bernama Mina. Tiga kali Iblis menggoda Ibrahim untuk membatalkan rencananya, tiga kali pula Ibrahim menolak godaan Iblis dengan lontaran kerikil. Tindakan Ibrahim ini kelak diabadikan dalam salah satu manasik (tatacara) haji, yaitu melontar tiga jumrah di Mina.

Setelah Ismail direbahkan pada batu landasan penyembelihan, dan pedang Ibrahim telah siap hendak menyentuh leher putranya, maka Allah berfirman agar Ibrahim mengganti sembelihannya dengan seekor domba. Firman Allah dalam Ash-Shaffat 106-107: Inna hadza lahuwa l-bala'u l-mubin. Wa fadaynahu bi dzibhin `azhim ('Sesungguhnya ini benar-benar hanya ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor domba yang besar').

Ibrahim tidak kehilangan putra, bahkan putranya bertambah satu lagi, sebab setelah peristiwa ujian qurban itu Allah memberikan kabar gembira bahwa istri pertamanya, Sarah, akan memberinya putra yang bernama Ishaq (dalam bahasa Arab) atau Yitshaq (dalam bahasa Ibrani), sebagaimana diterangkan dalam Ash-Shaffat 112: Wa basysyarnahu bi ishaq, nabiyyan mina sh-shalihin ('Dan Kami gembirakan dia dengan Ishaq, seorang nabi yang saleh'). Ishaq kelak menurunkan bangsa Ibrani, sedangkan Ismail kelak menurunkan bangsa Arab, terutama suku Quraisy di Makkah.

Sekarang marilah kita tinjau informasi Bereshith mengenai peristiwa qurban tersebut. Dalam Bereshith 22 : 2 perintah Allah kepada Ibrahim berbunyi: 'Ambillah anakmu yang satu-satunya, yang engkau kasihi, Ishaq(?), dan pergilah ke tanah Moriah dan kurbankan dia sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Aku firmankan kepadamu.'

Ketika naskah Taurat dibakukan, para ulama Yahudi mengganti nama Yishma`el (Ismail) pada Bereshith 22 dengan Yitshaq (Ishaq). Tetapi akal bulus Yahudi ini kelihatan sekali belangnya. Bereshith 22 : 2 jelas menyebutkan 'anakmu yang satu-satunya'. Naskah Ibraninya berbunyi yahid, artinya 'satu-satunya'. Hal ini berarti bahwa ujian Allah kepada Ibrahim terjadi sebelum Ishaq lahir, ketika Ibrahim baru mempunyai seorang putra, yaitu Ismail. Kitab Taurat sendiri jelas menyebutkan bahwa Ismail lahir ketika Ibrahim berusia 86 tahun (Bereshith 16 : 16), sedangkan Ishaq lahir ketika Ibrahim berusia 100 tahun (Bereshith 21 : 5).

Dalam Al-Baqarah 75 dinyatakan bahwa kaum Yahudi 'mendengar firman Allah lalu mengubahnya setelah memahaminya padahal mereka mengetahui' (yasma`una kalama l-Lahi tsumma yuharrifunahu min ba`di ma aqaluhu wa hum ya`lamun). Skandal pengubahan nama Ismail menjadi Ishaq dalam peristiwa qurban itu disebabkan umat Yahudi tidak rela keturunan Ismail berperan dalam pelaksanaan janji Allah pada Bereshith 22 : 18 'Dan semua bangsa di muka bumi akan diberkati melalui benihmu, karena engkau telah mendengarkan firman-Ku'.

Janji Allah tersebut dipertegas dalam Al-Baqarah 124: 'Dan ketika Tuhannya menguji Ibrahim dengan perintah-perintah tertentu, maka Ibrahim memenuhi semuanya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam (pemimpin) bagi manusia.' Ibrahim bertanya, 'Juga keturunanku?' Allah berfirman, 'Perjanjian-Ku tidak mencakup mereka yang zalim'.

KEMUDIAN turunlah perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismail untuk membangun atau merenovasi Rumah Allah (Baitullah) dengan meninggikan fondasi yang memang sudah ada. Al-Baqarah 127 memberikan informasi: yarfa`u ibrahimu l-qawa`ida mina l-baiti wa Ismail (Ibrahim meningkatkan fondasi Al-Bait bersama Ismail). Oleh karena bangunan Rumah Allah yang didirikan Ibrahim dan Ismail itu berbentuk kubus (ka'bah dalam bahasa Arab), lama-kelamaan Rumah Allah yang berukuran 12 x 10,5 x 15 meter itu dikenal dengan sebutan Kakbah.

Perlu diketahui bahwa Nabi Ibrahim a.s. memiliki kebiasaan membuat semacam "tempat berdiri" untuk sembahyang (salat) menghadap Allah, yang disebut magom (bahasa Ibrani) atau maqam (bahasa Arab). Di Kana'an beliau sempat membuat sebuah magom, sebagaimana tercantum dalam Bereshith 19 : 27, tetapi magom tersebut rupanya tidak dilestarikan. Di depan Kakbah beliau juga membuat sebuah maqam.

Oleh karena itu, Allah mengabadikan maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim di depan Kakbah itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Baitullah. Wa ttakhidzu min maqami ibrahima mushalla (Dan ambillah Maqam Ibrahim menjadi tempat sembahyang), demikian tercantum dalam Al-Baqarah 125. Sebagai catatan kecil, entah mengapa istilah maqam (makam) digunakan dalam bahasa Indonesia untuk menyebut "kuburan" sehingga ada jemaah haji yang menyangka Maqam Ibrahim sebagai "kuburan Nabi Ibrahim", padahal kuburan beliau terletak di Hebron atau Al-Khalil, daerah Tepi Barat, Palestina.

Setelah Kakbah rampung dibangun, barulah turun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. agar menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah mengunjungi Baitullah disebut hajj dalam bahasa Arab serta hagg dalam bahasa Ibrani (huruf Arab ha dan jim identik dengan huruf Ibrani heth dan gimel) yang berarti 'Perayaan Tuhan, Festival of God'. Surat Al-Hajj 27 merekam firman Allah kepada Nabi Ibrahim a.s.: Wa adzdzin fi n-nasi bi l-hajj. Ya'tuka rijalan wa `ala kulli dhamir, ya'tina min kulli fajjin `amiq (Dan panggillah manusia untuk berhaji. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan segala jenis kendaraan, datang dari segenap penjuru yang jauh).

Wa arina manasikana (Dan tunjukkanlah kepada kami tatacara haji bagi kami), demikian permohonan Ibrahim kepada Allah yang tercantum dalam Al-Baqarah 128. Oleh karena itu, Allah mengajarkan tatacara (manasik) ibadah haji kepada Nabi Ibrahim a.s. Manasik haji yang pertama-tama adalah melakukan ihram, artinya 'mengharamkan' atau 'mensucikan', yaitu mengenakan pakaian ihram serta tidak melakukan larangan-larangan ihram. Begitu jemaah haji menginjakkan kaki di Tanah Haram (Tanah Suci), mereka harus sudah menanggalkan pakaian mereka sehari-hari dan menggantinya dengan kain ihram. Ini suatu perlambang atau simbol bahwa di Rumah Allah manusia harus bersedia membebaskan diri dari segala atribut kekayaan, jabatan, dan status sosial yang disandangkan orang kepadanya. Di hadapan Allah, semua manusia tanpa kecuali berstatus sama, yaitu Hamba Allah.

Kemudian para jemaah haji harus melakukan wuquf (berdiam, jambore) di Padang Arafah, sekira 25 km di sebelah timur Makkah. Inilah upacara gladi resik berkumpulnya umat manusia di Padang Mahsyar pada Hari Akhirat nanti, sekaligus para jemaah haji melakukan "reuni" di tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah kedua nenek moyang umat manusia ini terusir dari Taman Eden (Jannatu `Adn). Itulah sebabnya tempat wuquf itu dinamai Padang Arafah, artinya 'Padang Pengenalan' agar manusia mengenali kembali persaudaraan sebagai sesama anak cucu Adam dan Hawa. Ketika melakukan wuquf, jemaah haji menyadari bahwa umat manusia yang bermacam-macam warna kulit, bahasa, dan adat-istiadat ternyata adalah saudara sedarah dan seketurunan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Hujurat 13: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi".

Selanjutnya, para jemaah haji harus melakukan thawaf, yaitu mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh putaran. Inilah tarian kosmos sebab Allah menakdirkan bahwa alam semesta hanya eksis karena gerakan thawaf. Jemaah haji meniru gerakan elektron-elektron yang berthawaf mengelilingi inti atom serta gerakan planet-planet yang berthawaf mengelilingi matahari. Hari Kiamat akan terjadi ketika thawaf alam semesta berhenti. Seluruh materi di jagat raya, dari partikel-partikel penyusun atom sampai benda-benda langit senantiasa tunduk-patuh kepada hukum-hukum Ilahi yang mengatur mereka. Dengan melakukan thawaf diharapkan manusia sebagai bagian alam semesta menyadari bahwa mereka pun seharusnya tunduk-patuh kepada aturan-aturan Allah sebagaimana tunduk-patuhnya seluruh isi langit dan bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Ali Imran 83: "Apalagi yang mereka cari selain agama Allah, padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi secara sukarela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan".

Sesudah melakukan thawaf, jemaah haji harus melakukan sa'i, meniru gerakan Hajar bolak-balik tujuh kali antara bukit Safa dan bukit Marwah. Kata sa'i berarti usaha. Ternyata Hajar baru memperoleh anugerah air Zamzam dari Allah setelah dia melakukan sa'i (usaha) yang maksimal. Dengan melakukan sa'i diharapkan manusia menyadari bahwa kesuksesan dan kejayaan hanya dapat diraih melalui usaha atau perjuangan maksimal, bukan dengan sekadar berdoa sambil berpangku tangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam An-Najm 39-40: "Bahwa manusia tidak memperoleh apa-apa kecuali apa yang diusahakannya (ma sa`a), dan bahwa usahanya (sa`yahu) akan segera terlihat nyata".

Sekarang kita teruskan perjalanan sejarah kita. Ismail menikah dengan Ra`la binti Mudad, putri pemimpin Jurhum yang diceritakan di muka. Pernikahan ini membuahkan dua belas putra yang menurunkan bangsa Arab (Bani Ismail). Nama-nama mereka tidak disebutkan dalam Alquran, tetapi tercantum lengkap dalam Bereshith 25 : 13-15. Yang banyak disebut-sebut adalah dua orang putra tertua, Nabit (Nebayot) dan Qaydhar (Kedar), sebab mereka berdua kelak menurunkan suku Quraisy penduduk Makkah. Sementara itu di Palestina, Ishaq menikah dengan Ribqah (Rebecca) dan berputra Ya`qub. Ya`qub yang bergelar Yisra'el atau Isra'il mempunyai dua belas putra yang menurunkan bangsa Ibrani (Bani Isra'il).

Pada mulanya Bani Isra'il pun ikut serta dengan saudara-saudara mereka Bani Ismail menunaikan ibadah haji ke Makkah sebagai sesama keturunan Nabi Ibrahim. Akan tetapi ketika bangsa Arab atau Bani Ismail tersesat kepada penyembahan berhala, Bani Isra'il tidak lagi mengunjungi Kakbah (Ibn Ishaq, Sirah an-Nabawiyyah, h.15). Namun, dalam Kitab Zabur dari Nabi Daud a.s. tersurat kerinduan kepada Baitullah: "Sungguh diberkati mereka yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berteguh hati menunaikan haji. Dan ketika tiba di Lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air" (Zabur 84 : 5-6).

Hanya Allah yang tahu berapa lama Bani Ismail tetap memegang teguh ajaran Tauhid dari Nabi Ibrahim a.s. Setelah beberapa abad, mereka tergelincir mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala. Ratusan berhala dipasang di sekeliling Kakbah dengan berbagai nama-nama aneh: Lata, Uzza, Manat, Hubal, Asaf, Na'ilah, dan entah apa lagi. Manasik atau tatacara haji juga dicampurbaurkan dengan upacara pemujaan berhala. Keadaan seperti ini berlangsung berabad-abad. Namun, akhirnya tibalah saatnya doa Nabi Ibrahim a.s. dikabulkan, yaitu doa yang beliau sampaikan kepada Allah ketika mendirikan Kakbah: "Ya Tuhan kami, bangkitkanlah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al-Baqarah 129).

Sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim a.s. tersebut, Allah membangkitkan seorang manusia dari kalangan suku Quraisy yang bernama Muhammad saw. (shalla l-Lahu `alayhi wa sallam, kehormatan Allah bagi beliau beserta kedamaian) sebagai Nabi dan Rasul Terakhir yang meneruskan dan menyempurnakan ajaran seluruh Nabi dan Rasul terdahulu. Beliau lahir tahun 571, menerima wahyu pertama tahun 610, hijrah ke Madinah tahun 622, dan wafat tahun 632. Usia beliau 61,5 tahun menurut tarikh syamsiyah (kalender matahari) atau 63 tahun menurut tarikh qamariyah (kalender bulan). Kita hanya akan membahas perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. yang berkenaan dengan upacara haji.

Pada tahun 625 (4 Hijri), Allah menetapkan bahwa syariat haji dari Nabi Ibrahim a.s. harus dilaksanakan oleh umat Islam, dengan turunnya ayat: "Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam" (Ali Imran 97). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah haji diwajibkan "bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana" (man istatha`a ilayhi sabila), yaitu mampu dalam hal fisik (sehat), finansial (mempunyai biaya), dan sekuriti (aman tiada gangguan). Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad saw. baru menunaikan ibadah haji tahun 10 Hijri (632 M), tiga bulan sebelum beliau wafat dan enam tahun sesudah ayat di atas diwahyukan. Ketika perintah haji itu diwahyukan Allah, Makkah sedang dikuasai oleh kaum musyrikin yang memusuhi Muslimin di Madinah. Beberapa bulan sebelum perintah haji itu turun berlangsunglah Perang Uhud (3 Hijri), dan tahun sebelumnya (2 Hijri) terjadi Perang Badar, lalu pada tahun 5 Hijri terjadi Perang Khandaq. Kondisi seperti itu sudah tentu tidak memungkinkan bagi Nabi Muhammad saw. beserta para sahabat untuk menunaikan ibadah haji. [yy/irfananshory.blogspot]

Oleh Drs. H. Irfan Anshory
Penulis adalah salah seorang pembina Masjid Salman ITB, Bandung