10 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 06 Oktober 2022

basmalah.png

Hukum Seorang Wanita Mengerjakan Ibadah Haji, Lalu Datang Bulan (Haid) sebelum Thawaf Wada'

Hukum Seorang Wanita Mengerjakan Ibadah Haji, Lalu Datang Bulan (Haid) sebelum Thawaf Wada'

Fiqhislam.com - Seorang wanita mengerjakan ibadah haji, lalu datang bulan (haid) sebelum Thawaf Wada', bagaimana hukumnya?

Jawaban

Jika ada wanita sedang mengerjakan Thawaf Ifadhah lalu datang bulan setelah selesai mengerjakan manasik haji, dan tidak tersisa baginya kecuali Thawaf Wada', maka kewajibannya untuk mengerjakan Thawaf Wada' gugur dalam keadaan seperti ini, karena ada hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, berkata, "Beliau menyuruh manusia agar menjadikan akhir haji mereka di ka'bah kecuali beliau memberikan keringanan kepada orang haid." {Ditakhrij oleh Al-Bukhori dalam kitab Thawafu Al-Wada'.[1756] dan Muslim dalam kitab Al-hajj, bab "Wujubu Thawaf Al-Wada' wa Suquthuhu' An Al-Haid",[1338]}. Ketika ditanyakan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  bahwa Shafiyah bintu Huyay haid dan telah melakukan Thawaf Ifadzah, beliau menjawab,"Jadi berangkatlah sekarang."{Ditakhrij oleh Al-Bukhori dalam kitab Al-Hajj, bab "Idza Hadhat Ba'dama Afadhat",[1757] dan Muslim dalam kitab Al-Hajj, bab"Wujubu Thawafi Al-Wada' wa Suquthuhu 'An Al-Haid",[1211]}.Beliau menggugurkan darinya pelaksanaan Thawaf Wada'.

Adapun Thawaf Ifadzah tidak gugur karena haid, baik wanita itu harus tinggal di Makkah hingga suci dan melakukan Thawaf Ifadzah atau pulang ke negerinya dengan membawa tanggungan kewajiban yang belum dia kerjakan dalam ihramnya, jika telah suci kembali lagi melaksanakan Thawaf Ifadzah. Di sini sebaiknya jika dia kembali, hendaknya melaksanakan Umrah dulu, lalu Thawaf, Sa'i dan memotong rambut, kemudian baru melakukan Thawaf Ifadzah. Jika hal itu tidak mungkin dilakukan karena keadaan tertentu, maka dia boleh memakai sesuatu di tempat haid seperti pembalut, yang mencegah jatuhnya haid agar tidak mengotori masjid, kemudian mengerjakan Thawaf karena dharurat. Demikianlah menurut pendapat yang rajih.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Fataawaa Arkaanil Islam, atau Tuntunan Tanya-Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, Haji: Fataawaa Arkaanil Islam,  terj. Muniril Abidin, M.Ag (Darul Falah, 2005), hlm. 559 - 560.

alislamu.com