15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Berhajilah Sekali Saja seperti Rasulullah

Berhajilah Sekali Saja seperti RasulullahPak Kasiman (sebut saja begitu) tak pernah habis pikir atas nasib baik Haji Ihsan yang bisa berulangkali naik haji. Sebagai bawahan, Pak Kasiman mengetahui detail seluk beluk kelakuan atasannya itu baik di kantor maupun di rumah.

Keheranan Pak Kasiman adalah kenapa Tuhan begitu enteng membiarkan atasannya  berkunjung berkali-kali ke rumah suci yang paling diberkahi di muka bumi, padahal atasannya tersebut adalah orang dianggapnya berlumur kesalahan dan korupsi.

Timbul pertanyaan dalam benak Pak Kasiman, apakah atasannya itu tak pernah mengalami peristiwa ganjil sebagai teguran Tuhan selama di Tanah Suci atas perilaku negatifnya selama ini.

Jamak diketahui, baik atau buruk perilaku jamaah haji pasti akan mendapatkan balasan selama menunaikan ibadah haji. Balasan itu biasanya berupa peristiwa-peristiwa ganjil baik positif maupun negatif yang ditimpakan Tuhan kepada jamaah haji.

Namun, Haji Ihsan tetap saja tak mengalami “teguran” tersebut, bahkan yang membuat Pak Kasiman miris, perilaku Haji Ihsan tetap tak berubah meski dia telah berkali-kali naik haji.

Kejadian di atas mungkin pernah kita alami di sekitar kita. Kita melihat individu-individu yang naik haji tetap tak berubah perilakunya pascahaji. Kita pun merasa aneh kenapa ritualisme haji dipraktekkan oleh orang-orang yang tak layak bertamu kepada Allah.

Sebagai hamba beriman, kita bisa menjawab itulah hak prerogatif Allah kepada hambanya. Allah berhak memanggil siapa saja untuk menghampirinya. Allah pula yang berhak membuka hidayah moralitas seseorang untuk maju menuju kebaikan atau tetap menguncinya dalam keburukan.

Adapula orang yang naik haji berkali-kali. Sebuah hal paradoks, karena nabi Muhammad yang memiliki peluang berhaji tiga kali dan umroh puluhan kali hanya menunaikan hajinya sekali saja dan umroh tiga kali selama hidupnya.

Haji bukan saja ritual tapi dia juga simbol keberagamaan kontemporer. Sebagai ritual, haji memuat unsur-unsur pengagungan kemanusiaan, penguatan solidaritas serta ketergantungan pada sesama. Selama menjalani prosesi haji, para jamaah bukan saja menggantungkan dirinya kepada belas kasih Tuhan selama di Tanah Suci, tapi juga menggalang solidaritas doa di rumah masing-masing.

Tradisi mengumpulkan sanak kerabat dan tetangga selama prosesi haji berlangsung adalah ciri khas penguatan solidaritas ini. Para jamaah merasa lebih percaya diri akan berhasil menunaikan haji manalaka di belakang berderet orang-orang yang mendoakan perjalanan haji mereka. Bahkan, pengagungan terhadap kemanusiaan ini terlihat ketika calon jamaah meminta maaf kepada sesamanya sebelum berangkat haji.

Para calon jamaah khawatir manakala perilaku negatif mereka dibalas oleh Tuhan di Tanah Suci. Prosesi minta maaf menjelang haji ini mungkin lebih berkesan daripada prosesi serupa kala Lebaran.

Tapi haji juga simbol religiusitas. Simbol ini melekat deras karena kita memang manusia yang serba anima symbolicum. Ironisnya, simbol yang dihadirkan kadang tidak baik. Terdapat simbol kenaikan status sosial, simbol kekayaan bahkan lebih parah adalah simbol kesucian. Kaum muslim Indonesia terkadang menganggap seorang haji yang baru pulang berhaji sebagai insan yang telah dicuci bersih dari dosa.

Para haji yang baru datang dianggap makbul dalam berdoa. Hatta, kita tak pernah mempersoalkan perilaku kaum haji yang masih menyimpang. Ibadah haji seperti ini kering dari kesadaran sejati. Para haji hanya rela memohon ampun kepada Tuhan tapi lalai meminta maaf pada sesama, dalam pengertian tetap melakukan kecurangan yang merugikan publik.

Maka jangan heran, banyak koruptor adalah haji. Padahal, haji adalah cara manusia memahami dunia. Tapi para haji koruptor justru menggunakan haji untuk merumuskan dunia sesuai persepsinya. Kesadaran semu melanda masyarakat ketika para haji memiliki status sosial ibarat agamawan. Para haji mendadak bisa berperan sebagai pengkhotbah, pembaca doa dan rujukan perilaku.

Padahal, Islam mensyaratkan penguasaan ilmu yang bagus terhadap orang-orang yang ditokohkan. Dalam Islam, karakter orang beriman yang baik adalah eksisnya kombinasi sinergis segitiga antara iman, ilmu, dan amal saleh. Sayang, simbol haji di Indonesia tak mengikuti alur ini.

Padahal, Nabi mengatakan dalam sebuah hadits bahwa mereka yang menyantuni anak yatim dan kaum miskin akan masuk surga berkumpul dengan dirinya. Sedang haji mabrur, hanya dijanjikan surga. Ini artinya, prestasi kebajikan sosial lebih antusias di sisi nabi ketimbang mereka yang berhaji.

Boleh jadi, mereka yang memperjuangkan orang miskin, menampung anak yatim dan dermawan terhadap dhuafa lebih bagus mutu amalnya daripada para haji. Jadi, untuk apa berhaji berkali-kali, toh Allah dan Nabi lebih rindu kepada penyantun anak yatim. Allah justru lebih suci untuk ditemui disisi orang yang kelaparan dan menderita. Maka, berhajilah sekali saja dan segera salurkan simpanan duit Anda yang hendak Anda gunakan untuk naik haji berikutnya ke rumah jompo dan panti asuhan.

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

okezone.com

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial keagamaan. Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ. Berdomisili di Sumenep, Madura.