12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Tragedi Qaramithah: 22 Tahun Ka’bah Tanpa Hajar Aswad

Tragedi Qaramithah: 22 Tahun Ka’bah Tanpa Hajar Aswad

Fiqhislam.com - Bagi umat Muslim Hajar Aswad bukan batu hitam biasa, tetapi benda yang sangat mulia dan dikeramatkan. Beberapa hadits Nabi telah mendasari alasan ini, seperti bisa melebur dosa hanya dengan menyentuhnya, menjadi saksi di hari kiamat, bahkan dikatakan sebagai batu suci yang dikirim dari surga. Dari sederet fadhilah itulah Hajar Aswad menjadi salah satu ikon sakral bagi umat Muslim.

Tahukah anda, dalam perjalanan sejarah, batu yang amat dimuliakan itu pernah dicuri oleh sekawanan perampok yang menyebabkan Ka’bah tanpa Hajar Aswad dalam waktu 22 tahun. Tidak saja hilangnya batu suci itu, bersamaan dengan peristiwa tersebut terjadi pula pembantaian massal jamaah haji dan penduduk Makkah secara umum. Tragis.

Para sejarawan mencatat peristiwa ini dengan detail dalam kitab-kitab tarikh mereka, seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah, Ibnul Atsir dalam Al-Kâmil fit Târîkh, Ibnu Jari ath-Thabari dalam Tarîkhul Umam wal Muluk, dan sejumlah sejarawan lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Sependek penelusuran penulis, Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah cukup objektif dan komprehensif melaporkan hal ini. Berikut kisah lengkapnya.

Sekali waktu di musim haji tahun 317 H/886 M, segerombolan perampok datang ke Makkah untuk berbuat onar. Mereka merupakan kelompok Qaramithah (termasuk Syiah Ismailiyah) di bawah pimpinan Abu Thahir Sulaiman bin Abu Said al-Husain al-Janabi. Keberadaan mereka sangat ditakuti. Mendengar namanya saja, orang-orang Makkah segera mengamankan diri masing-masing.

Kebetulan, jamaah haji dari Irak di bawah pimpinan Manshur ad-Dailami yang pada tahun ini ke Makkah menjadi sasaran empuk mereka. Tepat pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), orang-orang Qaramithah merampas seluruh harta jamaah, bahkan tak segan membantai siapa saja jamaah yang mereka temui.

Banyak jamaah yang terbunuh. Mayat-mayat mereka kemudian dibuang ke sumur Zam-Zam, ada juga yang dikubur di tanah Haram dan lokasi Masjidil Haram. Tanpa dimandikan, dikafani, ataupun dishalati.

“Tidak habis pikir, di bulan Dzulhijjah yang dimuliakan (termasuk asyhurul hurum), di tanah suci Makkah, bahkan di dekat Ka’bah, Qaramithah melakukan semua itu seolah merasa tak berdosa,” sesal Sejarawan Muslim Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah.

Abu Thahir membenarkan aksi jahatnya itu dengan legitimasi teologis: membawa nama Allah untuk melakukan pembunuhan. Bahkan dengan jumawa ia menantang tentara burung Ababil yang dulu pernah membinasakan Abrahah saat berniat menghancurkan Ka’bah.

Entah apa yang merasuki Abu Thahir dan keroco-keroco Qaramithah itu, sampai-sampai kelakuannya seperti orang kesetanan. Abu Thahir sampai memerintahkan pasukannya untuk mencopot pintu Ka'bah, merobek-robek kiswahnya dan dibagikan ke pasukannya seolah bangga merayakan kemenangan.

Ia juga menyuruh seseorang untuk menaiki bangunan suci itu dan mencopot talangnya. Karena orang itu jatuh tanpa sebab hingga meninggal, Abu Thahir membiarkan talang Ka'bah di posisinya. Hingga akhirnya ia menyuruh seseorang untuk mencongkel Hajar Aswad dari Ka'bah dan membawanya pulang. Jelas ini masalah serius bagi umat Muslim. Ka'bah tanpa batu sakral itu rasanya sangat janggal.

Merespons hal ini, Amir Kota Makkah bersama keluarga dan beberapa pengikutnya menyusul Qaramithah dan sebisa mungkin membujuk mereka agar mau mengembalikan Hajar Aswad. Sampai-sampai Amir rela memberikan seluruh hartanya asalkan batu hitam itu mau dikembalikan.

Abu Thahir tidak menggubris permohonan Sang Amir. Bahkan Amir, keluarga, dan sejumlah pengikutnya tersebut dibantai habis. Tampaknya pasukan Amir bukan apa-apa di hadapan rombongan Qaramithah yang kuat dan bengis itu.

Bersama pasukan Qaramithah, Abu Thahir dengan bangganya membawa pulang banyak harta jarahan dan Hajar Aswad di daerahnya, wilayah Hajr. Sejak saat itu Ka'bah tanpa Hajar Aswad selama 22 tahun. (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wan Nihâyah, 2015 juz 11, h. 172)

Afiliasi Fathimiyah

Naga-naganya kelompotan Qaramithah ini sebenarnya orang-orang kafir dan zindiq yang selama ini belum banyak orang tahu. Demikian Ibnu Katsir melaporkan. Mereka berafiliasi dengan kelompok Fathimiyah yang pada tahun itu berkuasa di wilayah Afrika bagian selatan tepatnya di Maroko. Pemimpin Fathimiyah itu bernama Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al-Qadah yang dijuluki Al-Mahdi.

Fathimiyah merupakan satu-satunya dinasti yang secara resmi mengadopsi cabang Syiah Ismailiyah.

Melihat track record-nya, Al-Mahdi ini sebenarnya orang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang emas dari daerah Salamiah, sebuah distrik di Suriah Barat. Ia bermigrasi ke Maroko dan mengaku sebagai seorang syarif (masih memiliki nasab ke Rasulullah) dari kalangan Fathimiyah. Pengakuannya dipercayai begitu saja oleh orang-orang Barbar dan sejumlah masyarakat lainnya.

Ia kemudian mendirikan negara yang berpusat di Kota Sijilmasa, Maroko dan membuat kota baru bernama Al-Mahdiyah, dinisbatkan pada julukannya, Al-Mahdi.

Kembalinya Hajar Aswad

Rupa-rupanya kelakuan Qaramithah ini sudah melewati batas. Sampai-sampai Al-Mahdi memarahi mereka melalui surat yang ia layangkan kepada Abu Thahir. Al-Mahdi sangat menyayangkan kecerobohan mereka. Karena, dengan demikian watak asli mereka yang selama ini tidak banyak orang tahu terbongkar sudah.

Al-Mahdi meminta Abu Thahir untuk segera mengembalikan Hajar Aswad yang dicurinya setelah 22 tahun berada dalam genggamannya. Tepat pada bulan Dzulhijjah tahun 339 H/ 908 M, Hajar Aswad kembali lagi ke pangkuan Ka'bah. (Shalih bin Muhammad az-Zamam, Nawâdirun Minat Târîkh, 2017: juz 3, h. 346)

Demikianlah kisah tragedi Qaramithah yang memilukan. Kita bersyukur, saat ini Makkah, Arab Saudi menjadi kota yang aman. Setiap tahunnya ada jutaan umat Muslim melawat ke Kota Suci itu untuk menunaikan ibadah haji dengan aman dan selamat. [yy/NU-Online]

Penulis: Muhamad Abror | Editor: Fathoni Ahmad