fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Kesalahan Ketika Thawaf

Kesalahan Ketika Thawaf1. Memulai thawaf sebelum Hajar Aswad.

Hal ini termasuk perbuatan ghuluw dalam agama. Sebagian orang mempunyai keyakinan agar lebih berhati-hati. Akan tetapi, hal ini tidak bisa diterima, karena sikap hati-hati yang benar adalah apabila kita mengikuti syari’at dan tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya.

2. Sebagian jamaah haji berpedoman dengan doa-doa khusus, terkadang mereka dipimpin oleh seseorang untuk mentalkin, kemudian mereka mengulang-ulanginya secara bersama-sama.

Hal ini tidak dibenarkan, karena dua hal. Pertama, karena di dalam thawaf tidak ada doa khusus. Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi bahwa di dalam thawaf terdapat doa khusus. Kedua, bahwa doa secara berjamaah adalah perbuatan bid’ah. Perbuatan ini mengganggu bagi orang lain yang juga sedang thawaf. Yang disyariatkan ialah setiap orang berdoa sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suaranya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Di dalam hal ini—yakni thawaf—tidak ada dzikir yang khusus dari Nabi, baik perintah atau ucapan. Beliau SAW tidak mengajarkan hal itu. Bahkan setiap orang berdoa dengan doa-doa yang masyru’ (disyariatkan). Adapun yang disebut oleh kebanyakan orang bahwa terdapat do’a tertentu di bawah Mizab dan tempat lainnya, maka hal itu sama sekali tidak ada asalnya.”

3. Sebagian jamaah haji mencium Rukun Yamani.

Hal ini merupakan kesalahan, karena Rukun Yamani hanya disentuh dengan tangan saja, tidak dicium. Yang dicium hanyalah Hajar Aswad, apabila kita mampu untuk menciumnya. Jika tidak mampu, maka diusap. Jika tidak bisa (diusap) juga, maka kita cukup dengan memberi isyarat dari jarak jauh.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Adapun Rukun Yamani, menurut pendapat yang shahih, dia tidak boleh dicium.”

Berkata Ibnul Qayyim, “Telah shahih dari Nabi SAW bahwa beliau menyentuh Rukun Yamani. Dan tidak ada yang sah dari beliau bahwa beliau menciumnya, atau mencium tangan beliau SAW setelah menyentuhnya.”

4. Sebagian jamaah haji mengerjakan thawaf dari dalam Hijir Ismail.

Dalam masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam Hijir Ismail ketika thawaf, karena sebagian besar hijir termasuk dalam area Ka’bah, padahal Allah memerintahkan untuk thawaf mengelilingi Ka’bah, bukan thawaf di dalam Ka’bah.”

5. Keyakinan sebagian orang yang thawaf, bahwa shalat dua rakaat setelah thawaf harus dikerjakan di dekat Maqam Ibrahim.

Yang benar, shalat dua rakaat setelah thawaf boleh dikerjakan dimana saja dari Masjidil Haram, dan tidak wajib untuk dikerjakan di dekat Maqam Ibrahim, sehingga tidak berdesak-desakan dan mengganggu jama’ah lainnya.

6. Ketika thawaf, sebagian jamaah haji mengusap-usap setiap yang mereka jumpai di dekat Ka’bah, seperti Maqam Ibrahim, dinding Hijir Ismail dan kain Ka’bah, dan yang lainnya.

7. Sebagian jamaah wanita berdesak-desakan ketika hendak mencium Hajar Aswad.

Padahal Allah telah berfirman, “Haji adalah pada bulan-bulan yang telah ditetapkan, barangsiapa yang mengerjakan haji, maka janganlah berbuat rafats dan berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam mengerjakan haji.” (QS Al Baqarah: 197).

Berdesak-desakan ketika haji akan menghilangkan rasa khusyuk dan akan melupakan dalam mengingat Allah. Padahal, dua hal ini termasuk maksud yang utama ketika kita thawaf.

8. Sebagian jamaah haji tetap idh-thiba’ setelah selesai thawaf dan shalat dua rakaat dalam keadaan idh-thiba’.

Nabi SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu baju yang tidak ada di atas kedua pundaknya sesuatu dari kain.” (HR Bukhari).

9. Mengeraskan niat ketika memulai thawaf.

Ibnul Qayyim, “Nabi tidak mengatakan ‘aku niatkan thawafku tujuh putaran di Ka’bah begini dan begini’. Bahkan hal ini termasuk bid’ah yang munkar.”

10. Raml (lari kecil) pada tujuh putaran seluruhnya.

Yang sunnah ialah, melakukan raml pada tiga putaran yang pertama. Adapun pada empat putaran yang terakhir berjalan seperti biasanya.

11. Keyakinan mereka bahwa Hajar Aswad bisa memberi manfaat.

Sebagian di antara jamaah haji, setelah menyentuh Hajar Aswad, mereka mengusapkan tangannya ke seluruh tubuhnya atau mengusapkan kepada anak-anak kecil yang bersama mereka. Hal ini merupakan kejahilan dan kesesatan, karena manfaat dan madharat datangnya dari Allah.

Dahulu Umar bin Khathab RA berkata, “Dan sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah batu, tidak memberi madharat dan tidak bermanfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, maka aku tidak akan menciummu.”

12. Setelah selesai shalat dua rakaat, mereka berdiri dan berdoa secara berjamaah dan dikomando oleh seseorang.

Hal ini bisa mengganggu orang lain yang sedang shalat di dekat maqam. Mereka melampaui batas ketika berdoa. Padahal Allah SWT telah berfirman, Berdoalah kepada Rabb kalian dengan khusyuk dan perlahan, sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-A’raf: 55).

Oleh Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro

Chairul Akhmad/jurnalhaji.com
Sumber: Disarikan dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H