27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Sekilas Tentang Arafah

Sekilas Tentang Arafah

Fiqhislam.com - Allah SWT berfirman, “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).

Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina) menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin berlama-lama, dia juga tidak berdosa.

Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.

Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda, “Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”

Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari Arafah.

Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’, saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti (wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah bersabda, Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah sempurna haji dan ibadahnya. (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).

Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika tiba di Arafah, Ibrahim berkata, “Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”

Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata, ‘Araftu, araftu (aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz. Wallahu’alam.

Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.

Chairul Akhmad | jurnalhaji.com

Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth