11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

4 Pengetahuan Dasar yang Lazim Dikuasai Jamaah Haji

4 Pengetahuan Dasar yang Lazim Dikuasai Jamaah Haji

Fiqhislam.com - Ibadah haji harus dibarengi dengan bekal ilmu pengetahuan seputar haji.

Dr K H Asep Zaenal Ausop, MAg dalam bukunya 'Haji Falsafah, Syariah dan Rihlah' mengatakan, sebagai tamu Allah SWT, jamaah haji harus mengetahui empat hal hal jika ingin meraih hajjan mabruran.

Pertama, mengetahui secara tepat maksud dan cara bertamu kepada Allah SWT yakni menunaikan rukun Islam yang kelima. Karena itu, jika seseorang mau berhaji sebaiknya dia memahami tertib amal rukun Islam yakni syahadat sholat, puasa, zakat, kemudian berhaji

Kedua, mengetahui tata cara (kaifiat) berhaji mulai niat di miqat sampai tawaf ifadah dan tawaf wada. Rangkaian tata cara itu disebut manasik haji, dengan begitu mereka mampu melaksanakan setiap episode ibadah haji sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

"Bukan berhaji dengan dugaan atau berdasarkan pengalaman orang lain yang pernah pergi berhaji karena pengalaman itu belum pasti benar," katanya.

Ketiga, mengetahui etika selama melaksanakan ibadah haji, antara lain selalu merendah hati dan menjauhi sikap sombong, sekecil apapun kesombongan tersebut. Dalam hal ini Allah sebagai pribumi tidak menyukai orang yang sombong. Sikap sombong adalah sangat tercela, apalagi bersikap sombong di tanah suci.

"Sungguh, sudah banyak kejadian yang memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang yang bersikap sombong ketika berhaji banyak mengalami cerita, baik fisik maupun batin," katanya.

Keempat, mengetahui dan yakin bahwa Allah sebagai 'shahib al-bait' (pemilik rumah) pasti akan menghormati dan menjamin keselamatan tamu-tamunya. Karena itu, jamaah haji tidak perlu merasa takut untuk menghadapi panas, debu, virus, dan lain-lain selama berhaji sebab semua itu adalah makhluk Allah pasti dikendalikannya.

Untuk menjelaskan agar jamaah haji tidak takut virus yang melanda, maka Kiai Asep, mengajak kita memperhatikan sebuah contoh sederhana yang bisa diabil pelajaran.

Sebut saja anda bertamu ke rumah seseorang. Di rumah itu ada seekor anjing yang menjadi peliharaannya. Ketika anjing itu melihat, dia menggonggong keras sekali sehingga hati Anda merasa takut dan anda tidak berani masuk ke dalam rumah, lalu datanglah pemilik rumah. Dia berkata kepada anjingnya "Bubby masuk! Jangan kamu ganggu orang ini."

Seketika itu pun anjing yang bernama Bubby itu menuruti perintah tuannya. Ia masuk kedalam kandang, dan dijamin tidak akan mengganggu Anda lagi.

"Hal itu gambaran sikap manusia kepada tamunya. Apalagi sikap Allah yang Maharahman dan Maharahim, Allah pasti menghormati tetamunya jauh lebih baik daripada manusia." [yy/ihram]