29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Tujuh Amalan Setara Ibadah Haji

Tujuh Amalan Setara Ibadah Haji

Fiqhislam.com - Pamerintah telah mengumumkan tahun ini tidak lagi menyelenggarakan ibadah haji. Bagi calon jamaah yang batal lagi berangkat haji tidak perlu khawatir, ada amalan amalan harian yang setara dengan ibadah haji dan umrah.

Ustaz Hanif Luthfi dalam bukunya "Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah" menuliskan ada tujuh amalan yang jika diamalkan bisa berpahala haji. Amalan ini ada yang berat dan ringan bahkan begitu ringannya semua bisa melakukannya setiap saat.

"Walau ringan, namun pahalanya sangat luar biasa," kata Ustaz Hanif Luthfi.

Pertama, umrah di bulan Ramadhan. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah pernah bertanya pada seorang wanita: "Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?". Wanita itu menjawab, "Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya ditunggangi suami dan anaknya. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut". Lantas Rasulullah SAW bersabda: "Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam lafazh Muslim disebutkan: "Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim).

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan: "Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Kedua, berbakti kepada orang tua. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata. "Ada seseorang yang mendatangi Rasululah SAW dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu. Rasulullah SAW bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia jawab, ibunya masih hidup.

Rasul pun berkata padanya, "Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 5/234/4463 dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman 6/179/7835).

Ketiga, shalat fardhu jamaah di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda, "Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

Dalam hadits lainnya, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk shalat Sunnah Dhuha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) shalat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di illiyyin (kitab catatan amal orang-orang saleh).” (HR. Abu Daud; Ahmad).

Keempat, melakukan shalat isyraq. Dalilnya adalah dari hadits dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat Sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.” (HR. Thabrani).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, menghadiri majelis ilmu di masjid. Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda, “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

Keenam, membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi SAW. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah. Nabi SAW lantas bersabda. "Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut, kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi SAW bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 843).

Abu saleh yang meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah berkata, Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin kembali menghadap Rasulullah SAW, mereka berkata.

"Saudara-saudara kami yang punya harta (orang kaya) akhirnya mendengar apa yang kami lakukan. Lantas mereka pun melakukan semisal itu.” Rasulullah SAW kemudian mengatakan, “Inilah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim).

Ketujuh, bertekad untuk berhaji. Siapa yang memiliki uzur namun punya tekad kuat dan sudah ada usaha untuk melakukannya, maka dicatat seperti melakukannya. Contohnya, ada yang sudah mendaftarkan diri untuk berhaji, namun ia meninggal dunia sebelum keberangkatan, maka ia akan mendapatkan pahala haji.

Kenapa sampai yang punya uzur terhitung melakukan amalan?

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dalam suatu peperangan (perang tabuk) kami pernah bersama Nabi SAW lalu beliau bersabda. "Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang tidak ikut melakukan perjalanan perang, juga tidak menyeberangi suatu lembah, namun mereka bersama kalian (dalam pahala). Padahal mereka tidak ikut berperang karena mendapatkan uzur sakit.” (HR. Muslim).

Dalam lafazh lain disebutkan, melainkan mereka yang terhalang sakit akan dicatat ikut serta bersama kalian dalam pahala.” Juga ada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW dalam suatu peperangan berkata, “Sesungguhnya ada beberapa orang di Madinah yang ditinggalkan tidak ikut peperangan. Namun mereka bersama kita ketika melewati suatu lereng dan lembah. Padahal mereka terhalang uzur sakit ketika itu.” (HR. Bukhari).

Sebagaimana Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.” (HR. Bukhari). [yy/ihram]