27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Ketakwaan Syarat Bekal Haji

Ketakwaan Syarat Bekal Haji

Fiqhislam.com - Bekal mesti dimiliki oleh setiap orang yang melakukan safar atau perjalanan jauh menuju Baitullah Makkah dan Madinah (Haji dan Umrah). Meski demikian sebaik-baiknya bekal dalam sebuah perjalanan adalah takwa.

"Bekal adalah suatu yang teramat penting bagi orang yang melakukan perjalanan jauh, terutama perjalanan dalam rangka menunaikan ibadah haji," kata KH Ahmad Chodro Romli dalam bukunya "Ensiklopedi Haji dan Umrah"

KH Ahmad mengatakan, bekal yang terbaik menurut Allah SWT adalah ketakwaan. Hal itu seperti diterangkan dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 197 yang artinya.

"...Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku, Hai orang-orang yang berakal."

KH Ahmad Chodri Romli mengatakan, para mufassir menerangkan bahwa Asbabun Nuzul penyebab turunnya ayat ini adalah karena ada sekelompok orang Yaman yang melakukan perjalanan ibadah haji tanpa menyediakan bekal, seraya mengatakan.

"Kami adalah orang-orang yang bertawakkal pasrah sepenuh hati kepada Allah. Bukankah kami orang yang pergi menuju rumah Tuhan sebagai tamu-Nya dan tidakkah Dia memberi makan kita?"

Ternyata di antara mereka banyak yang tak sanggup menderita dalam kesulitan hidup karena tidak kuat menahan lapar dan lain sebagainya, sehingga di antara mereka ada yang menjadi pengemis dan beban orang lain. Maka turunlah Ayat tersebut.

Walaupun demikian Allah SWT mengingatkan kita agar bekal yang dipersiapkan untuk ibadah haji itu tidak semata-mata berbentuk materi dan fisik tetapi yang tidak kalah pentingnya juga ialah bekal ketakwaan.

takwa adalah kesadaran dan kesiapan mematuhi perintah perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. Jadi, bekal takwa yang sifatnya rohani dan non fisik, implementasinya banyak sekali dan sangat luas, terpenting di antaranya adalah sebagai berikut:

Bekal Niat yang Ikhlas.

Jauh-jauh datang ke Haramain, dengan meninggalkan keluarga, anaknya yang disayangi, pekerjaan yang dicintai, mengeluarkan biaya yang sangat sedikit, tidak lain kecuali semata-mata memenuhi undangan Allah SWT untuk mendapatkan ridho-Nya.

Bekal Manasik Haji dan Umrah

Orang naik haji bukan sekedar datang ke Makkah sebagaimana umumnya para turis melakukan perjalanan ke mancanegara, lalu melakukan kegiatan menurut kemauan dan seleranya sendiri. Tetapi Haji adalah ibadah mahdhah yang terikat dengan aturan yang baku. "Ilmu pengetahuan tentang ibadah haji itulah yang disebut manasik haji," katanya.

Kesehatan Jasmani dan Rohani

Tidak sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya, haji merupakan ibadah badaniyah (ragawi) di samping ibadah maliyah (harta) dan sekaligus sebagai ibadah qalbiyah (mental). Maka kesehatan fisik sangatlah penting mengingat hampir semua rangkaian ibadah haji itu berupa perbuatan, kegiatan yang melibatkan anggota badan.

"Jadi, menjaga kesehatan dengan cara mengatur pola makan, olahraga, dan sebagainya adalah termasuk salah satu upaya memaksimalkan ibadah Haji untuk meraih nilai dan status yang mabrur," katanya. [yy/ihram]