26 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 05 Agustus 2021

basmalah.png

Tukang Sepatu Hajinya Diterima Meski tak Berangkat ke Makkah

Tukang Sepatu Hajinya Diterima Meski tak Berangkat ke Makkah

Fiqhislam.com - Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi rah. seorang ulama ahli hadits terkemuka. Selain ulama dia juga adalah seorang pengusaha sukses yang gemar menjalankan ibadah haji dan berjihad di jalan Allah.

Dikisahkan, Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny dalam bukunya "198 Kisah Haji Wali-Wali Allah", bila tahun ini Abdullah bin al-Mubarak naik haji, tahun berikutnya dia pergi berjihad. "Demikian seterusnya berselang-seling, meskipun betapa sibuknya dia," kata Abdurrahman.

Di Makkah dia juga memulai usaha dagang yang keuntungannya selalu dia bagi-bagikan kepada para muridnya dan fakir miskin di sekitar kota Makkah. Setelah membagi baginya, dia akan menghitung biji kurma yang mereka makan.

"Siapa yang paling banyak makan kurma makan diberi hadiah satu dirham olehnya setiap bijinya," katanya.

Pada suatu saat, tibalah waktu musim haji bagi Abdullah bin al-Mubarak rah. Dia berniat menunaikannya, hingga terkumpulan bekal sebesar 500 dinar. Maka diapun berangkat menuju Makkah dan menunaikan haji dengan sebaik mungkin.

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Abdullah bin al-Mubarak tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan kedua malaikat itu berdialog di antara mereka. Dalam percakapan malaikat itu, Abdulloh mendengar bahwa tak ada satupun ibadah jamaah haji yang diterima tahun ini.

Namun hanya adalah satu jamaah haji yang diterima meski dia tidak berangkat haji. Dia adalah tukang sepatu yang bernama Ali bin Al-Muwaffaq.

Percakapan dua malaikat itu sontak membuat Abdullah bin al-Mubarak terbangun dan menangis. Dia segera bergegas pergi ke damaskus untuk mencari Ali bin Al-Muwaffaq dan sesampainya di damaskus dia telusuri saentero kota dan akhirnya menemukan rumah tukang sepatu yang dimaksud.

Abdullah mengetuk pintu rumah tukang sepatu itu sampai keluar seorang laki-laki dan Abdullah langsung mengucapkan salam. Abdullah langsung bertanya kepada laki-laki yang membuka pintu itu.

"Siapa namamu dan pekerjaan apa yang engkau lakukan,?" tanya Abdullah.

"Aku Ali bin Al Muawaffaq, penjual sepatu. Siapa engkau? Jawab laki-laki tersebut keheranan dengan tingkah tamunya.

Lalu Abdullah Ibnu Mubarok menerangkan jati dirinya dan maksud kedatangannya kepada laki-laki tersebut. Setelah tahu siapa yang datang beserta maksud dan tujuannya, laki-laki itu menangis dan jatuh pingsan ketika sesudah sadar, Abdullah bin Al Mubarok memintanya agar dia menceritakan semua yang dialaminya terkait dengan keanehan kisah hajinya.

Ali bin Al-Muwaffaq bercerita, bahwa dia selama 40 tahun rindu untuk pergi haji dan telah menyisihkan uang 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini Ali memutuskan untuk berangkat haji sejak istrinya, mengandung.

Namun, pada suatu hari istrinya Ali mencium aroma makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah dan istrinya memohon kepada Ali agar dia bisa mencicipi masakan tersebut. Ali pun pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya, dan menjelaskan situasinya.

Mendadak tetangga itu menangis dan berkata. "Sudah tiga hari ini Anakku tidak makan apa-apa. Hari ini kulihat ada seekor keledai mati tergeletak, maka kami mengambilnya, memotongnya, dan memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu," kata tetangga itu.

Ali mengaku hatinya terasa terbakar mendengar kisah itu. Dia pun segera mengambil 350 dirhamnya yang rencananya digunakan untuk haji, dan memberikan kepada keluarga tersebut. "Belanjakanlah ini untuk anakmu," kata Ali.

"Demikian perjalanan hajiku," pungkas Ali Ibnu Muwaffaq kepada Ibnu Mubarok

Setelah mendengarkan cerita Ali, Abdullah Ibnu Mumbarak berkata. "Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku dan Penguasa Kerajaan surga adalah benar keputusan-Nya" ujar Abdullah bin Mubarak membenarkan mimpinya. [yy/ihram]

 

Tags: Haji | Makkah | Madinah | Mabrur