21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Cara Shalat Antar Madzhab di Masjidil Haram Pra-Saudi

Cara Shalat Antar Madzhab di Masjidil Haram Pra-SaudiFiqhislam.com - Ibnu Battuta memiliki catatan kegiatan ibadah tawaf pada  abad ke-14. "Pada acara mengelilingi Ka'bah, bangunan kubus dari bahan-bahan batuan besar yang berdiri di tengah-tengah masjid,

orang-orang Turki dan Azerbaijan berjalan bersama orang Malinke dari Sudan Barat. Orang Berber dari Atlas dengan orang India dari Gujarat.''

Saat shalat pun, masing-masing madzhab melakukannya sendiri-sendiri dalam waktu bersamaan. Ada empat madzhab, ditambah aliran Syiah, Zaydi, 'Ibadi, dan aliran-aliran lainnya. Cara lahiriah shalatnya tentu berbeda.

madzhab Imam Syafi'i, yang penganutnya di Arab sangat besar, memperoleh penghormatan besar. Imam madzhab ini dilantik oleh pemerintah. Tempat shalatnya berada di Maqm Ibrahim dan Hatim (bangunan yang melindungi sumur zamzam, tak jauh dari Maqm Ibrahim).

Jamaah dari madzhab Maliki baru akan memulai shalat di sisi dinding Rukun Yamani-Hijr Ismail jika jamaah madzhab Syafi'i telah selesai shalat. Selanjutnya, giliran jamaah madzhab Hambali, yang shalat di dinding sisi Hajar Aswad-Rukun Yamani. Jamaah madzhab Hanafi kebagian tempat menghadap ke sisi Hijr Ismail. Saat mereka shalat, lilin dinyalakan dekat tempat imam shalat berada.



Pada waktu shalat Maghrib, mereka serentak melakukan shalat. Masing-masing imam madzhab diikuti pengikutnya. Muadzin akan mengeraskan suara penanda pergantian gerak shalat. Akibatnya, ada yang keliru mengikuti suara muadzin itu.

"Para pengikut madzhab Maliki seringkali melakukan rukuk bersamaan waktunya dengan rukunya para pengikut Syafi'i,  atau pengikut Hanafi melakukan sujud bersamaan dengan sujudnya para pengikut madzhab Hambali, dan Anda melihat mereka sedang mendengarkan penuh perhatian muadzin masing-masing yang sedang melakukan doa ditujukan kepada makmumnya, sehingga ia tidak jadi korban ketakacuhan," tulis Ibnu Battuta.

Ketetapan ini diberikan untuk mengakomodasi semua madzhab, karena tak bisa memaksakan satu madzhab mengikuti madzhab lainnya. Tapi, sejak zaman kekalifahan Utsmaniah jatuh dan kemudian yang berkuasa adalah Kerajaan Arab Saudi, tak ada lagi pembedaan shalat empat madzhab di Masjidil Haram.

Di Museum Haramain, petugas museum Abdul Rahman menunjukkan kepada kami foto Masjidil Haram di tahun 1320 Hijriah (1902 Masehi). Ka'bah saat itu masih ada pagar melingkar sebagai batas tempat tawaf, dan di sisi luarnya ada bangunan-bangunan kecil menghadap ke setiap sisi Ka'bah. "Bangunan-bangunan kecil itu tempat shalat masing-masing madzhab," ujar Abdul rahman. Foto yang dibuat tahun 1372 Hijriah, masih menunjukkan kondisi yang sama.

Jika saat ini shalat bergiliran itu diberlakukan, betapa lamanya waktu yang dibutuhkan. Jamaah selalu memenuhi Masjidil Haram saat ini. Pintu masjid akan ditutup jika masjid sudah penuh atau shalat sudah berlangsung. Jamaah yang terlambat, jika ingin shalat di dalam masjid ya harus menunggu shalat selesai. [yy/ihram]